Di Indonesia, Tak Ada Istilah Warga Kelas 2

Klik untuk perbesar
Anggota Fraksi PDIP MPR Masinton PasaribuĀ (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Anggota Fraksi PDIP MPR Masinton Pasaribu memastikan bahwa semua suku, agama, keyakinan, dan golongan di bangsa ini memiliki hak yang sama. Mereka tidak boleh dibeda-bedakan. Sebab, bangsa Indonesia dibentuk untuk semua.

Hal ini disampaikan Masinton saat berbicara di diskusi Empat Pilar MPR yang bertema, “Merawat Kebhinnekaan Indonesia”, di Media Center Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, kemarin. Pembicara lain di diskusi ini adalah Juru Bicara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Nabil Haroen dan pengamat politik Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago.

Masinton menegaskan, bangsa Indonesia lahir dari konsensus bersama. “Sejak awal, negara kita dirancang untuk semua. Baik berbagai suku, adat istiadat, agama, atau keyakinan yang berbeda. Karena itu, sesungguhnya kita tidak mengenal warga negara kelas dua. Semuanya sama. Sebab, negara ini didirikan untuk semua,” tegas anggota Komisi III DPR ini.

Berita Terkait : Deputi Kemenpora : Pancasila Adalah Kekuatan Bangsa

Dari sisi Ormas, kata Masinton, NU dan Muhammadiyah bisa disebut sebagai “pemilik saham” terbesar bangsa ini. Peran kedua Ormas tersebut sangat penting dalam usaha memerdekakan bangsa Indonesia. Kedua Ormas ini juga turut membangun Indonesia sejak awal kemerdekaan sampai sekarang. Karena “memiliki saham” terbesar bangsa ini, NU dan Muhammadiyah juga punya tanggung jawab untuk terus menjaga bangsa ini.

“NU dan Muhammadiyah punya kewajiban menjaga bangsa dan negara ini langgeng dengan prinsip kebangsaan. Yaitu negara untuk semua, meskipun memiliki latar belakang yang berbeda,” ujar mantan aktivis mahasiswa ini.

Dia kemudian mengingatkan bahwa saat ini ada upaya dari sekelompok kecil untuk menghilangkan kebhinnekaan tersebut. Kelompok itu ingin semua seragam. “Misalnya, kasus bom bunuh diri,” imbuhnya.

Berita Terkait : Wuling Indonesia Ekspor Perdana Ke ASEAN

Untuk melawan upaya tersebut, sambungnya, semua pihak harus berpegang teguh ke Pancasila. Dengan Pancasila, Masinton yakin, kebhinnekaan Indonesia tetap terjaga. Nabil Haroen juga berbicara mengenai upaya sekelompok orang yang ingin menghilangkan kebhinnekaan. Kelompok tersebut membuat polarisasi yang tajam di tengah masyarakat.

“Tidak hanya saat Pemilu Presiden (Pilpres). Ini sudah ada sebelumnya. Mereka ingin memecah belah dan mengkotak-kotakkan, sehingga terjadi benturan-benturan di masyarakat,” ungkapnya.

Dia pun memastikan, NU tidak akan diam. NU akan selalu dan terus berjuang menjaga NKRI. Dari sejarah NU, mulai dari prakemerdekaan sampai sekarang, komitmen terhadap Indonesia tetap sama. “Sampai kapan pun, NU dan badan-badan di bawahnya akan selalu menjaga kebhinnekaan Indonesia,” tuturnya.[ONI]

RM Video