Satu Jam Ngobrol Tertutup, Ini Tiga Kesepakatan Politik Partai Nasdem dan PKS

Klik untuk perbesar
Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh (kiri) bersama Presiden PKS Sohibul Iman di sela konferensi pers dalam kunjungannya ke Kantor DPP PKS, Jakarta, Rabu (30/10). (Foto: Dwi Pambudo/RM)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh dan rombongan melakukan pertemuan dengan Presiden Partai Keadilan Sejahteta (PKS) Sohibul Iman di kantor DPP PKS jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Rabu (30/10) sore.

Pembicaraan antara elite Partai Nasdem dengan PKS dilakukan secara tertutup. Pertemuan berlangsung sekitar satu jam. Setelah itu, kedua pihak langsung menggelar konferensi pers terkait dengan materi yang dibicarakan.

Ada tiga poin kesepakatan politik antara Partai Nasdem dengan PKS. Ketiga poin itu dibacakan oleh Sekjen PKS, Mustafa Kamal. Pertama, saling menghormati sikap konstitusional dan pilihan politik masing-masing partai. Partai Nasdem menghormati sikap dan pilihan politik PKS, untuk berjuang membangun bangsa dan negara dari luar pemerintahan.

Berita Terkait : Ini Susunan DPP NasDem 2019-2024

Di saat yang sama, PKS juga menghormati sikap dan pilihan politik Nasdem yang berjuang di dalam pemerintahan.

Perbedaan sikap politik kedua partai tersebut, kata Mustafa, tidak menjadi penghalang bagi Nasdem dan PKS untuk berjuang bersama-sama menjaga demokrasi agar tetap sehat dengan memperkuat fungsi checks and balances di DPR.

"Demokrasi yang sehat itu penting, untuk mengatasi tantangan-tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia. Baik di bidang politik, ekonomi, keagamaan, pendidikan, kesehatan, budaya dan lainnya," ujar Mustafa di sela-sela konferensi pers, Rabu (30/10).

Baca Juga : Indonesia Akan Terus Perjuangkan Penegakan HAM di Dunia

Kedua, senantiasa menjaga kedaulatan NKRI dengan menjalankan nilai-nilai Pancasila dan UUD NRI Tahun 1945 dengan baik dan benar, keluhuran akhlak dan keteladanan para elite sebagai dasar-dasar kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

"Ketiga, tidak memberikan tempat kepada tindakan separatisme, komunisme, terorisme, radikalisme, intoleransi, dan lainnya yang bertentangan dengan empat konsensus dasar kehidupan berbangsa dan bernegara," kata sambung Mustafa.

Yang terakhir, PKS dan Nasdem menyadari bahwa takdir sosiologis dan historis bangsa Indonesia adalah warisan sejarah kerja sama para pendiri bangsa, antara kelompok nasionalis yang memuliakan nilai-nilai agama, dengan kelompok Islam yang memegang teguh nilai-nilai kebangsaan.

Baca Juga : Tak Kasih Waktu Lagi, Jokowi Minta Kapolri Segera Umumkan Kasus Novel

Oleh karena itu, generasi penerus dari dua komponen bangsa tersebut harus mampu menjaga warisan sejarah pendiri bangsa ini dengan saling menghormati, saling memahami dan saling bekerja sama, dalam rangka menjaga kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan partai atau golongan.

"Semoga Allah Tuhan Yang Maha Kuasa meridhoi pertemuan ini, dan senantiasa memberikan kekuatan kepada kedua partai untuk senantiasa berkomitmen pada kesepahaman ini," tutupnya. [RAN]