01 Kuat di Jawa, 02 Kuat di Sumatera

Jokowi Majapahit, Prabowo Sriwijaya

Paslon 01 Jokowi-Maruf (baju putih), Ketua KPU Arief Budiman, dan paslon 02 Prabowo-Sandi (jas hitam) berpose bersama sebelum Debat Capres jilid 2 di Hotel Sultan Jakarta, 17 Februari 2019. (Foto: Dwi Pambudo/Rakyat Merdeka)
Klik untuk perbesar
Paslon 01 Jokowi-Maruf (baju putih), Ketua KPU Arief Budiman, dan paslon 02 Prabowo-Sandi (jas hitam) berpose bersama sebelum Debat Capres jilid 2 di Hotel Sultan Jakarta, 17 Februari 2019. (Foto: Dwi Pambudo/Rakyat Merdeka)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Survei terbaru Charta Politika Indonesia punya gambaran menarik soal elektabilitas para capres. Jokowi disebut kuat di Jawa. Sementara Prabowo dominan di Sumatera. Bisa diibaratkan Jokowi adalah Majapahit dan Prabowo Sriwijaya. Jika dua kerajaan ini diadu siapa yang menang?

Hasil survei ini dirilis Charta Politika di kantornya, Jalan Cisanggiri, Kebayoran Baru, Jakarta, Senin (25/3). Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya memaparkan secara nasional Jokowi-Maruf masih unggul dengan 53,6 persen suara. Sementara Prabowo-Sandi hanya mendapat 35,4 persen. Selisihnya kurang lebih 18 persen.

Kalau yang dipotret per daerah, di daerah Sumatera, Prabowo unggul dengan 48,3 persen suara. Jokowi hanya mendapat 43,3 persen. "Dilihat dari segi wilayah Joko Widodo-Ma'ruf unggul hampir di semua wilayah. Kecuali di Sumatera di mana Prabowo-Sandi unggul," ujar Yunarto.

Pulau Sumatera yang didominasi Prabowo antara lain Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Selatan. "Daerah tempur ada di Sumut, Jambi, Bengkulu, dan Babel," imbuhnya.

Di luar Sumatera, Jokowi menang telak. Contohnya di Jawa Tengah dan Yogyakarta, Jokowi menang dengan angka 68,1 persen, sementara Prabowo hanya mendapat 18,4 persen. Kemudian di Jakarta dan Banten, Jokowi masih unggul dengan angka 44,2 persen dan Prabowo 40 persen.

Baca Juga : Sensasi Teknologi Perbankan Meriahkan BNI Java Jazz Festival 2020

Survei Charta Politika dilakukan pada 1-9 Maret melalui wawancara tatap muka secara langsung dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Survei melibatkan 2.000 responden yang tersebar di 34 provinsi dan menggunakan metode acak bertingkat (multistage random sampling) dengan margin of error 2,19 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Sebelumnya, hasil survei Litbang Kompas, 22 Februari-5 Maret 2019 juga menunjukkan hal yang sama. Jokowi menguasai Jawa, sementara Prabowo, Sumatera. Bedanya di survei ini, Pulau Jawa tak sepenuhnya dikuasai Jokowi. Paslon 01 hanya unggul di Jawa Tengah, Yogyakarta serta Jawa Timur. Sementara Jakarta, Jawa Barat dan Banten dikuasai Prabowo-Sandi.

Senin (25/3), Vox Populi Research Center, juga merilis hasil surveinya. Dari 1.200 responden yang diwawancarai, 54,1 persen memilih duet Jokowi-Ma'ruf. Hanya 33,6 persen yang mencoblos Prabowo-Sandiaga. Selisih elektabilitas kedua pasangan sebesar 20,5 persen. Manajer riset Vox Populi Dika Moehamad mengungkap, unggulnya elektabilitas Jokowi-Ma'ruf berbanding lurus dengan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah.

"Tingginya kepuasan terhadap kinerja pemerintah terkonversi dalam elektabilitas Joko Widodo yang jauh mengungguli Prabowo," ujarnya dalam siaran pers, kemarin.

Saat ini, tingkat kepuasan publik terhadap pemerintah mencapai 71,3 persen. Utamanya, 77,6 persen responden puas atas capaian pembangunan infrastruktur di era Jokowi. Lalu, 76,2 persen responden puas dengan upaya Jokowi-Jusuf Kalla memberantas korupsi.

Baca Juga : 3 Serikat Buruh Hidupkan MPBI

Sebanyak 72,4 persen responden puas atas kinerja pemerintah sekarang di bidang hubungan internasional. Kemudian, 71,7 persen responden puas atas upaya penegakan hukum pemerintah. Lalu, 71,2 persen puas atas kinerja di bidang pendidikan dan 63,8 persen di bidang kesehatan. Selain itu, 58,1 persen responden puas dengan kinerja pemerintah di bidang perlindungan hak asasi manusia (HAM).

Meski begitu, kurang dari setengah responden yang puas dengan kinerja Jokowi di bidang ekonomi. Kepuasan publik terhadap lapangan kerja misalnya, hanya mencapai 48 persen. Lalu, hanya 46,2 persen yang puas dengan fluktuasi harga pangan selama pemerintahan Jokowi-JK.

Menanggapi dua hasil survei terbaru ini, politisi senior PKS Hidayat Nur Wahid tak otomatis percaya. Pria yang juga menjabat Wakil Ketua Dewan Penasihat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi ini mengatakan, hasil survei itu merupakan penggambaran jika Pilpres 2019 digelar hari ini. "Padahal pileg dan pilpres baru akan terjadi 17 April yang akan datang," ujar Hidayat di Gedung DPR, kemarin.

Pria yang kerap disapa HNW itu mengingatkan jika hasil survei bisa saja salah, Seperti saat Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu. Saat itu tak ada satu pun lembaga survei yang sama dengan hasil akhir penghitungan KPU, termasuk Charta Politika sendiri.

"Jadi survei ini menurut saya sebagai bagian dari masukan masing-masing pihak," kata dia. Yang jelas, kata Hidayat, dua hasil survei ini bertentangan dengan survei internalnya. Ya kita ambil aja sebagai masukan, ujarnya.

Baca Juga : Bertemu Presiden Jokowi, Tony Blair Happy Masuk Tim Pemindahan Ibu Kota

Di dunia maya, hasil survei ini mendapat reaksi beragam. Pendukung Jokowi, mengaminkan hasil survei itu. Sementara pendukung Prabowo kebanyakan menyebut hasil survei itu bohong. Tetapi yang netral, menyebut pembagian wilayah itu seperti kerajaan Majapahit dan Sriwijaya.

Jokowi Majapahit, menguasai Jawa. Sementara Prabowo Sriwijaya, menguasai Sumatera. Mana yang akan kuasai Indonesia? "Tunggu 17 April mendatang," ujar @AlsNugrahaa. Sementara akun @fathurdoaibu menyebut, Majapahit jauh lebih unggul daripada Sriwijaya. "Wilayah yang dikuasai Majapahit, hingga ke wilayah Asia Tenggara. Dua-duanya kerajaan hebat. Tapi secara wilayah, Majapahit menguasai lebih besar dan luas," cuitnya. [OKT]