Oesman, Sang Die Hard, Pagar Hidupnya Jokowi

Klik untuk perbesar
Sambil menggandeng tangan OSO, Presiden Jokowi tersenyum bahagia saat menghadiri bukber di kediaman OSO, beberapa waktu lalu. (Foto : Istimewa).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ini salah satu die hard-nya Jokowi. Kalau kamu bicara menjelek-jelekkan Presiden Jokowi, janganlah kabar itu sampai didengar Oesman Sapta. Akan ada masalah dengan kamu. Apalagi kalau cerita keburukan itu di hadapan dia. Oh jangan. Hindari. Dia bisa menyerang kamu. Karena kamu akan dinilai bertindak tanduk tidak pantas. 

OSO, sapaan akrabnya, ibarat pagar untuk Jokowi. Pagar yang sepagar-pagarnya. Bukan hanya pagar diam, tapi pagar hidup, yang bisa menyerang dan bertiang duri. Jadi, kalau mau mendekati Jokowi dengan tujuan memusuhi atau melawan, lewat OSO, maka kamu bakal tertusuk durinya. Terhadap musuh politik, misalnya, OSO sering menunjukkan sikap gregetan. Bawaannya pengen nabok aja. 

OSO adalah tipikal orang yang keras. Tak mau kompromi dalam soal-soal prinsip. Misal, tentang bagaimana orang harus bersikap kepada Presiden Jokowi. Dalam pandangan dia, Jokowi adalah presiden yang sangat baik. SANGAT BAIK. Lurus, sederhana, pintar dan cerdas. Keluarga Jokowi juga dinilai sangat baik. Sempurna? “Tidak ada manusia yang sempurna. Kalau saya banyak kekurangan dan kelemahannya. Tapi Jokowi sangat sedikit. Susah saya melihatnya,” kata OSO. Hal itu, disampaikan kepada Rakyat Merdeka, di rumah dinasnya, Selasa (25/6) sore. 

Saat wawancara berlangsung, dia ditemani sahabat baiknya. Seorang tokoh hebat yang tak pernah muncul di hadapan publik. Sementara di ruang tamunya, tampak sejumlah pejabat menunggu, mau bertemu dengannya. Baru pulang juga, Ketua DPR RI Bambang Soesatyo, dari rumah OSO, yang kini Wakil Ketua MPR, Ketua DPD dan Ketua Umum Partai Hanura. 

Nada bicara OSO berapi-api. Isinya pun tajam. Dia tipikal orang yang terus terang, blak-blakan. Tidak suka basa basi. Tapi seringkali ucapannya juga memancing tawa, karena dasarnya, dia suka humor. Humor politik yang bermakna. Misal, suatu saat dia pernah ngomong mau mencalonkan Wiranto jadi cawapres. Kenapa? Jawab OSO, Muhaimin yang kecil saja berani mencalonkan diri jadi wapres, apalagi Wiranto. Tapi, tentang sikap OSO pada Wiranto, belakangan ini sudah banyak yang tahu. Di meja kerjanya, sore itu, ada banyak tumpukan dokumen. Paling atas, terlihat sebuah tabloid. Laporan utamanya tentang sepak terjang dan kritikan keras kepada Wiranto.

Berita Terkait : Merevisi UU KPK, Butuh Nyali Besar Seperti Jokowi

 OSO tidak suka pada orang yang tidak mengukur diri. Apalagi kalau terlihat sok hebat atau sok cerdas di sekitaran Presiden. Bagi OSO, Presiden Jokowi itu sangat pandai dan taktis. Sekaligus rendah hati dan tidak memiliki kehendak pribadi. Sehingga siapapun pejabat, tokoh politik di sekelilingnya, harus otomatis mendukung dan membentengi Jokowi. Bukan membebaninya, apalagi mengkritik atau melawan perintahnya. Bagi OSO, Jokowi lebih pas di-support, bukan dikritik. “Saya merasa tidak pantas mengkritik Jokowi, tapi saya mengkritik orang yang justru membebani Jokowi. Kepada Jokowi, yang terbaik itu menyarankan. Memberi saran untuk menindak orang yang membebaninya,” kata OSO. 

Memang ada orang di sekitaran Presiden yang tidak sejalan atau malah membebani? Jawab OSO, “Saya kira iya (ada). Ada yang beda konsep dan tidak sejalan. Presiden pasti lebih tahu. Presiden kita ini amat cermat. Dia mendengar, melihat dan tahu, siapa saja yang tidak mendukungnya. Tapi, dia tentu tak ingin kabinetnya hancur, atau terus gonti-ganti. Presiden kita tahu ada orangnya yang tidak kerja keras. Tapi tetap dia pertahankan.” 

Pernah ada politisi yang menyebut Jokowi itu gaya kepemimpinannya kombinasi antara Soeharto dan Gus Dur. Dan OSO setuju dengan anggapan itu. “Kerasnya lebih dari Soeharto. Tapi liuknya (lentur) lebih dari Gus Dur. Kerasnya Pak Harto itu kelihatan, kalau Jokowi tidak terlihat. Gus Dur liuknya memang luar biasa. Tapi ini (Jokowi) kadang liuknya melebihi Gus Dur,” puji OSO. 

Bedanya, Jokowi tak banyak bicara, suka mendengar. Dan tidak melempar lelucon seperti Gus Dur. Kata OSO, Jokowi bisa membuat suasana, dimana orang melawak di depannya. Lalu Jokowi akan terkekeh-kekeh. Unik. 


