Soal Data Pangan, DPR Minta Pemerintah Kompak

Klik untuk perbesar
Stok beras di gudang Bulog. (Foto : istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Anggota Komisi IV DPR Sulaeman El Hamzah meminta Pemerintah kompak dalam urusan data pangan. Jangan lagi saling klaim seperti selama ini. Tiap kementerian/lembaga punya data beda-beda. Sebab, kondisi tersebut bisa menimbulkan keresehan sampai polemik impor.

“Data tidak akurat ini karena memang saling klaim. Pihak yang melakukan produksi di lapangan menyatakan produksi lebih. Sementara di lapangan stok pangan kita kurang,” kata Sulaeman, di Jakarta, kemarin.

Perbedaan data pangan ini, lanjut Sulaeman, sering membuat masyarakat bingung. Makanya, Pemerintah harus memvalidasi. Data yang dihasilkan harus benar-benar valid dan tidak memicu kontroversi.

Berita Terkait : Soal Petisi, Samad Minta Pimpinan KPK Jangan Loyo


Anggota Komisi III DPR Romahurmuziy ikut bersuara. Ketua Umum PPP ini menyebut, kebijakan impor pangan yang dilakukan Pemerintah masih bisa dibenarkan selama diputuskan dalam rapat kabinet dan bertujuan untuk menstabilkan harga.

“Impor, di mana pun di seluruh dunia, merupakan bagian dari upaya Pemerintah menekan gejolak harga. Agar tidak terjadi pa- da kenaikan harga yang berimbas kepada tergerusnya daya beli masyarakat,” katanya.

Makanya, dia meminta masalah impor pangan tidak dikaitkaitkan dengan perburuan rente. Impor pangan yang dilakukan selama ini semata-mata mencegah harga pangan bergejolak. “Jadi, impor ini untuk menjaga daya beli masyarakat. Harga itu cerminan dari ekonomi riil antara keseimbangan supply dan demand,” tambah dia.

Berita Terkait : 3 Faktor Ini Bikin Pembahasan RUU Minol Mentok

 Di tempat terpisah, Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) Suwandi menjelaskan bahwa pihaknya terus menggenjot produksi pangan. Bukan cuma untuk kebutuhan dalam negeri, tapi juga untuk ekspor. Salah satu yang sedang digenjot untuk ekspor adalah salak.


Saat ini, kata Suwandi, permintaan salak dari pasar internasional terus meningkat. Yang diminati antara lain salak pondoh, nglumut, padang sidempuan, dan sari intan 48. “Karena itu, kami terus mendorong ekspor salak untuk mengisi pasar di Asia dan beberapa negara lainnya,” katanya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor salak naik cukup besar. Sepanjang 2018, ekspornya 1.233 ton, atau naik 28 persen dibandingkan 2017 yang sebesar 965 ton. Negara tujuan ekspornya adalah China, Kamboja, Malaysia, Singapura, Thailand, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Timor Leste, Belanda, Qatar, Hong Kong, Jerman, dan Inggris.

Berita Terkait : Soal Pengelolaan Dana Kelurahan, Pemda dan Pemerintah Pusat Belum Sepaham

“Lahan salak 2018 seluas 23.204 hektar den- gan produksi 983 ribu ton. Lahan itu tersebar di Sleman, Magelang, Banjarnegara, Tapanuli Selatan, Karangasem, dan daerah lainnya,” tuturnya.

Pihak daerah berharap, kinerja Kementan ini bisa meningkatkan ekspor salak menjadi lebih besar lagi. Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Sleman Edy Sri Harnanto menjelaskaan, di daerahnya terdapat 2.300 hektar lahan salak yang melibatkan 11.500 rumah tangga. Produksinya mencapai 10 kilogram per pohon per panen. Jenisnya yakni salak pondoh super kualitas ekspor dan pondoh menggala untuk pasar domestik. [KAL]

RM Video