Mikir-mikir Temui Partai Oposisi Lagi, Paloh Kapok?

Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh (kemeja putih) didampingi jajaran pengurus partai memberikan dakwah kebangsaan untuk para kader saat meninjau pasar restorasi Kongres II Partai Nasdem di Jiexpo, Kemayoran, Jakarta, Minggu (10/11). (Foto: Dwi Pambudo/Rakyat Merdeka)
Klik untuk perbesar
Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh (kemeja putih) didampingi jajaran pengurus partai memberikan dakwah kebangsaan untuk para kader saat meninjau pasar restorasi Kongres II Partai Nasdem di Jiexpo, Kemayoran, Jakarta, Minggu (10/11). (Foto: Dwi Pambudo/Rakyat Merdeka)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pertemuan antara Ketum Nasdem, Surya Paloh, dengan Presiden PKS, Sohibul Iman, menuai kritik. Bahkan, Presiden Jokowi sempat menyindir Paloh. Dengan banyaknya kritik itu, Paloh pun jadi pikir-pikir lagi untuk menemui partai non koalisi. Mungkinkah Paloh kapok?

Ihwal mikir-mikir ini disampaikan Paloh di sela Kongres II Nasdem, di JI Expo Kemayoran, kemarin. Dia beralasan, tak ingin Nasdem dibilang pamer ke partai lain jika menggelar pertemuan dengan partai oposisi.

“Kita lihat, kan bisa salah interpretasi nanti. Kita berkunjung, dibilang nanti show off,” ujar Paloh.

Saat ini, Paloh tengah mengukur persepsi masyarakat atas pertemuan Nasdem dengan parpol oposisi. Dia menyatakan, partainya membuka diri terhadap semua tafsiran masyarakat. Baik positif maupun negatif. “Boleh saja kita katakan go to hell dengan persepsi pandangan masyarakat. Tapi, alangkah baiknya juga kalau perlu diperhatikan,” tuturnya.

Baca Juga : Airlangga Beri Kuliah Umum di Seskoal

Jumat lalu, Paloh juga menyatakan akan pikir-pikir untuk melakukan pertemuan dengan partai non koalisi.

“Ya, kami lihat momennya. Kalau sekarang, nanti kita dibilang jualan lagi,” ucap pria asal Aceh itu.

Paloh memberikan klarifikasi. Dia memastikan, pertemuan-pertemuan tersebut bukan untuk membicarakan Nasdem keluar dari pemerintahan. Dia mengakui, banyak kader partai yang menyuarakan menjadi oposisi saat pembukaan Kongres. Hal itu dinilainya hanya aspirasi sebagian kader, bukan sikap partai. Paloh sendiri merasa bersyukur bisa menjadi bagian pemerintah. Dengan begitu, Nasdem bisa menyumbangkan gagasan untuk kemajuan bangsa.

Pertemuan Paloh dengan Sohibul Iman terjadi pada Rabu, 30 Oktober lalu, di Kantor DPP PKS, Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan. Di pertemuan itu, Paloh dan Sohibul tampak begitu hangat. Bahkan, keduanya sampai rangkulan erat. Nah, rangkulan ini kemudian disindir Presiden Jokowi.

Baca Juga : Sejumlah Wilayah Di Indonesia Rentan Rawan Pangan

“Bapak Surya Paloh yang kalau dilihat malam ini, beliau cerah dari biasanya, sehabis pertemuan beliau dengan Pak Sohibul Iman di PKS,” goda Jokowi saat memberi sambutan pada Hari Ulang Tahun (HUT) ke-55 Partai Golkar di Golden Ballroom Hotel Sultan, Jakarta, Rabu malam (6/11). Paloh juga menghadiri acara itu. “Wajahnya cerah, setelah beliau berdua berangkulan dengan Pak Sohibul Iman,” sambung Jokowi yang disambut riuh seisi ruangan.

Jokowi menyampaikan, tak tahu makna mendalam dari maksud pertemuan tersebut. “Tidak pernah saya dirangkul oleh Bang Surya seerat dengan Pak Sohibul Iman. Tadi di holding saya tanyakan, ada apa? Tapi nanti jawabnya, lain waktu dijawab,” beber Jokowi.

“Saya boleh bertanya dong, karena beliau masih di koalisi pemerintahan,” imbuhnya.

Saat membuka Kongres II, Jumat lalu, Paloh sempat mengeluarkan unek-unek atas polemik pertemuannya. Dia mengatakan, ada partai nasionalis sinis dan mencurigai pertemuan tersebut. “Hubungan rangkulan, tali silaturahmi pun dimaknai dengan berbagai tafsir dan kecurigaan,” keluhnya.

Baca Juga : Di Rapat Paripurna Istimewa DPRD, Walkot Tangerang Paparkan Capaian dan Evaluasi Kerja

Menurut Paloh, bangsa ini sudah capek dengan intrik yang mengundang sinisme satu dengan yang lainnya. Begitu juga dengan saling curiga. Semua tindakan buruk itu, menurut dia, justru membuat bangsa Indonesia mejauhi Pancasila.

Manuver Nasdem itu dikritik salah satu pendirinya, Patrice Rio Capella. Menurut dia, manuver itu jelas melanggar norma dan etika berpolitik yang tidak mencerminkan adab ketimuran tentang sopan santun. “Manuver itu sangat memalukan. Karena Partai Nasdem seolah seperti perusahaan milik pribadi yang mengasong kepentingan politik,” tegas dia, di kawasan Cikini, kemarin.

Rio menduga, Nasdem kecewa dengan pembentukan kabinet Jokowi-Ma’ruf. Khususnya, posisi Jaksa Agung yang sebelumnya diisi kader Nasdem, M Prasetyo. “Makin tidak bisa dipahami jika manuver itu adalah bentuk kemarahan pimpinan Partai Nasdem karena kehilangan kursi Jaksa Agung dalam Kabinet Indonesia Maju,” tutur Rio.

Partai Nasdem, kata Rio, seharusnya sadar, pembentukan kabinet adalah hak prerogatif Presiden dan tidak bisa diatur siapa pun. Dia pun menilai Nasdem sudah melenceng jauh dari tu juan awal ketika didirikan pada 26 Juli 2011. Dari semangat restorasi Indonesia, jadi restoran politik. Alias, tempat masak-memasak dan menggoreng kepentingan politik. [OKT]