Hakim Keluar, BW Keluar

Yang Menang Hibur Yang Kalah

Tim Kuasa Hukum 01 foto bareng usai Majelis Hakim Konstitusi memutuskan menolak seluruh gugatan Prabowo-Sandi dalam sengketa Pilpres 2019, Kamis (27/6). (Foto: Tedy O Kroen/Rakyat Merdeka)
Klik untuk perbesar
Tim Kuasa Hukum 01 foto bareng usai Majelis Hakim Konstitusi memutuskan menolak seluruh gugatan Prabowo-Sandi dalam sengketa Pilpres 2019, Kamis (27/6). (Foto: Tedy O Kroen/Rakyat Merdeka)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sepanjang sidang Mahkamah Konstitusi (MK) kemarin, Tim Hukum 02 tampak lesu. Apalagi, saat Ketua MK Anwan Usman mengetuk palu dan menyatakan menolak semua gugatannya. Mereka semakin tak bergairah. Sebagian tertunduk. Melihat kondisi ini, Tim Hukum 01 ramai-ramai menghibur. Mereka mendatangi Bambang Wi- djojanjo Cs, mengajak salaman dan merangkulnya.

Ketua MK Anwar Usman membuka sidang sekitar pukul 12.40 siang. Molor 10 menit dari yang dijadwalkan. Sejam sebelumnya, para pihak berperkara sudah datang ke lokasi. Ketua Tim Hukum Prabowo-Sandi, Bambang Widjojanto, datang lebih dulu sekitar pukul 11 siang. Mengenakan kemeja putih, mantan pimpinan KPK ini datang dengan penuh semangat. Saat itu, dia mengaku optimis gugatannya akan diterima majelis hakim. “Lihat wajah saya, dari awal apa terlihat ada kecemasan? Kan nggak," kata pria yang akrab disapa BW ini.

Sejam kemudian, Ketua Tim Hukum Jokowi-Ma’ruf, Yusril Ihza Mahendra, dan rombongan tiba di lokasi. Yusril datang sudah dalam balutan toga hitam. Senyumnya lebar. Yusril sangat yakin hakim akan memutuskan Jokowi-Ma’ruf sebagai pemenang pilpres. “Pemohon tidak bisa membuktikan dalil-dalilnya,” kata Yusril.

Pukul 12.20 para pihak sudah ada di ruangan sidang. Dua puluh menit kemudian, Hakim Anwar Usman mengetuk palu tanda sidang dibuka. Di awal, Anwar meminta maaf sidang terlambat beberapa menit karena ada urusan penggandaan putusan. Anwar meminta semua pihak menyimak. Ia menyadari, putusannya tersebut tak akan memuaskan semua pihak. Karena itu, ia meminta putusan MK tak dijadikan dasar saling hujat dan saling fitnah. Setelah itu, Anwar lalu membacakan putusan secara bergantian. Pembacaan putusan berlangsung lama. Lebih dari 9 jam.

Baca Juga : Kemenkes: Info 6 Kota Zona Kuning Corona Hoaks

Sidang baru kelar pukul 9 malam. Saking lamanya, sebagian peserta sidang terlihat terkantuk-kantuk. Komisioner KPU Arief Budiman misalnya, beberapa kali terlihat memutup mulutnya karena menguap. Di babak-babak awal, senyum BW masih terlihat. Terutama saat hakim membahas soal permohonan pemohon. Hakim menyatakan menerima berkas perbaikan pemohon yang diajukan pada 10 Juni 2019. Mahkamah tidak menganggap berkas anyar tersebut sebagai perbaikan, tetapi satu kesatuan dengan permohonan awal yang diajukan pada 24 Mei 2019. Hakim pun menolak keberatan pihak KPU dan Jokowi Ma’ruf.

Namun, memasuki pertimbangan hukum, senyum BW perlahan menghilang. Terlebih, saat hakim menolak dalil-dalil dan tuntutan yang disampaikannya. Selama pembacaan, wajahnya terlihat serius. Jika ada yang dianggap penting, buru-buru ia menuliskan catatan di buku yang dibawanya. Sesekali, ia terlihat mengusap jenggotnya, atau memegangi dahinya. Makin malam, senyumnya sudah tak nampak lagi.

