RMco.id  Rakyat Merdeka - Wakil Ketua DPR Rachmat Gobel akhir pekan kemarin melakukan blusukan ke Jawa Timur (Jatim). Dia bertemu dengan para pelaku usaha untuk mengetahui kondisi industri Jatim.

Gobel melakukan pertemuan dengan Forum Komunikasi Asosiasi (Forkas) Jatim. Dalam pertemuan itu, Gobel menerima oleh-oleh alias aspirasi dan keluhan dari asosiasi pengusaha.

Keluhan datang dari Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Himpunan Nelayan dan Pengusaha Perikanan (HNPP), Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI), Himpunan Aplikator Indonesia (HAPI) hingga Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP51).

HIMKI mengeluhkan soal biaya Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) yang tinggi, serta rencana impor kayu bulat (log). API Jatim meminta adanya relaksasi tarif listrik PLN atau diskon tarif listrik untuk industri.

Baca Juga : Gaet Belanda, Menteri Teten Janjikan Koperasi Petani dan Nelayan Lebih Modern

Aprisindo meminta pemerintah menghapuskan kembali ketentuan karantina pada impor bahan baku kulit. Sementara HNPP, mengeluhkan antara banyak pungutan.

Merespons hal tersebut, Gobel meminta semua anggota DPR yang hadir bersamanya menjadikan berbagai masalah itu sebagai agenda materi bahasan dengan kementerian terkait dalam rapat komisi.

Dia juga meminta staf ahli Menteri Perdagangan Bidang Pengamanan Pasar Edi Sutriono yang ikut dalam kunjungan kerja, untuk menyampaikan permasalahan tersebut kepada menteri sebagai laporan kerja resmi.

Dalam pekan ini, Gobel berjanji membahasnya secara serius dengan pihak terkait dan kementerian. Semua pihak diharapkannya tetap bersemangat, seperti keinginan presiden dan mengambil momentum untuk kebangkitan baru ekonomi dan industri nasional.

Baca Juga : PKS Pertanyakan Mundurnya Shell Dari Proyek Marsela

“Kita jangan jalan sendiri-sendiri. Harus sinergi menyelamatkan perekonomian nasional untuk keluar dari kontraksi yang lebih dalam," kata Gobel.

Terkait industri berbasis kayu olahan, kata dia, potensinya sangat besar. Bukan saja untuk meraup devisa. Tapi juga peluang menyelamatkan lapangan kerja dan industri berbasis budaya yang berkualitas.

Apalagi, kata Gobel, HIMKI berkomitmen meningkatkan ekspor mebel dan kerajinan hingga 100 persen dalam lima tahun mendatang. Peluang ini tidak boleh disia-siakan.

“Kita harus menghilangkan berbagai kendala regulasi. Minimal meninjau ulang hal-hal yang menghambat. Jangan sampai keunggulan kompetitif maupun komparatif itu justru untuk memperkuat produsen negara pesaing,” kata politisi Nasdem ini.

Baca Juga : Gelar Rapat Gabungan, MPR Matangkan Pembentukan Mahkamah Kehormatan Majelis

Selain bertemu pengusaha, Gobel juga melakukan kunjungan ke pabrik mebel dan penyamakan kulit. Sebelumnya, Gobel juga bertemu Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. [DIT]