Ekspor Peternakan Di 2018 Naik 474 Juta US Dolar

Semoga Ke Depan Petani Kita Bisa Menikmati Dolar

Klik untuk perbesar
DPP Partai Golkar, Roem Kono. (Foto : IG @roemkono.id)

RMco.id  Rakyat Merdeka - “Sekarang kinerja di sektor pertanian kita sudah luar biasa. Tinggal bagaimana kita mengatur tata kelola di sektor perdagangan dan menyediakan sumberdaya dan sarana prasarana memadai terutama di sektor birokratis. Kalau ini bisa terintegrasi dengan baik, ke depan para petani kita bisa betul-betul merasakan nikmatnya hasil ekspor dengan nilai dolar yang begitu besar saat ini,” kata Roem Kono, kemarin. 

Politisi Golkar ini mengatakan saat ini banyak komoditas pertanian yang jadi primadona di luar besar dan jadi sektor yang bisa diandalkan menambah pundi-pundi devisa negara. Di sektor peternakan saja, kata dia, antara lain berupa obat-obatan hewan, susu olahan hasil peternakan sapi, kemudian domba, hewan unggas, produk olahan unggas, telur ayam, bahkan hewan ternak babi pun ternyata diminati banyak negara terutama Singapura. Belum lagi, produk hortikultura seperti manggis, mangga, dan berbagai jenis sayuran yang juga banyak diminati di luar negeri. 

“Ini merupakan potensi yang kurang terdeteksi dari kita tapi bisa jadi andalan devisa negara. Memang kita masih impor sapi tapi jika kita bisa ekspor ternak-ternak yang dibutuhkan luar negeri seperti ayam, telur, hasil dari pada sapi itu sangat luar biasa,” lanjut dia. 

Karena itu, Roem Kono memberikan apresiasi atas kerja keras Kementerian Pertanian (Kementan) bersama para stakeholder yang telah memberikan upaya yang luar biasa dalam menggenjot produksi pertanian dalam negeri. Dia pun optimis ekspor komoditi pertanian ini bisa terus meningkat setiap tahunnya mengingat pemerintah juga akan menggelontorkan anggaran yang cukup besar melalui Dana Desa. Dia berharap dana desa ini bisa lebih diarahkan pada percepatan ekonomi masyarakat melalui sektor pertanian. 

“Walaupun sebenarnya ini sudah dilakukan Kementan dalam bentuk program-program dan anggran yang sangat signifikan pada sektor peternakan dan hortikultura, hasilnya sudah bisa dirasakan. Kita berharap lima tahun ke depan bisa berkelanjutan dan saya apresiasi kepada Menteri Pertanian yang telah bisa genjot terus menerus produksi pertanian sehingga hasilnya kini sudah bisa dirasakan,” jelas politisi asal Gorontalo ini. 

Terpisah, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan I Ketut Diarmita tegaskan bahwa ekspor di subsektor peternakan terus meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini, sejalan dengan kebijakan Kementerian Pertanian (Kementan) dalam meningkatkan daya saing dan mempermudah perizinan ekspor. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementan, volume ekspor sub sektor peternakan pada tahun 2018 sejak Januari hingga September sebesar 183.414 ton dengan nilai USD 474.193.507. Dengan demikian terhitung volume ekspor naik sebesar 52,99 persen dan sementara nilai ekspor meningkat sebesar 194 persen, jika dibandingkan dengan volume dan nilai ekspor Januari-September tahun 2017 yaitu sebesar 119.885 ton dan USD 161.171.933. 

“Kita harapkan volume dan nilai ekspor sub sektor peternakan di triwulan akhir tahun 2018 ini akan terus mengalami peningkatan,” ujar I Ketut. 

Berdasarkan data realisasi rekomendasi ekspor Ditjen PKH, capaian ekspor peternakan dan kesehatan hewan pada 3,5 tahun terakhir ini yakni periode 2015- 2018 semester I mencapai Rp 32,13 triliun. Kontribusi ekspor terbesar pada kelompok obat hewan yang mencapai Rp 21,58 triliun menembus ke 87 negara tujuan. 

Selain itu, ekspor babi ke Singapura sebesar Rp 3,05 triliun. Lalu, produk susu dan olahannya juga menghasilkan sebesar Rp 2,99 triliun menembus pasar di 31 negara. Kelompok pakan ternak asal tumbuhan menyumbang Rp 3,34 triliun masuk ke 14 negara. Beberapa produk lain seperti produk hewan non pangan, telur ayam tetas, daging dan produk olahannya, pakan ternak, kambing/domba, Day of Chicken (DOC), dan semen beku juga menyumbang devisa cukup besar tahun ini. 

“Langkah dan kebijakan Kementan dalam mewujudkan visi Indonesia menjadi Lumbung Pangan Dunia pada 2045 terus diupayakan bersama para pemangku kepentingan,” ucap I Ketut. [KAL]

RM Video