DPR Rayu Jerman Tambah Investasi Di Indonesia

Klik untuk perbesar
Ketua DPR Bambang Soesatyo (kedua kanan), Wakil Ketua DPR Agus Hermanto (kanan) dan Duta Besar Jerman untuk Indonesia Peter Schoof berbincang usai pertemuan, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, kemarin.

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ketua DPR mengajak Jerman, sebagai salah satu negara dengan ekonomi terkuat di Eropa, meningkatkan investasinya di Indonesia. Khususnya, pada sektor manufaktur.

Ajakan politisi yang akrab disapa Bamsoet itu disampaikan saat menerima Duta Besar Jerman untuk Indonesia Peter Schoof, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, kemarin. Schoof datang ke DPR ditemani Kepala Bidang Politik Kedutaan Jerman Martin Eberts dan Wakil Kepala Bidang Politik Kedutaan Jerman Jans Hoch. Bamsoet menerima mereka dengan didampingi Wakil Ketua DPR Agus Hermanto dan Wakil Ketua Komisi I DPR Asril Hamzah Tanjung.

“Presiden Joko Widodo dua kali berkunjung ke Jerman, pada 2016 dan 2017. DPR senantiasa mendukung berbagai kesepakatan yang telah dicapai kedua negara untuk memperkuat kerja sama bilateral, terutama di bidang ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pendidikan,” ujar Bamsoet.

Berita Terkait : Ketua DPR: Figur Menteri Kabinet Baru Mengacu pada ‘Visi Indonesia’


Pada 2017, Jerman berinvestasi di Indonesia pada 108 proyek manufaktur. Nilai mencapai 79,3 juta dolar AS. Proyek investasi Jerman tersebut didominasi sektor industri baja dan mesin, kimia dan farmasi, serta otomotif.

Politisi Partai Golkar menekankan, peningkatan investasi Jerman di Indonesia sangat penting guna mengimbangi defisit perdagangan. Kementerian Perdagangan mencatat, pada 2016, defisit perdagangan Indonesia dengan Jerman mencapai 520,8 juta dolar AS. Di 2017, defisit naik menjadi 869,8 juta dolar AS. Kemudian, di 2018 defisit mencapai lebih dari 1 miliar dolar AS.

“Di 2019 ini, DPR berharap defisit tersebut bisa diperkecil. Jerman harus bisa memberikan kemudahan atas masuknya berbagai barang ekspor unggulan Indonesia. Seperti minyak kelapa sawit, alas kaki, peralatan elektronik, pakaian dan asesoris pakaian, karet dan produk dari karet, mesin-mesin mekanik, kopi, teh, rempah-rempah, alat fotografi, serta kayu dan mebel. Kerja sama berkeadilan harus menjadi semangat dalam membangun hubungan dagang Indonesia-Jerman,” paparnya.

Berita Terkait : Festival Indonesia di Rusia Efektif Genjot Perdagangan dan Investasi

Bamsoet juga menyambut positif kerja sama antara German Research Center for Geosciences dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam pengembangan pengembangan energi panas bumi. Pada Januari 2019, pihak Jerman telah melakukan serah terima Asset Pilot Plant PLTP Binary Cycle 500 Kilowatt ke Pemerintah Indonesia, di Tomohon, Sulawesi Utara.


“Sebagai wilayah yang berada di ring of fire, Indonesia memiliki potensi geotermal sangat besar, mencapai 29.215 gigawatt electric. Pemanfaatannya bisa mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil serta membantu pencapaian target emisi dan kelestarian lingkungan. Kita mengundang Jerman untuk lebih ambil bagian lagi terhadap pemanfaatan geotermal tersebut dengan mengedepankan prinsip keadilan dan saling menguntungkan,” ajak Bamsoet.

Wakil Ketua Umum KADIN ini menyatakan, tidak selamanya negara-negara di dunia bergantung pada bahan bakar fosil. Sebab, jumlahnya makin berkurang. Untuk itu, Indonesia mulai fokus mengembangkan mobil dan motor listrik. Rencananya, Maret 2019 ini, PT Gesits Technologies Indo (GTI) bersama Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya akan meluncurkan motor listrik generasi pertama karya anak bangsa, yang diberi nama Gesit.

Berita Terkait : Bara JP Siap Kawal Visi Indonesia Jokowi

“Untuk pembuatan mobil listrik, Indonesia masih perlu banyak tahapan yang harus dilalui. Sebagai negara yang juga fokus pada renewable energy, Jerman bisa berkolaborasi dengan Indonesia dalam pembuatan mobil listrik. Kita bisa saling alih teknologi dan melengkapi satu sama lain,” tandasnya. [ONI]

RM Video