RMco.id  Rakyat Merdeka - Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta memiliki pemikiran sejalan dengan KPK bahwa partai politik sangat menentukan masa depan dan keberhasilan pembangunan Indonesia yang mensejahterakan rakyat secara berkeadilan. Pria yang akrab disapa OSO ini memastikan, pihaknya mendukung langkah KPK dalam memberantas korupsi.

Hal itu disampaikan OSO dalam Konferensi Nasional Pemberantasan Korupsi 2018, yang diselenggarakan KPK, di Jakarta, kemarin. Di acara itu, OSO menyampaikan presentasi dengan judul “Partai Politik: Pengabdian atau Profesi/Sumber Penghasilan & Rahasia Melawan Korupsi”. Dalam presentasinya, Ketua DPD ini menyampaikan rahasia agar parpol berhasil melawan korupsi. Rahasia itu ternyata terletak dari hati nurani. Jika hati nurani baik, seseorang tidak bakal melakukan korupsi.

“Hati adalah harta manusia yang sangat berharga, suci, dan selalu benar. Yang membimbing umat manusia ke jalan hidup yang benar. Hati di atas segala hukum pemegang supremasi kebenaran,” paparnya. Kata OSO, tindakan korupsi untuk kepentingan mendapat harta, pengaruh dan kekuasaan secara melawan hukum merupakan kehendak rasio dan nafsu untuk mewujudkan keinginan duniawi sesaat. Keinginan ini menafikan hati nurani yang ingin memiliki kebahagiaan kekal abadi yaitu kebahagiaan dunia dan di alam nanti. 

Berita Terkait : Pesan Terakhir ONO

Citra yang dibangun dari hasil korupsi, tambah OSO, tidaklah kekal. Jika bertindak menggunakan hati, citra tadi akan menyakiti nurani. Ketabahan ketika direndahkan, diremehkan, dihina menjadi benteng yang kuat agar tidak terseret korupsi. 

“Tidak sulit melawan korupsi. Sangat mudah. Bersihkan hati. Gunakan hati nurani. Tetapkan hati. Hukum tinggal mengiringi,” jelasnya. OSO yakin, jika semua orang parpol menggunakan hati nurani dalam melaksanakan fungsi politiknya, korupsi tidak akan terjadi. Benteng pertahanannya untuk menolak korupsi akan sangat kuat. Politisi asal Kalimantan Barat ini kemudian menegaskan, pemberantasan korupsi harus didukung penuh, khususnya oleh seluruh partai politik. Yaitu dengan mengedepankan penggunaan hati nurani untuk melengkapi sistem integritas partai yang dirumuskan dan diperkenalkan oleh KPK.

Selanjutnya, OSO memaparkan motivasi seseorang menjadi kader parpol. Dalam analisisnya, ada dua motivasi. Pertama, pengabdian. Yaitu keinginan menggunakan potensi yang dimilikinya untuk memberikan kontribusi dalam pembangunan bangsa dan negara. 

Baca Juga : Kurangi Impor, Kementan Kembangkan Budidaya Bawang Putih di Probolinggo

“Dalam hal demikian, yang utama adalah kinerja dalam sikap kepatuhan. Sedangkan mengenai imbalan/pendapatan merupakan hak yang melekat secara normatif dalam fungsinya di parlemen atau di pemerintahan. Bukan suatu tujuan atau target sebagaimana halnya dalam kehidupan profesi yang memiliki nilai komersiel,” paparnya.

Kedua, penghasilan dan profesi. Yaitu keinginan untuk mendapatkan penghasilan sebagai alasan utama menempatkan sikap oportunis dan pragmatis praktis agar memperoleh penghasilan atau kekayaan. “Hal ini dapat menghilangkan atau setidaknya mengurangi sikap kepatuhan sebagai esensi dari pengabdian,” jelas OSO.

Di akhir presentasinya, OSO mengajak semua parpol untuk memukul mundur semua perilaku koruptif. Dia mengajak semua untuk menunjukkan ke publik bahwa parpol bisa menang melawan korupsi. Dengan demikian, tidak ada lagi anggota parpol yang terkena pidana korupsi.

Baca Juga : Longsor Sumedang, Korban Meninggal Bertambah Jadi 29 Dan 11 Orang Hilang

“Bangkit! Lawan korupsi. Menang! Berantas korupsi. Jaya, tak ada korupsi. Salam hati nurani,” tutupnya. [ONI]