Wakil Ketua MPR Cerita Barack Obama

Demokrasi Kita Sedang Menuju Sebuah Titik Ideal

Klik untuk perbesar
Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid saat Sosialisasi Empat Pilar MPR di kalangan masyarakat Tebet, di Aula Masjid Al Ikhlas, Menteng Dalam Tebet, Jakarta Selatan, kemarin.

RMco.id  Rakyat Merdeka - Wakil Ketua MPR Mahyudin optimistis melihat perkembangan demokrasi yang terjadi di Indonesia. Bagi politisi Partai Golkar ini, demokrasi Indonesia sedang menuju titik ideal. Salah satu indikator demokrasi Indonesia sedang menuju ideal adalah dilaksanakan Pilpres secara langsung.

Dengan sistem seperti ini, setiap anak bangsa punya peluang untuk menjadi presiden. "Dulu, presiden dipilih anggota MPR. Sekarang, dipilih langsung oleh rakyat. Dalam Pemilu Presiden, masa jabatan seseorang untuk menjadi presiden dibatasi dua periode. Berbeda pada masa sebelum era reformasi," ungkapnya dalam Empat Pilar MPR, di Aula Serbaguna Kantor Camat Loa Janan, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, kemarin. 

Mahyudin kemudian menceritakan perjalanan Barack Obama, yang berasal dari kalangan minoritas di Amerika Serikat, bisa menjadi presiden di negara adikuasa tersebut. Nah, di Indonesia juga saat ini seperti itu. Dia yakin, di suatu saat, ada presiden Indonesia yang datang dari kelompok kecil. Tidak selalu dari Jawa.

Berita Terkait : Kemajemukan Adalah Takdir Bangsa Indonesia


"Bisa saja nanti ada presiden dari Kalimantan Timur. Mungkin ia dari pelajar yang hadir dalam acara ini," katanya.

Soal Pilpres saat ini, ia berharap agar masyarakat menggunakan hak pilihnya dengan cara elegan. Tanpa mencaci maki, memfitnah, dan menyebar hoaks kepada calon presiden. "Mau memilih siapa saja, silakan," ucapnya.

Ikut Pemilu Sama Seperti  Perang Lawan Penjajah

Berita Terkait : Wakil Ketua MPR : Demokrasi Kita Sedang Menuju Titik Ideal

Di tempat terpisah, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid mengajak umat Islam berpartisipasi aktif dalam Pemilu nanti. Sebab, ikut memilih dalam Pemilu merupakan salah satu bentuk upaya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menurut politisi yang akrab disapa HNW ini, ikut Pemilu saat ini nilainya sama seperti perjuangan pahlawan zaman dulu dalam merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan para penjajah.


"Negara ini lahir berkat perjuangan para ulama dan pejuang-pejuang lainnya. Karena itu, kita harus jaga. Agar bisa diwariskan pada generasi yang akan datang," ucap Hidayat saat memberikan Sosialisasi Empat Pilar MPR di kalangan masyarakat Tebet, di Aula Masjid Al Ikhlas, Jalan Raya Mandala I, Menteng Dalam Tebet, Jakarta Selatan, kemarin. Sosialisasi terlaksana berkat kerja sama MPR dengan Perguruan Silat Gerak Oray Indonesia. 

Untuk masyarakat Muslim, kata Hidayat, menjaga keutuhan NKRI itu sangat penting. Sebab, masyarakat Muslim punya saham besar dalam membentuk NKRI. Sebagian besar pejuang melawan penjajah adalah umat Muslim.

Berita Terkait : Tantangan Menyejahterakan Masyarakat, Perpecahan & Korupsi

Sayangnya, sesal dia, saat ini banyak stigma kurang baik terhadap umat Muslim. Bahkan ada ketakutan dari sebagian masyarakat terhadap kekuatan umat Muslim. Salah satunya, takut dengan teriakan takbir.  Padahal, kata Hidayat, takbir adalah sesuatu yang baik. Takbir bagian dari panggilan salat. Setiap hari, lima kali azan berkumandang, yang di dalamnya ada takbir. Selain itu, pada zaman perjuangan, takbir merupakan penyemangat bagi pejuang untuk terus maju, tanpa rasa takut. 

"Banyak yang masih salah mengartikan takbir. Padahal, dulu Bung Tomo mengumandangkan takbir untuk  memberi semangat kepada para pejuang. Agar tak gentar menuju edan laga", kata mantan Presiden PKS ini.


Pada kesempatan itu, Hidayat juga mengingatkan agar umat Islam senantiasa menjaga persatuan bangsa. Bangsa ini jangan sampai terpecah belah seperti negara Uni Soviet. Kebhinekaan yang dimiliki bangsa Indonesia adalah anugerah. "Itu harus disyukuri dengan cara menjaga persatuan dan kesatuan bangsa," tandasnya. [ONI]

RM Video