Setelah Bocorkan Pertanyaan Debat

Marak, Tagar Pray For KPU & Save Pemilu

Ilustrasi KPU (Foto: Istimewa)
Klik untuk perbesar
Ilustrasi KPU (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Gara-gara memutuskan memberi bocoran pertanyaan ke Capres-Cawapres sebelum debat, KPU jadi bulan-bulanan warganet. Saking sedih dan keselnya, ada yang menggaungkan #PrayforKPU, #SavePemilu, #SaveDemokrasi.

Di-bully seperti ini, KPU tetap merasa benar. Tetap istiqomah tak mau mengubah pendiriannya. Kritikan dan makian ke KPU datang dari elite politik, hingga rakyat biasa. Dari yang hanya menyindir, sampai memaki. Kritikan itu antara lain disampaikan politikus PKS Hidayat Nur Wahid. Dia heran dengan aturan itu. Padahal, sindir dia, saat mengikuti fit and proper test di DPR, para komisioner KPU tidak ada yang dikasih bocoran pertanyaan.

"Untuk hasil yang lebih baik, rakyat berhak tau kapasitas asli Capres dan Cawapres," ujar Hidayat di akun @hnurwahid. Dalang nyentrik Sudjiwo Tedjo ikut bersuara. Kata dia, aturan itu sebenarnya merugikan kedua pasangan. "Bila daftar pertanyaan sudah disampaikan sebelumnya, dan masing-masing pihak sudah menghafal jawabannya, maka pihak mana pun yang unggul pada acara debat nanti tidak akan kondang. Kalah, malu-maluin," cuit @sudjiwotedjo.

Kalau KPU tidak mengubah aturan tersebut, mantan Sekretaris BUMN Said Didu mengusulkan, sebaiknya bikin acara nobar dan siaran ulang Debat Capres 2014 agar rakyat makin tercerahkan. Usulan itu disambut gembira oleh salah satu follower-nya. "Ayoo kita dukung @tvOneNews putar ulang debat presiden 2014 sehari sebelum debat 2019," ujar @syamsulmaarif sambil menyisipkan tagar #SavePemilu dan #PrayForKPU.

Baca Juga : Kepala Layanan Medis Darurat Iran Tertular Virus Corona

Sejarawan JJ Rizal menyebut, kesepakatan menyodorkan bocoran ujian kepemimpinan nasional, jelas suatu persekongkolan jahat yang membahayakan negara. Kata dia, KPU itu harusnya mewakili akal sehat rakyat. Bukan cari akal buat memuluskan ketekoran akal sehat elite. "Tadinya udah mantep mau coblos logo KPU, sekarang jadi mikir lagi," cuit @JJrizal.

Bagaimana tanggapan para kandidat dengan aturan main ini? Cawapres Ma'ruf Amin menilai aturan itu bagus dan siap mengikutinya. "Karena merupakan kesepakatan kedua pihak, bahwa KPU mempersiapkan pertanyaan untuk disampaikan kepada kita, saya kira itu bagus," kata Ma'ruf, di Jakarta, Minggu (6/1).

Ma'ruf mengaku terus mempersiapkan berbagai materi untuk debat. Seperti diskusi dan pembahasan materi. Sementara Cawapres 02 Sandiaga Uno  biasa saja dengan aturan itu. Tidak berarti sebuah kemudahan atau kesulitan. Menurut dia, dalam debat itu yang diuji bukan kemampuan menghafal. Tapi, nalar untuk lihat permasalahan. Sandi mengaku telah menyiapkan segala kemungkinan di debat nanti. Dia pun mengatakan, akan menyampaikan semua aspirasi masyarakat yang mengeluh kepadanya saat debat nanti.

"Kami ingin debat ini menampilkan visi misi dan gagasan kami. Kami tidak ingin ini jadi ajang debat kusir, cepat tepat, atau cerdas cermat. Tapi, tempat untuk memaparkan gagasan visi misi dan program kerja," ucapnya.

Baca Juga : Ketimbang Pakai Masker, Bersihkan Layar HP Jauh Lebih Efektif

Merasa jadi bulan-bulanan, KPU mengeluarkan klarifikasi terkait aturan bocoran soal debat. Anggota KPU Pramono Ubaid Tanthowi menyatakan, debat nanti bukanlah kuis tebak-tebakan. Maka, para pasangan capres dan cawapres bakal diberi tahu tentang pertanyaan yang akan mereka jawab, tepat sebelum Debat Capres dimulai.

"Yang dikedepankan adalah penyampaian gagasannya, bukan pertunjukan atau show-nya. Lagi pula debat kandidat bukanlah acara kuis atau reality show yang penuh tebak-tebakan, karena bukan itu substansinya. Toh, yang lebih dibutuhkan pemilih adalah gagasannya, visi-misinya, bukan show-nya," kata Pramono, dalam keterangan tertulis, Minggu (6/1).

Karena Debat Capres bukan tebak-tebakan, pertanyaan dalam debat diberitahukan terlebih dahulu ke pasangan Capres-Cawapres. Tujuannya, supaya materi yang disampaikan Capres-Cawapres di panggung debat bisa utuh, karena persiapannya lebih baik. Ini sudah sesuai dengan pengertian kampanye dalam Undang-Undang Pemilu. Yakni, kegiatan meyakinkan pemilih dengan menawarkan visi, misi, dan program atau citra diri peserta.

"Dengan memberikan soal sebelumnya, gagasan yang disampaikan pasangan calon bisa lebih diuraikan dengan jelas dan utuh. Apa visinya jika terpilih, apa misinya untuk membangun bangsa, dan apa programnya untuk mengatasi berbagai masalah rakyat. Sehingga, publik bisa memberikan penilaian bukan berdasarkan informasi sepotong-sepotong," kata Pramono.

Baca Juga : Dukung UMKM Terbaik Indonesia, BNI Luncurkan Bunga Nusantara

Meski bukan pertunjukan tebak-tebakan, unsur pertunjukan dalam Debat Capres etap ada. Soalnya, ini disiarkan oleh stasiun televisi. Maka, jalan tengahnya, pemberitahuan soal dalam debat kepada pihak Capres-Cawapres tak sepenuhnya terbuka. Metode setengah tertutup diterapkan. Tiap pasangan calon diberi lima soal yang sama. Tiap pihak akan mengundi pertanyaan di antara lima soal itu. Menurut Pramono, dengan bocoran Itu, tiap paslon harus tetap menyiapkan diri dengan serius.

"Karena mereka tidak tahu soal yang mana yang harus mereka jawab, dan metode ini akan dilakukan untuk beberapa segmen," kata Pramono. Selain itu, ada satu segmen yang sepenuhnya menggunakan metode pertanyaan tertutup, yakni saat tiap pasangan calon mengajukan pertanyaan satu sama lain. Tema pertanyaannya sesuai dengan tema utama, yakni hukum, hak asasi manusia (HAM), dan terorisme. Semua setuju dengan metode-metode di atas. "Timses kedua paslon setuju dengan format seperti ini," kata Pramono. [BCG]