Tingkatkan Kesejahteraan Petani

Segera Terapkan Hilirisasi Pertanian

Klik untuk perbesar
Wakil Ketua Komisi IV DPR, Daniel Johan. (Foto : Istimewa).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Wakil Ketua Komisi IV DPR Daniel Johan bangga dengan melejitnya angka Produk Domestik Bruto (PDB) bidang pertanian yang mencapai 47 persen. Tingginya PDB tersebut membuktikan keberhasilan pemerintahan Jokowi dalam meningkatkan taraf hidup petani. 

Politisi muda PKB ini pun mendorong agar kenaikan PDB ini bisa mendorong hilirisasi pertanian. Dengan begitu, akan menaikkan nilai tambah bagi petani. Kesejahteraan petani pun akan semakin meningkat. “Ke depan, harus dipikirkan bagaimana mewujudkan hilirisasi petani. Agar petani tidak sekadar jual bahan baku , tapi juga harus menguasai dan memiliki industri pangan pertanian. Agar nilai tambah pertanian kembali ke petani,” kata Daniel, kemarin. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), PDB sektor pertanian terus naik. Di 2013 nilainya baru Rp 994,8 triliun. Di 2017, angkanya sudah mencapai Rp 1.344,7 triliun atau naik sebesar Rp 350 triliun. Bahkan selama periode 2013-2017, akumulasi tambahan nilai PDB sektor pertanian mencapai Rp 1.375 triliun atau naik 47 persen dibandingkan 2013. 

“Saya kira, ini sangat membanggakan. Ini menjadi salah satu prestasi Presiden Jokowi,” tutur Daniel. Di tempat terpisah, ahli padi Indonesia Soemitro yakin, produksi padi pada April 2019 diperkirakan akan meningkat drastis. Kenaikannya mencapai 30 juta ton gabah kering giling (GKG) atau senilai Rp 150 triliun. 

Soemitro memprediksi ini berdasarkan elnino. Kata dia, di 2018, elnino yang terjadi di Indonesia masuk kategori kuat. Identik den¬gan yang terjadi di 2015. Setelah elnino tersebut, biasanya terjadi peningkatan produksi. “Produksi padi tahun 2016 terjadi peningkatan karena elnino tahun 2015. Hal ini membuat terjadinya pergeseran tanam dari Oktober 2015-Maret 2016 menjadi Januari-April 2016,” terang Soemitro. 

Dengan pergeseran masa menjadi Januari-April, kata dia, petani akan memanfaatkan tujuh keajaiban solar energi yang memicu produksi mengalami kenaikan tiga kali lipat. Ketujuh keajaiban itu adalah tanaman yang bebas hama, proses penyerbukan sempurna, proses asimilasi fotosintesis yang sukses sehingga mencegah munculnya parasit, efesiensi pemupukan meningkat empat kali lipat, proses pengeringan gabah lebih mudah dan murah, gabah yang dihasilkan berkualitas premium, dan harga jual lebih tinggi. Dia juga memperkirakan akan ada penambahan luas untuk Januari-April 2019 sebesar 5 juta. 

“Kenaikannya saja 30 juta ton (GKG), atau setara Rp 150 triliun. Inilah bentuk pergeseran dari green revolution menjadi gold revolution,” urainya. 

Kepala Balai Balai Besar Penelitian Padi (BB Padi) Priatna Sasmita juga yakin akan terjadi peningkatan produksi. Peningkatan ini didorong tiga faktor. Yaitu faktor genetik, faktor lingkungan, serta interaksi faktor genetik dengan lingkungan. “Tiga faktor ini penentu produktivitas padi di 2019 meningkat,” katanya. 

Kata Priatna, upaya peningkatan produksi dari aspek genetik sudah dilakukan hampir semua petani di Indonesia. Yaitu melalui penggunaan berbagai varietas unggul potensi hasil tinggi yang telah teruji di masing-masing sentra. “Serta dengan melakukan pengelolaan lingkungan melalui perbaikan berbagai teknologi budidaya dan adaptasi spesifik lokasi (menginteraksikan kedua faktor varietas dan lingkungan),” kata Priatna. [KAL]

RM Video