RMco.id  Rakyat Merdeka - Pemilu bukan hanya pesta demokrasi bagi orang-orang yang sehat mental. Para disabilitas mental atau yang dikenal dengan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), juga ikut merayakannya.

Di Panti Sosial Bina Laras (PSBL) Harapan Sentosa 1 Cengkareng, Jl. Kemuning Raya No.17, RT.14/RW.5, Cengkareng, Jakarta Barat, 492 ODGJ nyoblos. “Terdiri dari 328 laki-laki dan 164 perempuan,” ungkap Kepala PSBL Harapan Sentosa 1, Drg Maria Margaretha, Rabu (17/4).

Tak semua penghuni panti ini yang nyoblos. 324 penghuni lainnya dianggap tak layak nyoblos. Ini berdasarkan rekomendasi dari spesialis kedokteran jiwa. “Kriteria yang bisa nyoblos, yang sudah ngerti namanya (sendiri) dan bisa diajak bicara, nyambung. Sudah cukup stabil,” imbuh Maria.

Baca Juga : Jadi Jurkam Gibran, Sandi Belum Turun Gunung Ke Solo

Seleksi dilakukan sejak Maret lalu. Para penghuni panti ini juga sudah dibuatkan e-KTP, sehingga sudah terdaftar sebagai DPT dan bisa nyoblos. Sudah tiga kali KPU mensosialisasikan pencoblosan di tempat ini. Maria bilang, sosialiasi harus berulang-ulang agar mereka mengerti. “Tapi harus sabar. Kadang kalau diulang-ulang, mereka lama-lama bisa marah,” tuturnya.

Ada 3 TPS yang dibangun di lapangan utama panti, yakni TPS 221, TPS 222 dan TPS 223. Masing-masing TPS memiliki 4 bilik. Yang lelaki, nyoblos duluan. Di panti ini, lelaki dan perempuan memang dipisahkan.

Para penghuni panti yang mengenakan kaos hijau dan celana training hitam duduk mengantre, menunggu nama mereka dipanggil. Permen dibagikan. Para ODGJ ini tampak asik mengulum permen jenis lolipop itu. Kata Maria, tujuan pembagian permen, supaya mereka tenang. Tidak mengamuk.

Baca Juga : Desie : PSBB Ketat DKI Diperpanjang Masyarakat Kelas Bawah Makin Terpuruk

“Mereka kan kebanyakan tidak stabil,” ungkap Maria yang baru dua bulan menjabat sebagai kepala panti ini.

Tak seperti orang biasa, di bilik, ada dua petugas panti yang mendampingi para ODGJ nyoblos. Mereka yang membimbing para disabilitas mental ini untuk nyoblos. Mereka pula yang melipat kertas suaranya. Kemudian, ada satu petugas panti lagi yang ditempatkan di kotak suara.

Dia membimbing ODGJ untuk memasukkan surat suara ke masing-masing kotak, sesuai warnanya. “Mereka yang sehari-hari mendampingi, sudah familiar,” beber Maria.

Baca Juga : Nge-Vlog Bareng, Bamsoet-Dhani Bicara Koleksi Barang Antik Hingga Politik

Suasana pencoblosan penuh tawa. Berbagai tingkah ODGJ saat mencoblos memang lucu. Ada yang belum mencoblos tapi hendak memasukkan surat suara ke kotak suara. Ada juga yang hanya berputar-putar. Ada yang nyambung saat ditanya. Ada yang meracau ke mana-mana.

Misalnya saja, saat seorang pasien ditanya soal siapa saja calon presiden dan wakil presiden. Dia spontan menjawab, “Bu Maria”.

Ada pula pasien yang masih nyambung. Rudi Guntoro namanya. Pria paruh baya ini tampak sumringah setelah mencoblos. Ditanya bisa tidaknya mencoblos, dia menjawab lancar. “Bisa, tapi yang selain presiden susah, soalnya banyak, nggak kenal,” tuturnya. [OKT]