Soal Listrik & BBM, Jokowi Sulit Diserang

Presiden Jokowi didampingi Menteri ATR/BPN Sofyan Djalil menyerahkan sertifikat tanah wakaf, di Masjid Ar Rahman, Desa Prayungan, Kecamatan Sawo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. (Foto: Setkab)
Klik untuk perbesar
Presiden Jokowi didampingi Menteri ATR/BPN Sofyan Djalil menyerahkan sertifikat tanah wakaf, di Masjid Ar Rahman, Desa Prayungan, Kecamatan Sawo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. (Foto: Setkab)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Isu kenaikan harga listrik dan BBM biasanya jadi senjata ampuh lawan untuk menumbangkan incumbent. Tapi, kali ini Prabowo sepertinya bakal kesulitan menyerang Jokowi di dua isu seksi itu. Soalnya, pemerintah memastikan harga listrik dan BBM tak akan naik sampai akhir tahun ini.

Urusan BBM, Sabtu (5/1) ini, Pertamina sudah menurunkan harga Pertamax Cs. Kepastian pemerintah tak akan menaikkan harga listrik dan BBM, dikemukakan Menteri ESDM Ignasius Jonan di kantornya, Jumat (4/1).

Jonan mengatakan, memang ada evaluasi tarif tiap 3 bulan. Tapi, pemerintah berkomitmen tidak menaikkan tarif listrik hingga akhir tahun. "Yang penting di sini, pemerintah tetap komitmen, tarif listrik kan dievaluasi setiap 3 bulan. Komitmennya sampai akhir tahun, tidak ada perubahan tarif listrik," kata Jonan.

Baca Juga : Soal Upah Buruh, Ini Penjelasan Aice

Sebelumnya, Kementerian ESDM memutuskan tidak ada kenaikan tarif tenaga listrik bagi pelanggan non subsidi untuk periode Januari-Maret 2019. Penetapan ini tertuang dalam surat ke PLN pada 31 Desember 2018. Besaran tarif tenaga listrik periode Januari-Maret 2019 ditetapkan sama besarnya dengan besaran tarif tenaga listrik sebelumnya, yaitu periode Oktober-Desember 2018. Besaran tarif ini juga sama dengan tarif yang berlaku sejak tahun 2017.

Selain listrik, Jonan juga menyebut belum ada rencana menaikkan harga BBM jenis Premium dan Solar. "Sampai sekarang, tidak ada pertimbangan kenaikan harga BBM untuk Premium Gasolin RON 88, Gasoil CN48," ucapnya.

Jonan mengakui, di 2018, subsidi energi yang dikucurkan oleh pemerintah memang lebih besar ketimbang tahun sebelumnya. Tapi, Jonan menegaskan, dari sisi penerimaan migas terdapat kenaikan cukup besar. Selain itu, subsidi sebenarnya dibiayai oleh penerimaan negara.

Baca Juga : Airlangga Beri Kuliah Umum di Seskoal

Terpisah, Pertamina menurunkan harga BBM non subsidi, mulai Sabtu (5/1). Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menyebut, dengan turunnya harga rata-rata minyak mentah dunia dan penguatan rupiah terhadap dolar Amerika, Pertamina melakukan penyesuaian harga BBM non subsidi dengan besaran yang bervariatif.

Penyesuaian harga yang dilakukan Pertamina, telah sesuai dengan mekanisme dan peraturan yang berlaku. "Kami telah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat, terutama pelanggan setia produk-produk Pertamina, ujar Nicke dalam keterangan pers yang diterima Rakyat Merdeka, Jumat (4/1) malam.

Sementara, Direktur Pemasaran Retail Pertamina Mas'ud Khamid menambahkan, penyesuaian BBM non subsidi berlaku mulai Sabtu 5 Januari 2019 pukul 00.00 waktu setempat. Adapun jenis BBM yang mengalami penyesuaian harga adalah Pertalite turun Rp 150 per liter, Pertamax turun Rp 200 per liter, Pertamax Turbo turun Rp 250 per liter, Dexlite turun Rp 200 per liter, dan Dex turun Rp 100 per liter.

Baca Juga : Sejumlah Wilayah Di Indonesia Rentan Rawan Pangan

Harga baru yang berlaku di beberapa daerah bisa berbeda-beda karena dipengaruhi perbedaan besaran Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) di masing-masing daerah.

Guru Besar Politik Universitas Indonesia (UI) Prof Budyatna menyebut, kebijakan ini membuat popularitas Jokowi naik. "Tentu dia dapat berkah, popularitasnya naik," ujarnya, Jumat (4/1) malam. Sekalipun begitu, Budyatna menduga, masyarakat akan berpikir kebijakan ini sebagai trik atau taktik kubu petahana. Sebab, hal ini diumumkan menjelang Pilpres. Dia pun mewanti-wanti Jokowi harus bekerja lebih keras agar benar-benar aman. [OKT]