Hasto Mencret-mencret

Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto menyalami kader-kader “banteng” saat meninjau lokasi persiapan Rakernas I PDI Perjuangan di Jakarta, kemarin. DWI PAMBUDO/RM
Klik untuk perbesar
Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto menyalami kader-kader “banteng” saat meninjau lokasi persiapan Rakernas I PDI Perjuangan di Jakarta, kemarin. DWI PAMBUDO/RM

RMco.id  Rakyat Merdeka - Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK terhadap Komisioner KPU Wahyu Setiawan merembet ke Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto

Penyebabnya, staf Hasto ikut kena operasi senyap itu. Hasto yang sempat diare, langsung mengklirkan persoalan ini. Kabar pertama ada stafnya Hasto kena OTT KPK dicuitkan Wakil Sekjen Partai Demokrat, Andi Arief. 

“Miris saya mendengar kabar OTT ko misioner KPU bersama Caleg Partai suara terbesar Pemilu. Lebih miris lagi kabarya bersama dua staf Sekjen Partai tersebut. Sistemik?” cuit Andi Arief di Twitter, Kamis (9/1) pagi. 

“Jika benar ada dua staf sekjend Hasto Kristiyanto dengan inisial S dan D juga ikut OTT KPK bersama caleg Partai tersebut, maka apa arti sebuah tangisan?” sambung Andi. 

Di mintai konfirmasi mengenai cuitan nya, Andi Arief menyebut, apa yang di tulisnya hanyalah berdasarkan info yang dia terima. Dia masih me nung gu konfirmasi resmi KPK.“Kabarnya yang sampai ke saya gitu. Satu caleg, dua orang staf. Kita tunggu,” ucap Andi. 

Ketua DPP PDI Per juangan, Djarot Saiful Hidayat yang dikonfirmasi soal cuitan Andi mengaku, belum tahu sama sekali soal isu tersebut.“Belum tahu,” ucapnya saat menghadiri Gladiresik Rakernas PDIP di Ji-Expo Kemayoran, kemarin. 

Baca Juga : Wamendes Budi Arie Pastikan, 433 Desa Tanpa Listrik Bakal Segera Terang-Benderang

Djarot sempat ditanya juga soal tidak terlihatnya Hasto di lokasi gladi resik Rakernas PDIP. Djarot memastian Hasto akan tetap hadir. Tapi, Djarot juga kasih kabar bahwa Hasto sedang kena diare. Hasto pun akhirnya terlihat di lokasi gladi resik pukul 17.25 WIB. Memang agak molor dari jadwal. 

Semula, Hasto dijadwalkan hadir ke lokasi pukul 12.00 siang. Tiba di lokasi, Hasto melempar senyum. Wajahnya tampak segar. Tak seperti orang sakit. 

Hasto yang mengenakan kemeja merah PDIP dibalut jaket kulit hitam langsung meninjau lokasi dan melihat kesiapan rakernas yang akan digelar 10-12 Januari mendatang. 

Pertama, Hasto meninjau lokasi registrasi dari para peserta rakernas besok. Kemudian, dia mengelilingi ruang utama terselenggaranya rakernas di Hall B, JiExpo. 

Terakhir, ia meninjau dapur umum baguna PDIP. Hasto mengakui, telat hadir karena diare.“Karena rumah saya kebanjiran dan dua mobil tenggelam, maka kena diare, sehingga tadi enggak bisa ikut acara,” tuturnya. 

Dia akhirnya datang setelah kondisinya membaik usai minum jamu.“Teman saya memberikan puyer cap jamu, itu juga obat tradisional dengan puyer cap kupu-kupu,” imbuh Hasto. 

Baca Juga : Sosialisasi Empat Pilar MPR di Gorontalo, Fadel Cerita Usulan Amandemen UUD 1945

Setelah bicara diare, barulah dia bicara OTT KPK. Dia mengaku, tidak tahu kabar stafnya ditangkap KPK.“Sampai saat ini kami masih belum tahu karena itulah kami menunggu keputusan (KPK),” tuturnya. 

Soal cuitan Andi, dia berseloroh santai. “Beliau kan sudah sering membuat cuitan-cuitan begitu, kita tahu cuitannya gimana,” seloroh Hasto. 

Hasto juga membantah kabar yang menyebut dirinya ngumpet di PTIK saat OTT dilakukan KPK, Rabu lalu. Dia menyatakan, tak berada di PTIK hari itu. “Eee… tidak,” elaknya. 

Hasto juga menegaskan, tidak ada negosiasi dalam proses pergantian antarwaktu (PAW) di tubuh partai karena sudah diatur secara ketat oleh perundang-undangan. 

Menurut dia, sampai saat ini proses PAW sudah berjalan puluhan kali dan tidak ada proses negosiasi karena konfigurasi hu kum sudah mengatur secara jelas. 

“Konfigurasi hukumnya sangat jelas dan tidak bisa hal tersebut dinegosiasikan. Semua harus berpijak pada hukum,” ucapnya. 

Baca Juga : 188 WNI Dari KRI dr Suharso-990 Mulai Jalani Tahapan Observasi

Dia mencontohkan, PDIP pernah melakukan PAW yang kemudian digugat dan membutuhkan waktu setidaknya dua tahun untuk menyelesaikan persoalan itu di pengadilan. 

“Sehingga partai pun sangat hati-hati dalam memutuskan PAW. Tanpa adanya sebuah legalitas dan pijakan hukum yang kuat, partai tidak akan melakukan PAW,” tutur Hasto. 

Terpisah, Wakil Ketua KPK Lili Pantauli menyebut, komisi antirasuah membuka peluang memanggil Hasto terkait kasus suap PAW anggota DPR yang menjerat eks Caleg PDIP Dapil Sumatra Selatan, Harun Masiku dan Komisioner KPU Wahyu Setiawan. 

“Mungkin tidak saja hanya kepada Hasto, tetapi kepada pihak-pihak terkait yang berhubungan dengan pengembangan perkara ini. Pasti juga ada panggilan,” ujar Lili, kemarin. 

Ia juga mengatakan, KPK ma sih akan mendalami sumber dana yang diperuntukkan untuk Wahyu melalui bekas Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sekaligus orang ke percayaan Wahyu, Agustiani Tio Fridelina, seorang advokat bernama Doni, dan seorang pihak swasta bernama Saeful sebesar Rp 400 juta. Termasuk penyelidikan untuk menggali asal dana suap. “Sumber dana ini sedang didalami oleh teman-teman di penyidikan,” tegasnya. [OKT]