Ajakan Ketua DPR Ke Forum Silaturahmi Anak Bangsa

Yuk, Redam Potensi Konflik Di Pemilu!

Klik untuk perbesar
Ketua DPR Bambang Soesatyo (Foto: Dok. Humas)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pertikaian antara anak bangsa di masa lalu Jangan diungkit-ungkit lagi. Apalagi diwariskan ke generasi sekarang. Yang diperlukan saat ini adalah menebarkan benih perdamaian dan meredam potensi konflik baru.

Demikian disampaikan Ketua DPR Bambang Soesatyo saat menerima Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB), di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, kemarin. FSAB merupakan organisasi yang diisi anak cucu dari tokoh gerakan masa lalu. Mulai dari Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), Pemerintah Darurat Republik Indonesa (PDRI), Perjuangan Rakyat Semesta (PERMESTA), Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), maupun Gerakan 30 S/ PKI.


Pengurus FSAB yang hadir di pertemuan itu antara lain Suryo Susilo (Ketua Umum), Robert M Siahaan (Sekretaris), Gusti Ayu Made Sadrinimanik (Wakil Sekretaris), Agustanzil Sjahroezah (LITBANG), Nina Pane (Bidang Sosialisasi dan Kemitraan), Djoko Poerwongemboro (Badan Penasehat), dan Eko Soepardjo (Badan Penasehat). Organisasi ini didirikan 2003. Kini, organisasi ini tengah berusaha menebar perdamaian di antara anak bangsa. Bamsoet, sapaan Bambang, memastikan mendukung penuh upaya FSAB itu.

Berita Terkait : Ketua DPR Apresiasi Keberhasilan TNI-Polri Amankan Pemilu

“FSAB telah menjadi landasan bagi bangsa Indonesia bahwa konflik yang terjadi di masa lalu tak boleh diwariskan ke generasi selanjutnya. FSAB telah membuktikan bahwa benih-benih konflik antar-anak bangsa sebenarnya bisa diredam dan diselesaikan. Kuncinya, semua pihak mau bersikap terbuka dan membangun dialog untuk menciptakan saling kesepahaman,” ujarnya.

Politisi Partai Golkar kemudian memuji motto FSAB. Yaitu, “Berhenti Mewarisi Konflik dan Tidak Membuat Konflik Baru”.


Baginya, motto ini memberikan inspirasi ke segenap elemen bangsa tentang indahnya merawat perdamaian ketimbang terus-menerus memelihara dendam. Bamsoet lalu mengambil contoh hubungan Amelia Yani (putri Pahlawan Revolusi Jenderal Ahmad Yani) dan Ilham Aidit (putra tokoh PKI DN Aidit). Keduanya tergabung dalam FSAB. Keduanya bisa membangun hubungan baik. Padahal, di masa lalu, kedua orang tua mereka terlibat konflik.

Berita Terkait : Bangsa Indonesia Matang Dalam Berpolitik Dan Berdemokrasi

Menurut Bamsoet, hal itu menunjukkan bahwa FSAB sudah sukses menyetop konflik warisan masa lalu. Namun, tidak berarti tugas FSAB selesai. Bamsoet mengajak FSAB membendung berbagai potensi konflik yang terjadi hari ini akibat sengitnya pertarungan politik dalam Pemilu. Agar konflik itu membesar di kemudian hari. FSAB bisa menginspirasi bangsa Indonesia agar perbedaan pilihan yang ada tidak menghancurkan dan memecah belah persatuan bangsa.

“Pemilu bukan ajang perang untuk saling menghabisi satu sama lain. Pemilu adalah kegiatan kenegaraan dan kebangsaan yang dilakukan secara berkala lima tahun sekali. Mari kita sambut dengan suka cita. Bukan dengan semangat kebencian atau permusuhan,” serunya.


Ajakan Bamsoet ini ditanggapi positif para pengurus FSAB. “Kepada saudara sebangsa yang sudah terlanjur larut dalam pertikaian akibat Pemilu, kami mengimbau sudah waktunya kita kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Pemilu seharusnya justru semakin mendewasakan kita bahwa perbedaan pilihan adalah hal bisa. Persaudaraan sebangsa adalah selamanya,” ucap Ketua Umum FSAB Suryo Susilo. [ONI]

RM Video