RMco.id  Rakyat Merdeka - Kemarin, PDIP genap berumur 48 tahun. Umur yang sudah sangat matang dalam perjalanan hidup manusia. Juga untuk ukuran parpol. Banyak prestasi yang bisa dikagumi dan ditiru dari partai berlambang banteng moncong putih. Satu hal yang pasti dan jadi pertanyaan banyak orang, kapan Megawati Soekarnoputri akan segera turun tahta dan menyerahkan estafet kepemimpinan di partai.

Mega tercatat sebagai ketua umum partai paling lama di Indonesia. Lima kali menggelar kongres, Mega selalu dipilih secara aklamasi sebagai ketua umum. Dalam pidato perayaan HUT ke-48 kemarin, Megawati menyoroti banyak hal. Mulai dari Pancasila, lingkungan, kesehatan hingga sosial-budaya. Namun, Presiden ke-5 ini tidak menyinggung soal jabatannya sebagai ketua umum paling lama di Indonesia.

Sejak PDI berubah menjadi PDIP pada awal reformasi, Megawati didapuk sebagai ketua umum pada kongres I yang digelar, Maret 1999. Hingga kongres ke V PDIP tahun lalu, Mega tetap dipercaya untuk menahkodai PDIP hingga tahun 2024.

Berita Terkait : HUT Ke-48, PDIP Rapatkan Barisan

Jabatan ini menempatkan Mega sebagai ketua umum partai terlama di Indonesia. Selama ini, nyaris tidak ada manuver di internal untuk menggeser posisi Mega. Apalagi, dua kali berturut-turut, PDIP menjadi pemenang dalam Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden.

Padahal, usia Mega saat ini sudah tidak muda lagi. Sabtu pekan depan, Mega akan memasuki usia 74 tahun. Dengan begitu, Mega juga menjadi ketua umum partai tertua di Indonesia.

Pengamat politik LIPI, Siti Zuhro mengingatkan pentingnya sirkulasi kaderisasi dan suksesi secara akuntabel untuk menjaga kesehatan organisasi. Parpol diharapkan bisa menjadi rumah demokrasi yang mampu menyediakan calon-calon pemimpin.

Baca Juga : Di India, Petugas Kebersihan Disuntik Vaksin Covid Duluan

Profesor riset ilmu politik ini menerangkan, kualitas partai kader mensyaratkan adanya hak otonom dan peluang untuk para kadernya mencapai puncak karier politiknya. “Termasuk mencalonkan diri menjadi calon ketum,” kata Siti dalam obrolan dengan Rakyat Merdeka, tadi malam.

Ia menambahkan, jika suksesi di internal parpol masih terus diwarnai calon tunggal dan model pemilihan aklamasi, dampaknya juga akan menular ke model kompetisi pemilu.

“Sehingga munculah calon tunggal dalam pilkada yang jumlahnya makin meningkat belakangan ini,” sambungnnya.

Baca Juga : PKS Warning Pemerintah Sigap Amankan Laut Indonesia

Guru besar ilmu politik Universitas Indonesia, Maswadi Rauf menilai budaya paternalisme menjadi salah satu penyebab Mega masih dipercaya memimpin PDIP. Menurutnya, pemimpin masih lekat dianggap sebagai orang tua. Tidak hanya di PDIP, tapi juga terjadi di beberapa partai lain.
 Selanjutnya