DPD Pede, Tak Ada Gejolak Harga Pangan Jelang Ramadan

Klik untuk perbesar
Wakil Ketua Komite II DPD Parlindungan Purba (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Wakil Ketua Komite II DPD Parlindungan Purba optimistis, pasokan maupun harga bahan pangan menjelang Ramadan tahun ini bakal lebih baik. Hasil pantauannya menunjukkan, pasokan bahan pangan melimpah. Tim Pengendali Inflasi Pemerintah juga semakin solid.

“Saya pikir, kondisi bahan pokok (jelang Ramadan) terpantau stabil. Itu karena terobosan Pemerintah dalam pengendalian (inflasi) semakin bagus. Apalagi gerak-gerik mafia pangan saat ini semakin sempit,” kata senator asal Sumatera Utara ini.

Menurut Parlindungan, kondisi ini tidak lepas dari kerja Kementerian Pertanian (Kementan) untuk memastikan para petani tetap terpacu dalam meningkatkan produksi pangan utama. Seperti beras, cabe, dan bahan pokok lainnya. Setiap gejolak harga yang terjadi di masyarakat juga langsung diantisipasi. Salah satunya melalui operasi pasar. 

Berita Terkait : Kementan, DPR, KPPU, KPK, Satgas Pangan, Kompak Wujudkan Swasembada 2021


Dengan kondisi ini, Perlindungan yakin tidak akan terjadi gejolak harga menjelang Ramadan. Harga pangan akan stabil dan terjaga seperti dalam dua kali Ramadan sebelumnya. 

“Saya pikir Pemerintah sekarang sudah semakin siap. Karena sudah ada Tim Pengendali dari Kementerian Pertanian, Bulog, dan Kepolisian. Makanya, sekarang inflasi bisa ditekan. Sekarang yang mesti ditingkatkan adalah kerja sama dengan Pemerintah Daerah. Karena di daerah ini juga punya tim yang namanya TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah),” tambah dia.

Kapal Khusus Ternak

Berita Terkait : Modalnya Memang Gede, Tapi Tanam Bawang Putih Sangat Menguntungkan

Di tempat terpisah, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Kementan Fini Murfiani menegaskan, pihaknya akan terus berusaha menekan disparitas harga yang terjadi antarwilayah kepulauan. Salah satu caranya melalui program tol laut. 


Fini menjelaskan, wilayah bagian timur Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat besar untuk dikembangkan. Seperti Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang merupakan daerah sentra produksi sapi.

“Selama ini NTT telah menjadi penyangga kebutuhan daging sapi di daerah konsumen. Seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Kalimantan Timur. Adapun NTB banyak berkontribusi untuk pemenuhan kebutuhan sapi kurban” ungkap Fini.

Berita Terkait : Meski Masih Jauh, Kementan Sudah Ancang-Ancang Amankan Pasokan Cabe untuk Idul Adha 2019

Dia menjelaskan, pengangkutan dan pengiriman sapi selama ini dilakukan melalui jalur darat dan laut. Kedua jalur tersebut masing masing memiliki perlakuan dan prosedur tersendiri, baik dari sisi peralatan yang digunakan saat perjalanan, moda yang digunakan, mau aspek logistik. Agar kualitas sapi dapat terjaga dari tempat asal sampai tujuan.

Mengenai tol laut, Indonesia kini sudah punya kapal khusus pengangkut ternak. Kapal itu memerhatikan prinsip animal welfare, agar terciptanya kondisi nyaman bagi ternak yang diangkut. Juga memerhatikan aspek-aspek logistik dan prosedur yang sesuai.


“Dampak adanya kapal ternak dapat meminimalkan penyusutan bobot bahkan kematian yang dikarenakan penanganan sapi tidak layak diatas kapal,” tegas Fini. [KAL]

RM Video