Koalisi Gemuk Rawan Kolesterol

Pikiran di Koalisi, Hati di Oposisi

Jokowi-Maruf usai pertemuan tertutup dengan Ketua Umum dan Sekjen Partai Koalisi di Plataran Menteng, Jakarta, Kamis (18/4). (Foto: Ng Putu Wahyu Rama/Rakyat Merdeka)
Klik untuk perbesar
Jokowi-Maruf usai pertemuan tertutup dengan Ketua Umum dan Sekjen Partai Koalisi di Plataran Menteng, Jakarta, Kamis (18/4). (Foto: Ng Putu Wahyu Rama/Rakyat Merdeka)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ini saran buat Pak Jokowi yang sedang meracik kabinet untuk periode lima tahun mendatang. Koalisi sekarang sudah gemuk, jadi jangan tambah dibikin gemuk. Karena, kegemukan itu rawan kolesterol jahat yang bisa mencelakai dan mematikan “tubuh koalisi”. Saran itu disampaikan Direktur Eksekutif Indikator Politik, Burhanuddin Muhtadi.

Saat ini, Jokowi memang sedang mencoba merangkul partai-partai oposisi untuk masuk kabinet. Tujuannya, untuk rekonsiliasi. Agar perpecehan di kalangan bawah bisa segera teratasi. Namun, di mata Burhanuddin, merangkul semua partai untuk masuk kabinet, kurang baik.

“Nanti jadi obesitas. Ibarat orang, kalau terlalu gemuk bisa jadi kurang lincah bergerak. Banyak lemak jahat yang membuat disiplin koalisi melemah,” jelasnya, dalam sebuah diskusi, di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (7/7).

Baca Juga : Suzuki Pasrah MotoGP Qatar Batal Gegara Corona

Pentolan di bidang survei ini mencontohkan gemuknya koalisi di era pemerintahan SBY jilid kedua. Saat itu, porsi partai koalisi di parlemen mencapai 74 persen. Ternyata, tidak bagus bagi pemerintahan. Disiplin koalisi melemah. Bahkan, banyak yang ‘nakal’ dengan mengotak-atik kebijakan pemerintah di DPR.

“Karena, terlalu banyak kolesterol politik. Kekuasaan Pak SBY digoyang kasus Century oleh koalisinya sendiri,” bebernya.

Belajar dari pengalaman itu, bukan tidak mungkin hal yang sama terjadi pada Jokowi-Ma’ruf. Jika Gerindra, PAN, PKS ditarik Jokowi ke dalam pemerintahan, mereka juga bisa menjadi duri dalam daging dalam pemerintah Jokowi-Ma’ruf. Karena sejak awal, narasi mereka sudah berbeda dengan apa yang disampaikan Jokowi. Bisa-bisa, “fisiknya ada di koalisi, hatinya ada di oposisi.”

Baca Juga : Di Rakernas LHK, Nurbaya Kasih Pencerahan Soal Omnibus Law

Senada dengan Burhanuddin, Sandiaga Uno turut memberikan pandangan perihal ini. Lewat akun twitter @sandiuno, eks cawapres 02 ini yakin, partai-partai yang pernah menjadi pendukungnya akan menjadi oposisi yang loyal.

“Saya yakin menjadi oposisi yang loyal, yang kritis, konstruktif dan terus mengkoreksi langkah-langkah pemerintah tanpa ada kepentingan apapun, akan lebih terhormat dan berwibawa di mata masyarakat,” cuit Sandi.

Sandi kembali menegaskan, sikap oposisi itu baik dan bisa membangun bangsa. Jadi, tak perlu sebetulnya berdesak-desakan masuk koalisi. “Saya melihat bahwa koalisi Pak Jokowi itu kan sudah penuh,” kata Sandi, di Bangka Belitung, Minggu (7/7).

Baca Juga : Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Distop

Sandi mengingatkan, membangun bangsa itu tak harus berada di dalam pemerintahan. Di luar juga bisa. “Kita oposisi tapi bersahabat. Kita ingin mengawal,” katanya. Sandi juga mengingatkan, harapan itu sudah disuarakan para pendukungnya. “Kita menginginkan oposisi yang kuat dan ikut mengkoreksi hal itu,” sambungnya.

Pengamat Politik Ujang Komarudin juga ikut memberikan pandangan. Kata dia, koalisi yang gemuk memiliki sisi positif sekaligus negatif. Positifnya, bisa memudahkan pemerintah merealisasikan kebijakan-kebijakannya. Negatifnya, kurang baik untuk perkembangan demokrasi. Karena itu, kata dia, dibutuhkan oposisi. Kubu oposisi inilah yang bisa diharapkan melakukan checks and balances.

“Itulah kekuatan partai-partai oposisi. Saat pemerintah salah jalan, ada yang mengingatkan,” kata Ujang kepada Rakyat Merdeka, Minggu (7/7) malam. [SAR]