Gaya Jokowi menghadapi lawan politik pun, membuat OSO kagum. Jokowi tak pernah terpancing, meskipun ada serangan kasar bahkan brutal kepadanya. “Kalau saya nih. Ada orang yang nyenggol, langsung saya lawan. Jokowi beda. Dia disenggol, akan minggir. Jalan pelan-pelan meliuk, eh, ujung-ujungnya, orang yang nyenggol akhirnya tetap di belakang dia. Kemampuan Jokowi menahan emosi luar biasa. Digebuki kanan kiri, dia tetap saja kerja. Dia tenang menghadapi semuanya. Jokowi itu jago menahan dirinya. Tapi jangan dikira dia diam. Ibaratnya, air laut yang tenang itu bukan berarti nggak ada buayanya, hahahaha,” kata OSO, sambil tertawa. 

Berita Terkait : SBY Tunjukkan Cinta Ke Jokowi

Apa tantangan Jokowi di periode kedua? Lima tahun ke depan, kata OSO, masalah terberatnya adalah ekstrem kanan atau kelompok radikal. Ini tidak boleh dibiarkan dan harus segera diatasi. Pola kepemimpinan Jokowi selama ini, menurut OSO, sudah bagus dan bisa mengatasi banyak masalah. Jokowi meletakkan dasar-dasar program pemerintahan yang benar, bersih dan rapi. Ke depan, saran OSO, program pembangunan perlu dibuat ada jangka 25 tahunan dan jangka panjang 50 tahunan, agar terus berkelanjutan. “Jangan sampai, ganti pemerintahan, ganti sistem lalu pembangunan tidak sejalan dengan sebelumnya,” kata OSO. 

Bukankah banyak yang mengkritik bahwa Jokowi itu dianggap disetir oleh Bu Mega? OSO menjawab cepat. “Tidak begitu. Pak Jokowi sangat menghormati Bu Mega, tapi Pak Jokowi bukan pesuruh Bu Mega. Sebagai Presiden, sepantasnya Pak Jokowi menghormati Bu Mega karena Bu Mega ketua umum partai pendukungnya yang utama.” 

OSO akan mengakhiri jabatannya sebagai Ketua DPD dan Wakil Ketua MPR, di periode ini. Apa rencana selanjutnya? Apakah akan terus mengawal Jokowi? Jawab OSO, “Saya orang yang konsisten. Selagi Pak Jokowi menjalankan programnya bagus, seperti sekarang ini, saya akan bantu. Saya support.” 

OSO lalu mengenang. Katanya, sehari sebelum pelantikan Gubernur DKI, Jokowi mengenalkan OSO pada ibunya, dan anggota keluarganya. “Saya melihat keluarga Pak Jokowi sederhana sekali. Maka, sejak saat itu saya all out untuknya. Dan Pak Jokowi konsisten. Tidak berubah sampai detik ini.” 

Cerita tentang bagaimana OSO sangat respek pada Jokowi, juga pernah diceritakan Megawati, dulu, sebelum Jokowi dilantik jadi Presiden. Saat itu sempat ada kekuatiran pimpinan MPR yang berasal dari Koalisi Merah Putih, tidak akan melantik Jokowi. Tapi, saya yakin Bang OSO sudah janji dan komitmen dengan saya. Bang OSO bilang pada saya: Kalau tidak ada yang melantik, maka saya yang akan melantik,” kata Bu Mega, menirukan OSO. Saat itu, OSO sudah menjadi Wakil Ketua MPR. 

Berita Terkait : Jokowi: Saya Senang

Menurut OSO, dia mendukung Jokowi dengan hati nuraninya. “Dukungan saya mungkin tak ada artinya untuk dia (Jokowi). Pak Jokowi mungkin juga tidak merasakannya. Tapi saya ikhlas dan tulus. Saya bukan fanatik tapi, realistis. Faktanya, tidak ada alasan untuk tidak suka pada Pak Jokowi.” 

Kata OSO, kita ini mau cari pemimpin kayak gimana lagi sih? Pak Jokowi ini, keluarganya bersih. Ambisi keluarganya nggak ada. “Dia bijak, cinta kepada rakyatnya. Rakyat bisa histeris saat ketemu Presiden. Saat saya turun ke kampung-kampung, banyak yang memuji Presiden. Saya pernah diajak Presiden ke warung kopi, turun ke pasar, mall, dan sebagainya. Dengan rakyat, Presiden selalu menyempatkan diri berhenti dan menyapa rakyatnya, seperti tidak berjarak,” katanya. 

Jokowi bahkan tidak sungkan mengunjungi siapa saja, spontan tidak direncanakan. Misal, tiba-tiba saja, Jokowi datang ke rumah OSO, suatu hari. Itu mengejutkannya. “Saya takut orang salah mengerti, dipikir saya hebat. Padahal Presiden yang hebat. Dia pandai bikin hati orang jadi luluh. Dan mana ada Presiden yang rendah hati seperti itu. Tiba-tiba mau datang ke rumah saya,” katanya. 

Begitulah OSO. Dia memang pengagum berat Jokowi. Di rumah dinasnya, OSO memajang sepeda hadiah dari Presiden Jokowi di ruang tamunya. Sepeda itu diletakkan di bawah foto OSO dan istri, yang mengenakan pakaian khas Minangkabau. Pakaian adat yang dikenakan itu dinilai terbaik saat perayaan HUT Proklamasi 17 Agustus, dua tahun lalu. Besok atau lusa, saat OSO meninggalkan kursi pejabat negara, dia janji, sikapnya akan tetap sama. Jika Jokowi tak berubah, dia pun tak akan berubah. [Margiono/Kiki/Ratna/Riki]