Kasus Status Facebook, Warga Sampang Mati Ditembak

Ya Allah... Kok Tragis Amat Ya Urusan Pilpres

Klik untuk perbesar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Urusan Pilpres mulai memakan korban. Seorang warga Sampang mati ditembak gara-gara status Facebook soal pesta demokrasi lima tahunan itu. Ya Allah, kok tragis amat ya urusan Pilpres. Korban yang ditembak adalah Subaidi. Pria berusia 40 tahun ini adalah anggota Penyelenggara Pemungutan Suara (PPS) Kabupaten Sampang, Jawa Timur. Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Frans Barung Mangera mengungkapkan, penembak adalah Idris, warga Desa Tamberu Laok Kecamatan Sokobana, Kabupaten Sampang.

Peristiwa penembakan itu terjadi pada Rabu (21/11), sekitar pukul 13.00 WIB, di sebuah jalan desa perbatasan Desa Sokobanah Tengah-Sokobanah Laok, Sampang. Idris, kata Frans, memakai senjata rakitan dengan peluru organik. Tembakan yang dilepaskan pelaku, lanjut dia, mengenai dada kiri korban hingga tembus ke belakang.

Subaidi yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang gigi sempat dilarikan ke RSUD Dr Soetomo Surabaya dan menjalani perawatan selama sehari. Namun, nyawa korban tak dapat diselamatkan. Kamis (22/11), sekitar pukul 16.05 WIB, Subaidi meninggal. "Kemarin sore (24/11), jenazah korban sudah dibawa pulang oleh keluarganya untuk dikebumikan," ungkap Frans saat dikontak, Minggu (25/11).

Baca Juga : Banjir Bonus Atlet SEA Games, Satu Emas Rp 500 Juta

Hari di mana Subaidi menghembuskan nafas terakhirnya, Polres Sampang menangkap Idris sekitar pukul 17.30 WIB. Saat itu, dia mengendarai sepeda motor di kawasan Desa Karang Penang Onjur, Kecamatan Karang Penang, Sampang. Dia hendak kabur ke Pamekasan. Idris ditangkap dengan kondisi tidak melakukan perlawanan, bersama barang bukti berupa laras senjata api rakitan jenis pen gun, yang didapat dari teman pelaku berinisial S.

Menurut Frans, kejadian ini dipicu oleh status Facebook terkait Pilpres 2019. "Setelah tersangka diperiksa, motif penembakan itu  dilatarbelakangi oleh cekcok di sosial media," ungkap Frans. Frans mengungkapkan, awalnya seorang pimpinan salah satu ormas Islam, bernama Habib Bahar memposting video di akun facebook-nya.

Dalam video itu, tampak dia sedang memegang samurai dengan caption. Siapa pendukung Jokowi yang ingin merasakan pedang ini? Idris pun mengomentari, "Saya ingin merasakan tajamnya pedang itu". Buntut komentar itu, Idris didatangi beberapa orang. Termasuk, pemilik foto. Mereka menanyakan maksud dari komentar Idris.

Baca Juga : Liburan, Rossi-Hamilton Tukeran Kendaraan

Kedatangan sejumlah orang ke rumah Idris itu terekam dalam sebuah video, yang kemudian diunggah Subaidi ke Facebook. Dalam postingan itu, Subaidi meledek Idrus, yang disebutnya ketakutan hingga terkencing-kencing saat didatangi rekannya. Selain itu, Subaidi mengancam akan membunuh Idris jika bertemu. Apes, keduanya berpapasan di jalan desa perbatasan Desa Sokobanah Tengah-Sokobanah Laok.

Frans mengatakan, Subaidi sengaja menabrakkan motornya ke motor Idris hingga terjatuh. Lalu, Subaidi menodongkan pisau ke arah Idris. Namun Subaidi tiba-tiba terpeleset. Melihat kesempatan itu, Idrus mengeluarkan senjata api dari kantongnya. Ia pun menembakkan pistol itu ke dada kiri Subaidi.

Menurut Frans, dalam pemeriksaan, pelaku membenarkan akun tersebut miliknya. Namun, bukan dirinya yang menulis komentar. "Pelaku mengaku ponselnya telah dijual dan tidak mengetahui siapa yang menulis komentar tersebut," imbuhnya.

Baca Juga : Digebuk Rennes, Lazio Tersingkir Dari Liga Europa

Frans pun meminta keluarga korban dan masyarakat Sampang untuk mempercayakan kepolisian untuk menangani kasus ini. "Kami imbau kepada keluarga korban dan masyarakat desa setempat, agar tidak terbawa emosi. Percayakan bahwa perkara ini sedang ditangani oleh kepolisian, supaya tidak sampai merembet ke persoalan lainnya," tutupnya.

Pengamat Politik Hendri Satrio mengingatkan, berbicara politik harus memperhatikan tiga hal. Pertama, menggunakan akal sehat. Kedua, berbicara hanya sampai dagu. "Artinya, jangan sampai ke hati. Kalau sampai ke hati, kebawa perasaan, jadi ke mana-mana, seperti kasus yang terjadi di Sampang ini," ujar Hendri saat dikontak Rakyat Merdeka, semalam.

Selain itu, berbicara politik juga harus santai. Tidak boleh dengan emosi. Para capres dan cawapres juga diimbau Hendri, gar tidak membuat pernyataan-pernyataan yang provokatif semisal tabok, genderuwo, tampang boyolali, dan lain-lain. "Harus dijaga. Mereka juga harus mengimbau agar pendukungnya damai, rukun, dan tidak terpecah belah hanya karena beda pandangan politik," tandasnya. [OKT]