RMco.id  Rakyat Merdeka - Ketua DPD Partai Golkar Kota Banďung Edwin Senjaya mengingatkan bahwa ideologi komunis tetap perlu diwaspadai karena bahaya laten ini bisa muncul kembali dalam berbagai bentuk.

"Kita tak boleh abai karena dalam masalah pemberontakan, komunis tercatat yang paling banyak tertulis mulai dari tahun 1948 dan 1965, bahkan difilmkan lewat ‘Pemberontakan G 30 S/PKI’," kata Edwin yang juga Wakil Ketua DPRD Kota Bandung ini, usai Talkshow G30S PKI di Sekretariat DPD Golkar Kota Bandung, Rabu (30/9/2020).   

Menurutnya, tak ada larangan untuk memutar film G 30 S/PKI. "Film ini untuk mengingatkan kewaspadaan kita. Memberi penyadaran pada masyarakat akan bahaya komunisme. Untuk mengingatkan masa lalu yang kelam,” katanya.

Baca Juga : Gandeng PKK, Anies Ajak Warga Terapkan 3 M

Menurutnya, membendung komunisme ada dasarnya, yakni Ketetapan MPRS No. XXV/MPRS/1966. Selain ketetapan tersebut dijadikan landasan hukum untuk membendung paham-paham yang tidak sesuai dengan Pancasila, nilai-nilai Pancasila juga menurutnya, harus diimplementasikan dalam kehidupan keseharian oleh semua tingkatan masyarakat.

“Saya yakin ideologi komunisme tidak akan berkembang di Indonesia bila kita menjalankan nilai-nilai Pancasila,” tukas Edwin.

Menurutnya, munculnya paham atau ideologi yang tak sesuai dengan karakter bangsa juga disebabkan oleh adanya ketidakadilan dan ketimpangan dalam berbagai bidang, tidak ada kesejahteraan dan banyaknya kemiskinan di masyarakat.

Baca Juga : 5 Lokasi Layanan Perpanjang SIM Di Jakarta Hari Ini

Untuk itu melalui edukasi diharapkan dapat mencegah dan membentengi masyarakat, dari paham-paham yang dapat mengganggu kedaulatan Indonesia, yakni paham komunis.

"Ini yang dikhawatirkan, ketika berkembang menjadi neo-komunis atau komunis gaya baru, tak menutup kemungkinan bisa memasuki berbagai elemen masyarakat, dan ini paham yang lebih berbahaya," tandasnya.

Edwin menjelaskan terlihat mulai munculnya paham komunis, yakni dengan dikemasnya narasi-narasi yang memutarbalikan sejarah. Seperti dalam perisitiwa G30S PKI, komunis menjadi korban.

Baca Juga : Satgas Pertamina Siap Kawal Tender dan Kemitraan Proyek Strategis

"Pak Harto, ditudingnya seolah-olah otak peristiwa kelam tahun 65 itu, sehingga muncul narasi-narasi yang memutarbalikan fakta. Ini dapat mengaburkan sejarah bagi generasi muda," terangnya.

Edwin berharap masyarakat, khususnya generasi muda, dapat memahami sejarah dan mengamalkan Pancasila 18 Agustus 1945.

"Edukasi sejarah dan politik ini, kedepan akan terus dilakukan oleh Partai Golkar," pungkasnya.
 Selanjutnya