Kementan Galakkan Modernisasi Pertanian

DPR: Amran Jaga Masa Depan Kedaulatan Pangan

Klik untuk perbesar
Menteri Pertanian, Amran Sulaiman (Foto: Humas Kementan)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Anggota Komisi IV DPR, Endang Srikarti Handayani, menilai usaha membangun pertanian berkelanjutan yang dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) patut diapresiasi. Dengan program pembangunan pertanian berkelanjutan, Kementan telah menjaga masa depan kedaulatan serta ketahanan pangan Indonesia.

“Pertanian tidak bisa selamanya menggunakan pola lama sehingga perlu penyesuaian dengan kemajuan zaman guna meningkatkan kualitas daya saing,” kata Endang.

Endang menyoroti meningkatnya tren ekspor komoditas pertanian. Menurutnya, terobosan yang telah digagas Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, punya andil besar untuk pertumbuhan ekonomi negara. Kenaikan ekspor ini juga semakin mendekatkan Indonesia pada kedaulatan dan ketahanan pangan.

"Berarti kan hasil produksi (pertanian) di tingkat dalam negeri hasilnya memuaskan. Baru di impor, jadi kalau ekspor saja mampu, berarti di dalam negeri ketahanan pangannya kuat," ujar Endang.

Berita Terkait : Swasembada Gula Putih di Depan Mata

Kepala Biro Humas Informasi Publik, Kementerian Pertanian (Kementan), Kuntoro Boga Andri, menjelaskan, selama empat tahun terakhir pihaknya telah menyiapkan berbagai terobosan untuk meningkatkan produksi pangan nasional dan regenerasi petani menuju pertanian modern serta berkelanjutan. Salah satunya melalui pengembangan modernisasi pertanian serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) sektor pertanian.

Kuntoro menjelaskan, penyiapan pengembangan modernisasi dan peningkatan kualitas SDM di sektor pertanian tersebut sebagai adaptasi terhadap bonus demografi yang dialami banyak negara di dunia, termasuk Indonesia. "Melalui modernisasi pertanian, dibuat jadi menarik dan menguntungkan sehingga menarik minat generasi milienial menggeluti sektor pertanian sebab mampu memberikan upah seimbang atau lebih besar dengan yang bekerja di sektor non pertanian," ujar Kuntoro.


Sebagai wujud nyata pengembangan modernisasi, ucap Kuntoro, sejak 2014 Kementan telah mendistribusikan 400 ribu unit alat mesin pertanian (alsintan). Pengembangan modernisasi pertanian ini bukan hanya ditujukan menarik minat generasi milenial, namun juga untuk menghadapi revolusi industri 4.0. "Selain diharapkan menambah manfaat pendapatan ekonomi sebesar 80 persen karena menghemat biaya produksi mencapai 31 persen serta di sisi lain meningkatkan produktivitas mencapai 33 persen," kata Kuntoro.

Sedangkan untuk peningkatan kualitas SDM, Kementan telah mendirikan 10 kampus Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) yang diharapkan mampu melahirkan wirausahawan muda. “Kualitas dan materi pengajarannya pun terus diperbaiki serta disesuaikan dengan perkembangan zaman," ujarnya.
Lebih lanjut, Kuntoro mengungkapkan jumlah mahasiswa yang berminat kuliah di Polbangtan sejak 2013-2018 jumlahnya amat menanjak hingga 1.238 persen. "Pada 2013 hanya berjumlah 980 orang dan 2018 menjadi 13.111 orang," ucap Kuntoro.

Berita Terkait : Kementan Serap dan Olah Kedelai Lokal Petani Garut dan Cianjur

Guna menuju peningkatan kualitas SDM, para Sarjana dan mahasiswa dilibatkan sebagai pendamping penyuluhan dalam program UPSUS, membentuk Pemuda Tani Indonesia (GEMPITA) untuk mendorong dan mengawal program pertanian serta membangun petani inovator berjiwa wirausaha. Lainnya juga adalah melakukan pelatihan sekaligus magang kepada para start up milenial Taman Sains Pertanian (TSP) dan Taman Teknologi Pertanian (TTP) di seluruh provinsi di Indonesia.

Dekan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Jamhari mendukung terobosan modernisasi sektor pertanian yang saat ini sedang digalakkan oleh Kementan. Menurutnya, pertanian modern dapat menjadi kunci menarik minat anak muda untuk terjun ke sektor pertanian.

“Peluang di sektor pertanian itu masih sangat besar. Tapi persepsi di masyarakat itu bertani masih identik dengan pekerjaan kumuh. Padahal dengan pertanian modern, bertani bisa dilakukan tanpa perlu berkotor-kotoran,” terang Jamhari.

Menurut Jamhari, ada peluang yang bisa ditangkap oleh para calon agropreneur muda. Karena produksi pangan saat ini belum bisa memenuhi kebutuhan global. “Sekarang berebut minyak, tapi nantinya manusia akan saling berebut pangan. Karena pangan tidak lagi dibutuhkan hanya untuk konsumsi, tapi juga untuk sandang dan juga sebagai energi terbarukan, seperti biofuel,” sebut Jamhari. 

Berita Terkait : Ditjen Pangan Genjot Ekspor dan Investasi bidang Tanaman Pangan

Karena itu, Jamhari menilai terobosan Kementan dalam mendorong modernisasi pertanian demi menarik minat anak muda untuk terjun bertani sudah tepat. Bahkan menurutnya, Kementan di bawah kepemimpinan Andi Amran Sulaiman telah menunjukkan keberpihakannya terhadap petani. 


“Kebijakannya selama menjadi menteri sangat pro petani dan para pelaku usaha tani. Dari kebijakan yang membatasi ekspor, sampai berbagai upaya meningkatkan bantuan langsung ke pada petani berupa alat dan mesin pertanian serta perbaikan infrastuktur pertanian,” tandas Jamhari. [KAL]