RMco.id  Rakyat Merdeka - Menghadapi Pemilu 2024 parpol papan atas kudu hati-hati. Pasalnya, selama pandemi corona, elektabilitas mereka menurun drastis. Tentunya, ini menjadi alarm buat parpol.

Hal itu terlihat dari hasil temuan survei Center for Political Communication Studies (CSPS) yang digelar pada 21-30 Juni 2020, dengan jumlah responden 1.200 orang di seluruh Provinsi Indonesia. 

“Dibandingkan dengan survei yang dirilis pada Maret 2020 lalu, hampir semua parpol turun elektabilitasnya,” ujar Direktur Eksekutif CPCS, Tri Okta, di Jakarta, kemarin. 

Dirincikan, urutan top three masih sama dengan hasil Pemilu 2019. Yaitu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Gerindra dan Partai Golkar. Namun semuanya dinilai merosot secara elektabilitas. PDIP turun paling banyak dari 31,7 persen menjadi 29,2 persen, sedangkan Gerindra turun sedikit dari 14,5 persen menjadi 13,7 persen dan Golkar dari 8,9 persen menjadi 8,3 perseb. 

Berita Terkait : Elektabilitas PDIP, PKS Dan PSI Meroket Di Tengah Pandemi

Sedangkan, partai papan tengah seperti PKB dari 5,9 persen turun menjadi 5,8 persen, PKS dari 6,7 persen turun menjadi 5,7 persen. Kemudian, Partai Demokrat dari 4,6 persen turun menjadi 3,8 persen, PPP juga mengalami penurunan dari 3,1 persen menjadi 2,8 persen, dan PAN dari 1,6 persen turun menjadi 1,4 persen. 

Menariknya, di saat semua parpol mengalami penurunan elektabilitas, ada dua parpol yang mengalami peningkatan. 

Yaitu, partai papan tengah Partai Nasdem, dari 2,9 persen naik menjadi 3,9 persen. Kemudian, parpol non parlemen, PSI yang justru naik dari 2,8 persen menjadi 4,1 perseb. 

“Semua parpol papan tengah pun cenderung turun, kecuali PSI dan Nasdem yang naik cukup signifikan,” ungkapnya. 

Baca Juga : Herd Immunity

Bagi Okta, kenaikan elektabilitas PSI ini cukup mengejutkan. Menilik hasil Pemilu Legislatif 2019, partai pimipinan Grace Natalie ini tidak memiliki wakil di Senayan karena tidak tembus parliamentary threshold (PT) empat persen. 

Prediksi Okta, naiknya elektabilitas PSI dipicu dari maksimalisasi wakil parpol di tingkat parlemen daerah. 

“PSI mengandalkan wakil-wakilnya di tingkat DPRD, khususnya di DKI Jakarta yang kerap bersikap vokal, dan terbukti mampu meraih dukungan publik,” terangnya. 

Sementara itu, penurunan juga cenderung terjadi pada parpol non parlemen. Yaitu, Hanura dari 0,9 persen menjadi 0,8 persen, Berkarya dari 0,6 persen turun menjadi 0,5 persen. Sedangkan PBB, tetap tidak mengalami penurunan yakni, 0,3 persen. 

Baca Juga : Sekolah Mulai Dibuka

Sisanya sebanyak 18,8 persen menyatakan tidak tahu/tidak menjawab. Survei CPCS dilakukan pada 21-30 Juni 2020, dengan jumlah responden 1.200 orang mewakili seluruh provinsi di Indonesia. 

Survei dilakukan melalui sambungan telepon terhadap responden yang dipilih secara acak dari survei sebelumnya sejak 2019. Margin of error survei sebesar ±2,9 persen dan pada tingkat kepercayaan 95 persen. [BSH]