Massa Pulang Sambil Menangis

Titiek Artisnya Aksi 27 Juni

Titiek Soeharto atau mantan istri Prabowo Subianto (tengah) di tengah kerumuman massa yang menunggu hasil putusan MK, Kamis (27/6). (Foto: Putu Wahyu Rama/Rakyat Merdeka).
Klik untuk perbesar
Titiek Soeharto atau mantan istri Prabowo Subianto (tengah) di tengah kerumuman massa yang menunggu hasil putusan MK, Kamis (27/6). (Foto: Putu Wahyu Rama/Rakyat Merdeka).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Aksi 27 Juni kemarin tidak se-“wah” seperti yang digembor-gemborkan sebelumnya. Jumlahnya hanya ribuan. “Bintangnya pun” sangat minim.

Hanya ada satu “artis” yang paling banyak diburu dan diajak selfie oleh massa. Artis itu adalah Titiek Soeharto, mantan istri Prabowo yang biasa disapa Mbak Titiek. Pemilik nama lengkap Siti Hediati Hariyadi itu, tiba di tengah kerumuman massa sekitar pukul 11.30 siang.

Berselendang biru dan mengenakan topi yang serasi baju yang berwana coklat, dia muncul di sekitar Bundaran Patung Kuda, Monas. Saat itu, sebagian peserta aksi akan melakukan salat zuhur.

Beberapa peserta aksi langsung mengerubuninya. Ada yang sekadar meminta salaman, ada pula yang memintanya berswafoto. Usai salat zuhur, kerumunan massa semakin menjadi-menjadi.

Permintaan untuk foto bareng dengan Tititek semakin ramai. Ia terjepit, dan nyaris tak bisa bergerak. Beberapa pria yang ditengarai “bodyguard-nya” terlihat kewalahan mengamankan Titiek.

Baca Juga : Terlibat Judi, Daniel Sturridge Diskors Empat Bulan

Meski begitu, Titiek tampak sabar melayani satu persatu peserta aksi yang meminta berfoto bareng. Sesekali, dia mengepalkan tinju ke arah kamera, kadang dia juga mengacungkan dua jari khas pendukung Prabowo-Sandi.

Di sela foto-foto itu, Titiek sempat menjawab pertanyaan Rakyat Merdeka soal kedatanganya ke lokasi aksi. “Nggak apa-apa... Kita sesuai dengan hati nurani masing-masing aja,” tuturnya.

Sebelum Titiek datang, massa sempat dihebohkan dengan adanya seorang peserta aksi yang jatuh pingsan. Peserta ini langsung dibopong ke ambulans yang ada di dekat lokasi. Petugas langsung menanganinya.

Setelah itu, isu liar pun langsung muncul. Peserta itu disebut keracunan karena memakan jajanan yang dijual PKL di lokasi aksi Mendengar kabar ini, Abdullah Hehamahua, yang menjadi korlap aksi, langsung bertindak.

Lewat pengeras suara di mobil komando, mantan penasehat KPK ini meminta para peserta aksi tidak jajan sembarangan. Namun, tidak semua peserta menuruti ucapan Hehamahua.

Baca Juga : KLHK: Indonesia Memasuki Era Baru Pengelolaan Sampah

Masih banyak peserta aksi yang asyik menyantap dan meminum jajanan yang dijual PKL. Isu liar tadi tidak berhenti sebatas ada peserta kecarunan.

Setelahnya, muncul kabar yang tersebar di grup-grup Whatsapp, bahwa peserta yang dianggap keracunan tadi telah meninggal dunia.

Beruntung, kabar hoaks ini langsung dibantah Tuti, petugas ambulans gawat darurat Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Tuti menjelaskan, peserta itu tidak apa-apa.

Peserta tersebut juga tidak keracunan. Yang dapat penanganan yang baik dari RS Budi Kemulyaan. Rifki, dokter jaga di RS Budi Kemulyaan memberikan keterangan lebih lengkap. Dia menyebut, pasien yang pingsan tadi bernama Nyonya H, berusia 53 tahun, asal Palembang.

“Tidak benar (meninggal). Diagnosis kami saat ini adalah dispepsia. Kayak orang sakit maag-lah. Kalau keracunan yang dibilang tadi, harus dibuktikan dari spesimen muntahnya, makanannya,” ujar Rifki.

Baca Juga : Bahas Dampak Corona, OJK Kumpulin Petinggi Perbankan

Sekitar pukul 5 sore, para peserta aksi membubarkan diri dengan tertib dan beradab. Beberapa peserta aksi tampak meneteskan air mata. Mereka terlihat sedih seraya mengusap air matanya dengan telapak tangan atau baju.

Meski waktu itu MK belum membacakan putusan sampai akhir, sebagian peserta sudah paham bahwa Prabowo akan kalah. Seorang wartawan sempat meminta komentar dari peserta yang menangis tadi. Namun, tidak ada yang mau bicara. Mereka bubar dengan wajah lesu. [SAR]