Cerita Tentang Nyoblos (6)

Ada Yang Rindu Serangan Fajar

Ilustrasi pemungutan suara pemilu. (Foto: Ist)
Klik untuk perbesar
Ilustrasi pemungutan suara pemilu. (Foto: Ist)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pemilihan Umum tahun ini nggak seramai tahun-tahun sebelumnya bang! Sepi! Begitu informasi yang saya dengar dari Santoso (24), tetangga saya, begitu tiba di TPS 265, Di Kampung Jembatan, Cakung, pagi-pagi, di hari pencoblosan, 17 April, sekitar pukul 10.00 WIB.

Walau saya berdomisili di Kota Bekasi, tapi saya lakukan pemilihan di Cakung, Jakarta Timur. Pasalnya, Kartu Tanda Penduduk (KTP) saya masih DKI. Saya memang belum berniat pindah 'warga negara' ke Bekasi. Masih tunggu anak saya menyelesaikan sekolah dasar (SD).

“Sepi kenapa? Kan yang datang ke TPS ramai? Ini aja sampai ngantri di luar, penuh," tanggap saya ke Toso, panggilan akrab Santoso.

"Bukan sepi yang datang ke TPS bang. Tapi sepi yang ngasih siraman alias serangan fajar," kata Toso berbisik sambil malu-malu.

Berita Terkait : Kenduri Kebangsaan di Aceh, Wakil Ketua MPR: Untuk Sembuhkan Luka Pemilu dan Pilpres

"Oalah, ternyata masih ngarep serangan fajar toh. Pantes tampang lo nggak hepi banget. Emang nggak ada penglaris?” tanya saya balik.

Memang bukan rahasia lagi, di daerah pinggiran Jakarta seperti Cakung yang berbatasan dengan Bekasi, praktik politik uang masih ramai terjadi. Biasanya, minimal dua sampai tiga Calon Legislatif (Caleg) baik DPR maupun DPRD 'nyiram' atau bagi-bagi angpao jelang pencoblosan. Tujuannya, agar namanya dipilih saat pemilu.

Praktik curang ini, rupanya salah satu upaya terakhir agar sukses berangkat ke Senayan atau ke Kebon Sirih. Duduk sebagai anggota legislatif.

Balik ke Toso. Cerita dia, tahun ini banyak Caleg yang tidak 'nyiram' jelang pencoblosan karena takut ketahuan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

Baca Juga : Pengamat: Langkah Jaksa Agung Sangat Berani dan Cepat

Ada juga yang takut diviralkan di media sosial. Pasalnya, di era teknologi, sangat mudah bikin kehebohan di dunia maya. "Makanya, sampe jam segini belum penglaris bang. Amsiong dah," gerutunya.

Lebih apes lagi, tambah dia, honor jadi saksi di TPS juga tidak sebesar tahun sebelumnya. Ia berprasangka, jangan-jangan honornya disunat tim sukses (timses) partai peserta Pemilu yang ia wakili.

“Lima tahun lalu, ngawal partai saya dibayar Rp 500 ribu. Tahun ini masak cuma nerima Rp 300 ribu. Pasti disunat timses nih. Tapi saya ambil aja deh, daripada nggak dapet sama sekali," kata dia lagi.

Nasib naas ini bukan cuma dialami Toso. Fauzi (25), tetangga saya yang lain, mengaku tahun ini nyaris tak ada serangan fajar. “Dulu kalau datang caleg sosialisasi ke rumah-rumah ngasih amplop. Sekarang sembako, kadang cuma payung atau gelas yang ditempel foto mereka doang," keluhnya.

Baca Juga : Mahfud MD Pastikan RI Masih Zero Virus Corona

Mendengar laporan dua tetangga ini, saya jadi tertawa dalam hati. Di satu sisi, pemerintah dan masyarakat mayoritas ramai-ramai berteriak stop politik uang. Pemberi dan penerima politik uang sama-sama terancam hukuman pidana pemilu. Tapi, di sisi lain, rupanya masih ada orang-orang seperti Toso dan Fauzi yang rindu 'serangan fajar'.

Biarlah ini jadi kisah warna warni di tahun demokrasi. Yang terpenting, Pemilu tahun ini berjalan damai. Yang kalah legowo, yang menang jangan jumawa. Jalankan amanat rakyat untuk menjadikan Indonesia makin besar dan hebat.

Noval Liandy
Wartawan Rakyat Merdeka