Hilangkan Rivalitas Cebong Vs Kampret

Milenial Perlu Diajak Lihat Tantangan Riil Masa Depan

Klik untuk perbesar
Ketua DPR Bambang Soesatyo (Foto: Dok. Pribadi)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ketua DPR Bambang Soesatyo mendorong generasi milenial untuk mampu beradaptasi dengan arus perubahan. Terlebih, roda perubahan zaman berputar begitu cepat. Makanya, generasi milenial harus keluar dari rivalitas ‘cebong vs kampret’ sisa Pemilu 2019. Generasi milenial harus mengambil bagian dalam program pengembangan mutu SDM yang sedang dikelola negara.

“Rivalitas ‘cebong vs kampret’ yang memuncak pada perhitungan suara Pemilu 2019, cepat atau lambat, memang harus diakhiri. Bagaimana pun, seluruh elemen bangsa pada akhirnya harus kembali mencermati dan menyiasati tantangan riel yang selalu berubah. Kesinambungan pembangunan nasional harus tetap terjaga. Dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi global harus diantisipasi,” ucap politisi yang akrab disapa Bamsoet ini, Kamis (25/4).

Pasca pemungutan suara Pemilu 2019, sejumlah tokoh mengekspresikan keprihatinan pada rivalitas ‘cebong vs kampret’. Muncul keinginan untuk mendamaikan dengan mendorong rekonsiliasi.

Berita Terkait : Bamsoet Beri Kuliah Umum di Universitas yang Didirikannya

Bamsoet mengakui, rekonsiliasi itu tidak mudah. Sebab, rivalitas tadi dibangun dari keengganan menerima perbedaan yang kemudian mengakumulasi emosi bersama. “Itulah akar persoalan yang benihnya mulai berkembang sejak 2017 di Jakarta,” tuturnya.


Selain itu, tambahnya, gampang-gampang sulit untuk mengidentifikasi siapa saja pelakon dalam rivalitas itu. Tetapi, boleh diasumsikan bahwa mayoritasnya adalah generasi milenial. Sebab, sebagian besar mereka mengekspresikan rasa dan emosi melalui media sosial.

Sisi positifnya, kata Bambang, baik cebong maupun kampret, peduli pada politik dan negaranya. Sisi negatifnya, ada pada aspek etika berekspresi atau menyuarakan pendapat.

Berita Terkait : Ini Solusi Penyelesaian Masalah Papua Menurut Bamsoet

“Namun, bisa dipastikan bahwa perjalanan waktu akan mereduksi persoalan ini. Kalau rivalitas ‘cebong vs kampret’ berpijak pada sikap dan pilihan politik, orientasi para pelakonnya akan bergeser jika kepada mereka ditunjukkan gambaran tentang tantangan masa kini dan masa depan. Pergeseran orientasi itu dalam jangka dekat mestinya lebih mudah, karena Pemilu sudah selesai,” tutur politisi Partai Golkar ini.

Salah satu bentuk upaya mereduksi persoalan itu adalah membangun kesadaran dan pemahaman tentang tantangan generasi milenial. Setelah menyadari dan memahami tantangan itu, generasi milenial harus diberi pemahaman tentang program apa saja yang dirancang negara untuk menyiapkan mereka menjadi generasi kompeten. Setelah memahami program itu, generasi milenial juga didorong untuk bersinergi dengan institusi negara terkait, khususnya dalam program pengembangan mutu SDM.

“Kalau sebelumnya ‘cebong dan kampret’ berorientasi pada isu seputar Pemilu, harus segera digeser dan dikembangkan isu atau program baru yang tak kalah menariknya untuk disimak generasi milenial. Isu atau program yang disosialisasikan secara sistematis itu hendaknya berkait langsung dengan kepentingan mereka. Utamanya tentang urgensi generasi milenial beradaptasi dengan perubahan sekaligus tantangan riil yang sedang mereka hadapi,” tandasnya. [ONI]