Buktinya Kalah di Jabar, Banten, Sulawesi, NTB

Jagoan Lokal Nggak Ndongkrak Jokowi

Tiga jagoan lokal (kiri ke kanan): Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah, dan mantan Gubernur NTB TGB Zainul Majdi. (Foto: Istimewa)
Klik untuk perbesar
Tiga jagoan lokal (kiri ke kanan): Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah, dan mantan Gubernur NTB TGB Zainul Majdi. (Foto: Istimewa)

 Sebelumnya 
Di Sulawesi Selatan (Sulsel), ada segambreng jagoan lokal mendukung Jokowi. Ada Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah. Kemudian, Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto sampai tokoh senior Golkar Nurdin Halid. Meski didukung oleh hampir semua tokoh Sulsel, nyatanya suara Jokowi tidak terdongkrak.

Menilik hasil hitung cepat SMRC, Jokowi meraih 41,62 persen, Prabowo 58,38 persen. Kekalahan ini bikin bingung Nurdin Halid yang menjabat Ketua DPD Golkar Sulsel. Soalnya, tadinya dia yakin betul Jokowi akan menang. “Saya belum paham betul, kenapa tiba-tiba berubah perilaku pilihan. Apa penyebabnya, saya tidak tahu. Itu di luar dugaan saya,” ujar Nurdin.

Di Sulawesi Tenggara (Sultra) juga ngenes. Banyak kepala daerah di sana menyatakan dukungan kepada Jokowi. Bahkan, Gubernur Sultra Ali Mazi sesumbar menyebut jagoannya bisa menang 70 persen. Jokowi pun dalam kampanyenya termakan optimisme tersebut. “Kalau tidak dapat 70 persen, kebangetan. Pasti ada yang salah. Saya yakin di atas itu,” kata Jokowi, pada acara Rakerda TKD Jokowi-Amin di Hotel Claro Kendari, (2/3). Tapi ternyata, Jokowi kalah. Berdasarkan hasil hitung cepat CSIS & Cyrus, Jokowi hanya meraup 33,61 persen.

Baca Juga : Polisi Buru Pemilik Mobil Yang Males Bayar Pajak

Di Nusa Tenggara Barat (NTB) juga begitu. Ketokohan mantan Gubernur NTB, Muhammad Zainul Majdi atau yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) sepertinya tak cukup mendongkrak suara Jokowi. Berdasarkan hasil hitung cepat Indo Barometer, Jokowi hanya mendapatkan 24,47 persen suara, sementara Prabowo 75,53 persen.

Kekalahan Jokowi di 5 provinsi ini tidak ditampik anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Eva Kusuma Sundari. Politisi PDIP ini menyebut, kekalahan terjadi karena memang kerja politik yang kurang. “Kalau nggak tandur (menanam) ya mana panen,” ujar Eva mengistilahkan kepada para tokoh daerah, yang belum bisa mendongkrak suara Jokowi karena masih belum total bekerja.

“Dukungan moral statement oke, tapi apakah betul dieksekusi kerja seharian. Penggalangan suara itu soal lain,” katanya. Tanpa menyebut nama, Eva mengatakan, banyak pimpinan sudah statement mendukung Jokowi. Tapi tidak kerja, dari mulai deklarasi sampai hari pencoblosan. “Ya kalahlah, jadi beda banget,” katanya.

Baca Juga : Perbaikan Jalan Rusak DKI Jangan Cuma Tambal Sulam

Direktur Eksekutif Indo Barometer, Muhammad Qodari menyebut ada perubahan pola pilihan di masyarakat yang mengakibatkan Jokowi kalah di sejumlah daerah, meski didukung jagoan lokal. Perubahan pola itu, berupa tidak mengikuti pilihan tokoh lokal. Melainkan menggunakan wacana keagamaan dalam memilih di Pilpres 2019.

“Sentimen keagamaan di pilpres kali ini, memang jauh lebih kental dibanding pilpres sebelumnya,” ujar Qodari kepada Rakyat Merdeka. Dijelaskan Qodari, sebaran suara kedua kandidat sebenarnya tidak jauh berbeda. Bedanya, seberapa dalam kedua kandidat mendalami suara dan menahan suara lawan. Misalnya, di Sumatera Barat, Aceh dan Sumatera Selatan, suara Prabowo semakin dalam.

Tapi, Prabowo gagal mendalami suara di Jawa Barat. Di sinilah keberhasilan Jokowi menahan suara lawan. “Di Jabar, Jokowi sering turun. Walaupun kalah, ini tidak begitu dalam. Coba kalau Prabowo menang 80 persen, ceritanya bisa lain,” terang Qodari. 

Baca Juga : Mahfud Dikerjain Mahasiswa

Sementara, Jokowi berhasil meningkatkan suara di Jawa Tengah dan Jawa Timur. “Kalau naik turun di daerah, sedikit,” ucapnya.

Menurut Qodari, tokoh-tokoh lokal pendukung Jokowi tak mampu menahan wacana keagamaan yang kental terasa di Pemilu 2019. Buktinya, setelah ada testimoni dari para ustad seperti Abdul Somad hingga Abdullah Gymnastiar, suara Prabowo meninggi. “Masyarakat punya logikanya sendiri. Logika keagamaan,” tandasnya. [BSH]