RMco.id  Rakyat Merdeka - Ketua MPR Bambang Soesatyo memastikan, tidak ada pasukan khusus Badan Intelijen Negara (BIN) seperti yang diributkan beberapa kalangan. Yang ada adalah taruna-taruni Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) yang memiliki beragam soft skill.

Akhir-akhir ini, di medsos memang ramai isu pasukan khusus BIN. Isu ini dimulai dari adanya video yang menunjukkan para taruna-taruni STIN mendemonstrasikan kemampuannya di hadapan para undangan di acara seremoni Inagurasi Peningkatan Statuta STIN dan Peresmian Patung Bung Karno di STIN, Sentul, Bogor, Rabu (9/9). Bamsoet, sapaan akrab Bambang, hadir dalam acara ini. Bamsoet menerangkan, dalam demonstrasi tersebut, taruna-taruni STIN ini menamakan dirinya Pasukan Khusus Rajawali.

Berita Terkait : Ketua MPR: Jadikan Peringatan Hari Kesaktian Pancasila untuk Terus Teguhkan Ideologi Bangsa

“Saya bangga dan mendukung penuh prestasi para taruna-taruni Sekolah Tinggi Intelijen Negara seperti yang dipertunjukan mereka secara luar biasa di hadapan saya dan para undangan khusus lainnya sebagai bentuk prestasi pencapaian puncak pendidikan mereka selama di STIN. Tidak hanya kemahiran menggunakan berbagai jenis senjata laras pendek dan laras panjang, tapi juga kemahiran menjinakkan bom, membebaskan sandera, terjun dari atas gedung memakai tali dan memperagakan kemahiran bela diri tangan kosong Tarung Derajad, menaklukan penyerang 20 orang bersenjata tajam seorang diri,” jelas politisi yang akrab disapa Bamsoet ini, Selasa (15/9).

Seharusnya, tambah Bamsoet, semua pihak bangga memiliki putra-putri dengan kemahiran yang tidak kalah dengan kemampuan badan-badan intelijen dunia yang mempunyai tim taktis. Sewaktu-waktu apabila diperlukan, mereka siap dipergunakan dalam operasi khusus oleh Kementerian Pertahanan dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) sesuai dengan amanat undang-undang.

Berita Terkait : Bamsoet Ajak Mahasiswa Pascasarjana Bantu Pecahkan Persoalan Bangsa

“Bagi saya, intelijen yang mumpuni, selain menjadi mata dan telinga negara serta mahir dalam menganalisa informasi, juga harus terampil melakukan penyusupan, penyamaran, propaganda, agitasi, provokasi, menggelar operasi rahasia dan mampu melakukan pertempuran baik perorangan sebagai pertahanan diri maupun sebagai team atau kelompok untuk melumpuhkan musuh di medan yang rumit dan sulit,” ucap Bamsoet.

Demo ketangkasan yang ditunjukan para taruna-tarini STIN kemarin, tambahnya, sangat membanggakan. Demo itu menunjukkan bahwa SDM intelijen Indonesia tidak kalah dengan kehebatan 10 intelijen terbaik dunia seperti CIA (Amerika) M16 (Inggris), GRU (Rusia), DGSE (Prancis), ISI (Pakistan), BND (Jerman), Mossad (Israel), R&AW (India), ASIS (Australia), CSIS (Kanada), dan badan intelijen dunia lainnya.

Berita Terkait : Ada Potensi Tsunami, Bamsoet Minta Pemda di Selatan Jawa Giatkan Mitigasi

Keterampilan beladiri, menjinakkan bom, membebaskan sandera, keahlian siber dan bertempur merupakan hal yang harus dikuasai seorang intelijen dalam pekerjaannya menjaga keamanan bangsa dan negara. Termasuk keterampilan dalam melumpuhkan musuh dan interograsi. Bahkan, CIA kerap melakukan berbagai eksperimen kontrol-pikiran untuk mengeksplorasi memori otak, pura-pura berkepribadian ganda, hingga kemampuan menggunakan dan menjinakan senjata biologis.

“Sekali lagi, saya bangga pada taruna-taruni STIN yang dilatih keterampilan khusus, soft skill. Sehingga tangguh dan profesional dalam melaksanakan tugasnya dengan baik, menjaga keamanan negara, menjaga NKRI sesuai amanat UUD NRI 1945,” pungkasnya. [USU]