RMco.id  Rakyat Merdeka - Ketua MPR Bambang Soesatyo menegaskan, kesuksesan penyelenggaraan Pilkada 2020 di 270 daerah dan keberhasilan penanganan pandemi Covid-19 harus sama-sama menjadi prioritas utama. Karenanya, setiap elemen masyarakat harus bertanggung jawab dan berkontribusi sesuai peran dan kemampuan masing-masing. Dibutuhkan kesamaan cara pandang dan kesadaran kolektif untuk membangun semangat solidaritas dan jiwa gotong royong dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

"Dengan adanya pandemi, tentunya tantangan yang dihadapi dalam penyelenggaraan Pilkada 2020 akan semakin pelik. Apalagi dengan heterogenitas dan kemajemukan bangsa kita, banyak faktor yang dapat memicu lahirnya konflik horizontal. Kontestasi politik di tengah himpitan kondisi perekonomian di masa pandemi, akan sangat mudah dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab," ujar Bamsoet, sapaan akrab Bambang, saat menjadi keynote speaker secara virtual dalam Diskusi 'Pilkada Berkualitas dengan Protokol Kesehatan: Utopia atau Realita?' yang diselenggarakan LHKP PP Muhammadiyah, dari ruang kerja Ketua MPR, Jakarta, Rabu (30/9).

Berita Terkait : Bamsoet: Peran TNI Dibutuhkan Hadapi Resesi dan Pandemi Covid-19

Di acara yang dihadiri Mantan Ketua KPK Busyro Muqoddas ini, Bamsoet menilai, meskipun KPU dan berbagai pihak terkait telah melakukan segala daya dan upaya demi terselenggaranya Pilkada melalui penerapan protokol kesehatan, namun kebijakan penyelenggaraan Pilkada di masa pandemi Covid-19 masih menyisakan beberapa potensi persoalan. Semisal, tingkat partisipasi pemilih, kedisiplinan penerapan protokol kesehatan, kualitas penyelenggaraan Pilkada, ketersediaan dukungan sumberdaya serta ketidakpastian implementasi Pilkada.

"Dengan masih tingginya angka persebaran Covid-19 dan belum tersedianya vaksin dalam waktu dekat, masih banyak masyarakat yang enggan dan merasa waswas untuk beraktivitas di area publik. Apalagi dalam konteks Pilkada yang melibatkan mobilisasi orang dalam skala besar di tempat pemungutan suara. Perlu sosialisasi yang memadai untuk memotivasi dan meyakinkan pemilih bahwa penyelenggara Pilkada telah didesain sedemikian rupa sehingga aman dari risiko terpapar Covid-19," kata Bamsoet.

Berita Terkait : Peluncuran Obras Senator, Bamsoet: DPD Harus Jadi Penyeimbang Tugas DPR dan Pemerintah

Hal lain yang perlu mendapat perhatian, lanjut Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini, adalah kedisiplinan penerapan protokol kesehatan. Meskipun pemungutan suara baru akan dilaksanakan pada bulan Desember 2020, namun berbagai tahapan pemilihan tentunya sudah berjalan pada bulan-bulan sebelumnya.

"Penerapan protokol kesehatan pada setiap tahapan harus tetap dilaksanakan dengan disiplin tinggi untuk meminimalkan risiko persebaran Covid-19. Khususnya, pada saat penyelenggaraan pemungutan suara. Meskipun sosialisasi mengenai pentingnya penerapan protokol kesehatan sudah dilakukan oleh berbagai pihak terkait, namun kedisiplinan untuk menerapkannya harus menjadi bagian dari protap atau standar operasional prosedur (SOP) dalam setiap tahapan Pilkada," urai Bamsoet.

Berita Terkait : Ketua MPR: Jadikan Peringatan Hari Kesaktian Pancasila untuk Terus Teguhkan Ideologi Bangsa

Wakil Ketua Umum Depinas SOKSI dan Pemuda Pancasila ini mengingatkan, guna mewujudkan penyelenggaraan Pilkada yang aman dari potensi persebaran Covid-19 di setiap daerah, diperlukan dukungan sumberdaya yang memadai. Semisal, kebutuhan alat perlindungan diri (APD), penyediaan rapid test atau RT-PCR, dukungan tenaga medis, sarana dan prasarana penunjang yang pastinya berujung pada ketersediaan dukungan anggaran.

"Perlu dipastikan kemampuan KPU dalam penyediaan sumberdaya tersebut, mengingat setiap daerah mempunyai kemampuan dukungan sumberdaya yang berbeda-beda. Menurut data Kementerian Dalam Negeri per bulan Juni 2020, untuk pelaksanaan Pilkada Serentak di masa pandemi, dari 270 daerah yang akan menyelenggarakan Pilkada, hanya ada 76 daerah yang menyatakan tidak memerlukan tambahan anggaran dari APBN maupun APBD," tutur Bamsoet.
 Selanjutnya