Setop Saling Serang

Pemilu Tak Boleh Timbulkan Luka Baru

Ketua DPR Bambang Soesatyo saat membuka pertemuan Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB) yang bertema “Pemilu Mempersatukan Bangsa”, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (28/3)
Klik untuk perbesar
Ketua DPR Bambang Soesatyo saat membuka pertemuan Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB) yang bertema “Pemilu Mempersatukan Bangsa”, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (28/3)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ketua DPR Bambang Soesatyo menggugah kesadaran semua pihak untuk berkampanye secara damai. Agar pelaksanaan Pemilu 2019 tidak sampai menimbulkan luka baru di masyarakat.

Hal itu disampaikan Bamsoet, sapaan Bambang, saat membuka pertemuan Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB) yang bertema “Pemilu Mempersatukan Bangsa”, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (28/3). Acara ini dihadiri banyak tokoh. Antara lain Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Rosan Roeslani, Juru Debat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Ahmad Riza Patria, Komisioner KPU Viryan Azis, dan Anggota Wantimpres Sidarto Danusubroto.

Forum Silaturahmi Anak Bangsa ini diisi oleh anak-cucu dari tokoh-tokoh bangsa yang berselisih di awal-awal masa kemerdekaan. Namun, kini para anak-cucu tokoh tersebut telah bersatu. Bamsoet merasa tensi politik saat ini sudah terlalu panas.

Berita Terkait : Bamsoet Apresiasi Usaha Kaum Milenial Majukan UMKM

Dari hasil kunjungannya ke berbagai daerah, banyak masyarakat mengeluh lantaran lelah melihat pertikaian elite politik di televisi maupun di media sosial. Pemilu yang seharusnya dihadapi dengan adu ide dan gagasan, malah diwarnai dengan berbagai hujatan. Dia ingin, tensi ini diturunkan. Agar tidak timbul gesekan dan luka.

“Dengan mengedepankan rasa persaudaraan sebangsa, Forum Silaturahmi Anak Bangsa berhasil menutup dan menyembuhkan berbagai luka yang terjadi di awal-awal masa kemerdekaan. Jangan sampai menjelang 74 tahun kemerdekaan Indonesia, kita justru membuat dan mewarisi luka baru akibat Pemilu 2019,” ujarnya.

Politisi Partai Golkar ini mengingatkan, menjelang hari pencoblosan, fenomena saling serang, fitnah, hoaks, serta ujaran kebencian masih terus didengungkan pihak tak bertanggung jawab. Ironisnya, banyak masyarakat yang memercayai serta tidak sadar kondisi gaduh seperti itu berpotensi besar memecah belah bangsa Indonesia.

Berita Terkait : Bamsoet Dorong Empat Pilar MPR Masuk Materi Pembekalan Advokat

“Pemilu tinggal 20 hari lagi. Elite politik dan para tim kampanye capres-cawapres harus memastikan para pendukungnya menggunakan cara-cara yang bijaksana dalam berkampanye. Mari hadapi Pemilu ini dengan penuh keceriaan, bukan dengan kebencian,” serunya.

Dia menyadari, mewujudkan integrasi nasional bukanlah hal mudah. Harus dengan kerja keras dan kekompakan. Karena itu, semua pihak harus mampu melepaskan ego maupun identitas dasarnya demi satu tujuan, yakni kejayaan Indonesia. Kepentingan politik memang tidak bisa dihindarkan. Tapi, persatuan harus tetap dijaga.

“Integrasi nasional yang akan menentukan eksistensi bangsa harus dipertahankan. Alangkah mirisnya jika integrasi yang dengan susah payah diwujudkan, harus tercerai berai akibat Pemilu,” imbuhnya.

Berita Terkait : Bamsoet Beri Jempol ke MA Atas Capaian Kinerja di 2019

Untuk masyarakat, dia mengimbau agar tidak terlalu larut dengan akrobat politik yang dijalankan para elite politik. Sebab, pasca-Pemilu nanti, tidak menutup kemungkinan para elite politik yang berseberangan tadi justru akan bergabung dalam satu barisan. Jangan sampai masyarakat di akar rumput masih terjebak dalam kubangan kebencian akibat sampah kampanye yang tidak mencerdaskan.

“Kita sedang berdemokrasi yang mengedepankan rasionalitas. Bukan sedang bercinta. Karena itu, tak usah terlalu dibawa ke perasaan. Pilihlah calon yang dirasakan bisa membawa perbaikan, tanpa perlu memusuhi orang lain yang berbeda pilihan,” pungkasnya. [ONI]