Pulihkan Psikologi Anak-anak Korban Gempa Ambon, Perempuan Bangsa Bikin Mewarnai Bersama

Ketua Perempuan Bangsa, Siti Mukaromah bersama anak-anak korban gempa Ambon, di lokasi pengungsian, di Desa Tial, Maluku Tengah, Kamis (24/10). (Foto: Istimewa)
Klik untuk perbesar
Ketua Perempuan Bangsa, Siti Mukaromah bersama anak-anak korban gempa Ambon, di lokasi pengungsian, di Desa Tial, Maluku Tengah, Kamis (24/10). (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Korban gempa bumi Ambon memerlukan dukungan psikososial lebih lama. Sebab, gempa terjadi berulang-ulang sejak akhir September lalu itu telah menimbulkan trauma memdalam pada para korban. 

Hal ini mendorong Perempuan Bangsa untuk mengadakan trauma healing. Salah satu hal yang dilakukan adalah mewarnai bersama anak-anak korban gempa bumi di Ambon, Kamis (24/10).

“Mereka membutuhkan dukungan psikososial lebih lama. Karena gempa terjadi berulang-ulang,” kata Ketua Perempuan Bangsa, Siti Mukaromah, di lokasi pengungsian, di Desa Tial, Maluku Tengah.

Baca Juga : Bamsoet: Dengan Keberagaman, Persatuan Bangsa Harus Semakin Kokoh

Anggota DPR dari FPKB ini bernyanyi bersama anak-anak dan turut dalam kegiatan mewarnai. Menurutnya, dunia anak-anak adalah dunia bermain. Jangan sampai kondisi bencana dan lokasi pengungsian menghapus keceriaan mereka dalam bermain.

Selain mewarnai dan bermain bersama, badan otonom PKB ini juga menyalurkan bantuan yang bertujuan memberikan dukungan psikososial terhadap korban gempa. Bantuan tersebut antara lain aneka mainan anak-anak, buku dan alat mewarnai, buku dongeng dan cerita pendek, serta boneka.

"Bahan makanan, terpal, karpet, pembalut wanita, popok bayi, susu dan makanan bayi dan balita. Makanan instan juga tetap kita sampaikan," lanjutnya.

Baca Juga : Kantor Yasonna Tak Batalkan SK KNPI Noer Fajrieansyah

Bantuan diserahkan di Posko Pengungsian di tiga desa yakni Desa Liang, Tial, dan Tulehu yang berlokasi di Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah. Tiga desa ini mengalami kerusakan cukup parah. Sebagian besar rumah warga rata dengan tanah sehingga mereka harus berada di lokasi pengungsian. Di Desa Liang, misalnya lokasi ini ditinggali sekitar seribu pengungsi lebih. 

Fikri (10 tahun), salah seorang pengungsi di Tial mengaku sangat senang dengan aktivitas mewarnai. “Seru. Saya suka warna biru,” ujarnya. Tidak hanya anak-anak yang ikut dalam aktivitas ini, orang dewasa juga.

Erma menambahkan, melihat respon masyarakat yang sangat senang, menikmati, dan antusias kedepan Perempuan Bangsa akan memasukkan program Pelatihan Kader Tanggap Bencana. “Selesai memberikan bantuan biasanya sudah sampai disitu saja, padahal korban ini sangat rentan terhadap trauma. Perempuan Bangsa akan berperan dalam mendampingi para korban sebagai bentuk pengabdian kita kepada masyarakat,” tuturnya. 

Baca Juga : Ucapkan Selamat Imlek, Jokowi Berharap Kita Semua Makin Sejahtera

Selain mewarnai, kegiatan pelatihan trauma healing juga dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan mendongeng atau story telling, bermain bersama, dan lain-lain. Sebab, Indonesia secara geografis memiliki risiko terhadap terjadinya bencana alam. Erma juga mengingatkan untuk terus menjaga kelestarian alam. [KW]