Hal yang sama terlihat dari Denny Indrayana, wakilnya Bambang. Beberapa kali dia terlihat menopang dagu dengan wajah lesu. Sebaliknya, wajah Yusril terlihat tenang. Sesekali malah terlihat senyum-senyum. Mungkin, menilai pertimbangan hakim menguntungkannya.

Saat istirahat untuk shalat Ashar, senyum Yusril makin mengembang.Dia merasa sudah di atas angin. Kata dia, saat itu hakim sudah membaca lebih dari separuh halaman. Tapi tak ada satu pun dalil dari pemohon yang terbukti.

Baca Juga : Pengamat: Langkah Jaksa Agung Sangat Berani dan Cepat

Dalam pembacaan putusan, hakim mementahkan satu per satu dalil yang diajukan 02. Mulai dari soal tuduhan ketidaknetralan aparatur negara, diskriminasi perlakuan dan penyalahgunaan penegakan hukum, penyalahgunaan birokrasi dan BUMN, penyalahgunaan APBN dan program pemerintah, penggelembungan suara, kecurangan DPT, serta mempersoalkan jabatan Ma’ruf Amin sebagai Dewan Pengawas Syariah di Bank Mandiri Syariah dan BNI Syariah.

Satu persatu dalil-dalil tersebut dikupas majelis dengan cara disandingkan dengan bukti atau saksi yang diajukan. Hasilnya, hakim menilai dalil-dalil yang diajukan itu tidak berdasar hukum. Ada juga yang tidak bisa dibuktikan, atau buktinya tidak sah dijadikan alat bukti. Contohnya, dalil adanya kecurangan TSM yang melibatkan PNS atau ketidaknetralan kepala daerah. Hakim tak menemukan kaitan antara yang dilakukan aparat dengan perolehan suara masing-masing paslon. Padahal, salah satu ciri TSM adalah keterkaitan satu kasus dan kasus lain, dengan skala nasional, dan hubungannya dengan perolehan suara secara langsung.

Dalil-dalil kuantitatif atau yang berkaitan dengan itung-itungan juga sama. Dalam dalilnya, 02 mengklaim menang 52 persen. Hakim menilai dalil-dalil tersebut tak ada yang bisa dibuktikan. Terakhir, hakim membahas soal status Ma’ruf Amin. Majelis menilai, dalil pemohon yang menyatakan Ma’ruf Amin harus didiskualifikasi tidak bisa diterima. Majelis menilai, BNI Syariah dan Bank Mandiri Syariah bukan BUMN. Tapi anak usaha BUMN.

Posisi Ma’ruf di dua bank juga tidak dapat diklasifisikan sebagai karyawan. Sebab, Dewan Pengawas Syariah hanya memberikan jasa kepada bank dan berada di luar struktur perusahaan. “Tidak relevan mempersoalkan syarat pengunduran diri Ma’ruf Amin dari jabatan Dewan Pengawas Syariah sebagai syarat menjadi calon wakil presiden,” kata Hakim Wahiduddin Adams.

Baca Juga : Mahfud MD Pastikan RI Masih Zero Virus Corona

Atas dasar itu, MK menyatakan menolak seluruh permohonan pemohon. “Mengadili, menyatakan, dalam eksepsi menolak eksepsi termohon dan pihak terkait untuk seluruhnya. Dalam pokok permohonan: menolak permohonan pemohon untuk seluruhnya,” kata Ketua MK Anwar Usman saat membacakan amar putusan.

Putusan tersebut langsung disambut teriakan kubu 01. Sementara, BW dan kawan-kawan tampak tertunduk lesu. Usai hakim meninggalkan ruangan, BW mengajak kawan-kawannya berdoa lebih dulu sebelum meninggalkan ruangan. Sementara para pihak yang lain langsung hilir mudik saling menyalami. Sebelum meninggalkan ruangan, Komisioner KPU, Bawaslu, dan kuasa hukum 01 menyalami BW dan kawan- kawan. Mencoba menghibur yang kalah. [BCG]