Bicara Corona, Imin Galak Banget ke Pemerintah

Muhaimin Iskandar (Foto: Istimewa)
Klik untuk perbesar
Muhaimin Iskandar (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Muhaimin Iskandar biasanya selalu menunjukkan sosok “anak baik” ke Pemerintah. Namun, dalam perkara penanganan Virus Corona, Ketum PKB yang diakrab disapa Cak Imin ini, tampil beda. Dia berani mengkritisi Pemerintah. Bahkan, kritikannya terkesan galak banget. Yang dikritisi Imin, salah satunya terkait kebijakan Pemerintah memberi diskon tiket pesawat untuk menggenjot pariwisata.         

Imin mengisi agenda akhir pekannya, kemarin, dengan menggelar peringatan Hari Perempuan Internasional, di Jakarta Garden City, Jakarta. Acara ini merupakan kerja sama PKB dengan serikat buruh. Yang diomongin antara lain, soal pelayanan pencegahan kanker rahim, sosialisasi RUU Omnibus Law Cipta Kerja, dan antisipasi penyebaran virus corona.         

Acara dihadiri ratusan peserta perempuan. Mulai dari pekerja hingga ibu rumah tangga. Turut hadir juga Presiden Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI), Elly Rosita, dan Ketua DPP PKB bidang Ketenagakerjaan dan Migran, Dita Indah Sari.  

Di awal sambutannya, Imin bicara mengenai ekonomi Indonesia yang masih bertumpu pada kekuatan investasi. Buruh, petani, dan tonggak ekonomi menengah ke bawah belum menjadi kekuatan penyangga yang kokoh. Karena itu, ia mengajak para buruh meningkatkan kompetensi agar bisa menjadi tuan di negeri sendiri. Ia pun berjanji, PKB akan membantu perjuangan buruh agar bisa hidup sejahtera.         

Berita Terkait : Virus Corona Kini Menghampiri Bangladesh

Wakil Ketua DPR ini lalu menyoroti langkah pemerintah menangani wabah corona. Imin secara lugas mengritik kebijakan memberikan diskon tiket pesawat dan insentif untuk menggenjot pariwisata. Menurut dia, langkah tersebut kurang tepat. Terkesan tidak dipikirkan secara matang.         

“Jangan salah mengambil kebijakan dalam menangani dampak ekonomi, kayak memberikan tiket diskon untuk daerah wisata. Itu tindakan yang tidak tepat,” kritiknya.        

Saat ini, kata Imin, persoalan yang nyata ada di depan mata adalah kekhawatiran masyarakat. Jadi, solusinya adalah memberikan ketenangan bahwa Pemerintah bisa mengantisipasi penyebaran virus ini. Caranya, dengan memberikan informasi yang update terus menerus.         

Menurut Imin, di tengah wabah corona, promo tiket pesawat sia-sia saja. Tidak bakal bisa menggenjot pariwisata. Sebab, para wisatawan tak bisa pergi bukan tak punya uang, tapi sedang khawatir tertular corona.         

Berita Terkait : Cegah Virus Corona di Masjid dan Mushala, Umat Islam Diminta Bawa Sajadah Sendiri

“Orang tidak mau wisata kok dikasih diskon. Yang tepat adalah memberikan perhatian kepada industri yang terancam di dalam peristiwa corona itu,” cetusnya.        

Mantan Menakertrans ini menambahkan, yang mesti dilakukan pemerintah adalah memberikan bantuan insentif kepada industri yang terdampak wabah corona. Saat ini, banyak industri yang kesulitan mendapatkan bahan baku, juga berkurangnya penjualan. Untuk itu, pemerintah perlu memberikan sejumlah keringanan. Agar mereka bisa bertahan.     

"Industri yang berbasis impor, misalnya bahan-bahan impor diberi bantuan. Industri yang berbasis logistik global, ya yang terganggu, diberikan bantuan untuk mempermudah," sarannya. "Ya insentif kepada yang terkena langsung, mungkin keringanan pajak fasilitas atau yang lain," tambahnya.        

Sebelumnya, Pemerintah memang berencana menggelontorkan anggaran sebesar Rp 443,39 miliar untuk menggenjot sektor pariwisata. Anggaran tersebut digunakan untuk memberi diskon tiket pesawat, membiayai para influencer di dunia maya, sampai promosi sekaligus kegiatan pariwisata. Belakangan, pemerintah menunda mengeksekusi kebijakan tersebut. Menteri Pariwisata, Wishnutama Kusubandio, menyebut, kebijakan itu akan dievaluasi kembali sampai situasinya jelas.         

Berita Terkait : dr Corona dari Muhammadiyah Pimpin Tim Lawan Virus Corona

Direktur Riset Center of Reform on Economy (Core), Piter Abdullah, menilai, pemberian insentif di sektor pariwisata saat ada wabah memang kurang tepat. Sebab, saat ini banyak yang menahan diri untuk tidak berpergian. “Dikasih diskon sedemikian rupa juga orang gak bakalan mau pergi. Sementara mengundang orang dari luar negeri juga risikonya tinggi,” ujarnya.        

Menurut Piter, sektor yang harus mendapat perhatian adalah manufaktur. Karena, saat ini sektor tersebut kesulitan mendapatkan bahan baku, sementara yang beli sedikit. “Ini yang harus didorong konsumsi dan produksi,” tuntasnya. [BCG]