RMco.id  Rakyat Merdeka - Politikus PDIP Deddy Sitorus membantah isu yang mengaitkan PT Asuransi Jiwasraya dengan Pilpres 2019.

Hal itu disampaikan Deddy dalam diskusi cross check di Upnormal Coffee, Jl Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Jakarta, Minggu (29/12).

Deddy menyebut, masalah Jiwasraya memang pecah pada 2018. Namun, sebetulnya sudah mengemuka sejak 1998, ketika terjadi krisis moneter. Kemudian, pada tahun 2006, Jiwasraya sudah mengalami defisit sekitar Rp 3,2 triliun.

Baca Juga : Batasi Kerumunan, Peserta Kampanye Kudu Lebih Kreatif

"Persoalan sudah berat pada tahun 2006. Ketika itu, Jiwasraya mengalami defisit sekitar Rp 3,2 triliun. Kemudian mengalami masalah pada tahun 2008, dan berlanjut sampai sekarang. Jadi, ini persoalan yang panjang sekali," jelas Deddy.

Karena itu, dia mengibaratkan persoalan ini seperti bisul yang tak serta-merta pecah begitu saja.

"Kalau dikaitkan dengan Pilpres ngawur, karena bisulnya pecah tahun 2018. Bukan baru muncul pada 2018. Jangan salah," tegasnya.

Baca Juga : Polisi Jaring 221 Pelanggar

Saat ditanya apakah duit Jiwasraya masuk dalam dana kampanye Pilpres 2019, Deddy mengatakan, itu adalah kesimpulan yang terlalu cepat. Sebab, kasus ini masih dalam proses hukum. Dia menilai tuduhan seperti itu sangat berbahaya.

"Kita akan lihat dalam proses hukumnya, tetapi itu kesimpulan yang kekanak-kanakan. Jumping. Langsung conclusion, kesimpulan. Nggak paham, nggak ngerti ngomong, langsung lompat konklusi, itu misleading," papar Deddy.

"Saya kira, itu harus dipertanggungjawabkan. Menurut saya, pernyataan seperti itu tidak tepat. Bukan model Pak Jokowi, mau melakukan hal-hal seperti itu," tandasnya. [OKT]