Kementan Tancap Gas Awali 2019 Dengan Ekspor Sayuran

Komisi IV DPR: Ini Bukti Kerja Nyata Amran

Klik untuk perbesar
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (berkemeja putih) bersama Anggota Komisi IV DPR Cucun Ahmad Syamsurijal (kiri), Anggota Komisi IV DPR Erislan, dan beberapa pejabat lain di sela pelepasan ekspor sayuran ke Singapura dan Brunei Darussalam, di Lembang, Bandung Barat, Jawa Barat, kemarin. (Foto : Istimewa).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Mengawali agenda kerja tahun 2019, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman langsung tancap gas menggenjot ekspor komoditas pertanian. Kamis kemarin (3/1), Menteri Amran melepas ekspor sayuran daun dari Lembang, Kabupaten Bandung Barat, ke Singapura dan Brunei Darussalam.

Pelepasan ekspor ini dihadiri banyak penjabat, dari pusat sampai daerah. Antara lain, dua, anggota Komisi IV DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal dan Erislan. Kemudian, Direktur Jenderal Hortikultura Suwandi, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Barat Hendy Jatnika, dan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bandung Barat Ida Nurhamidah. 

Amran menjelaskan, volume ekspor sayuran segar dari Bandung Barat cukup besar. Hal ini mengingat potensi pengembangan sayuran di Bandung Barat, khususnya kawaasan pertanian di Lembang, sangat luas dan subur. Dukungan dari Pemerintah, baik pusat maupun daerah, juga sangat tinggi. 

“Dari Bandung Barat, volume ekspor sayuran setahunnya mencapai 1.500 ton atau 3,5 sampai 4 ton per hari. Dulu kita impor, dari Australia dan Amerika. Sekarang, kita ekspor. Ini luar biasa. Kita membalikkan impor ke ekspor ke Singapura, Brunei Darussalam, dan Hong Kong. Ini serangan balik dari Indonesia,” demikian dikemukakan Amran saat meninjau budidaya sayuran dan melepas ekspor sayuran. Jenis sayuran daun yang diekspor meliputi komoditas Buncis Kenya, Buncis Super, Edamame, Zuchini, Kyuri, Red Oakleaf, dan Radichio. Jenis sayuran ini dapat tumbuh baik di daerah Bandung dan sekitarnya. 

Amran menjelaskan, kinerja sektor pertanian berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), akumulasi kinerja ekspor pangan sejak 2016 hingga 2018 naik 29 persen, inflasi pangan 2014 sebesar 10,57 persen turun menjadi 1,26 persen di 2017. Kemudian, investasi naik 110 persen menjadi Rp 94,2 triliun. Bahkan, kontribusi sektor pertanian meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional (PDB) naik 47,2 perden, dengan nilai Rp 1.375 triliun. 

“Ini prestasi baru sepanjang sejarah Indonesia. Ekspor kita dorong terus. Prestasi penurunan inflasi ini sulit ditemukan dalam sejarah, karena biasanya menggerakkan inflasi 0,1 sampai 0,5 persen itu sulit. Kami sudah laporkan ke Bapak Presiden bahwa sektor pertanian berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi,” jelasnya. 

Amran mengungkapkan, dengan ekspor sayuran ini semakin membuktikan bahwa Pemerintah Jokowi-JK sangat berkomitmen meningkatkan produksi dan kualitas komoditas sayuran. Artinya, tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, namun sanggup mengisi pasar luar negeri. 

“Ekspor ini pun membuktikan produk pertanian Indonesia makin diakui dan diterima di luar negeri. Ke depan, untuk meningkatkan produksi dan volume ekspor, kami bantu bibit dan lainnya. Bahkan kami rekrut petani milenial, target 1 juta petani,” janjinya. Ada pun harga sayuran asal Indonesia di pasar ekspor rata-rata 3,5 dollar Singapura per kilogram. “Tentu ini menjadi nilai tambah bagi petani sayuran agar makin sejahtera,” sambung Amran. 

Direktur Jenderal Hortikultura Suwandi menambahkan, ekspor hortikultura pada periode Januari-Desember 2018 naik 11,92 persen dibanding periode yang sama di 2017. Pada periode tersebut, ekspor sayuran naik 4,8 persen dan ekspor buah naik signifikan 26,27 persen. 

“Jenis buah yang banyak diekspor antara lain nanas, pisang, dan manggis. Neraca perdagangan durian kita pada periode tersebut untuk pertama kalinya mencatatkan rekor surplus setelah beberapa tahun selalu defisit,” ujarnya. “Kemudian, volume ekspor tanaman hias juga naik 7,03 persen. Nilai ekspor hortikultura sepanjang Januari-November 2018 mencapai Rp 5,69 Triliun,” tambah Suwandi. 

Anggota Komisi IV DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal mengaparesiasi kinerja ekspor pangan yang dicapai selama di era Pemerintahan Jokowi-JK. Kata Cucun, hal ini merupakan buah dari inovasi pertanian yang dilakukan Kementan seperti teknologi benih dan pembangian alat mesin pertanian (alsintan). Bahkan capaian ekspor naik 29 persen dan penurunan inflasi 1,26 persen merupakan wujud nyata penggunaan APBNsektor pertanian. 

“Ekspor yang meningkat ini sudah menopang devisa yang masuk ke Indonesia. Jadi, kita tidak terus-terusan impor pangan lagi. Malah pasokan pangan negara lain kita bisa penuhi. Ke depan, mudah-mudahan Indonesia menjadi lumbung pangan Asia bahkan dunia bisa terwujud,” ujar Ketua Fraksi PKB DPR ini. Cucun menyatakan, kinerja ekspor pangan saat ini sudah sesuai harapan. Begitu pun terkait dapat ditekannya angka inflasi, penyumbang terbesarnya dari sektor pertanian. 

“Awalnya saya pesimis ketika menghitung asumsi makro APBN2019, betul enggak Menteri Keuangan berani menahan inflasi di angka 3 persen. Ternyata dibuktikan penyumbang terbesarnya dari sektor pangan. Bayangkan, dari 10,5 dapat diturunkan menjadi 1,26 persen. Ini luar biasa. Salah satu kerja nyata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman,” pujinya. 

Anggota Komisi IV DPR RI Erislan ikut bangga dengan kinerja pertanian saat ini. Selain capaian ekspor yang mengalami peningkatan dan berhasil membalikkan impor ke ekspor, juga menyambut baik program Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman untuk berdaulat benih. “Saya menyambut baik kerja Menteri Amran yang mau mengembangkan bibit sendiri. Kami pun mendukung kinerjanya yang terus dorong ekspor,” akuinya. [KAL/TIM]

RM Video