Kasus Bowo Nggak Ngaruh

Elektabilitas Golkar Tetap Tinggi

Klik untuk perbesar
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto (kanan) dan Sekjen Lodewijk F Paulus (kiri). (Foto: Partai Golkar).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kasus suap politikus Partai Golkar Bowo Sidik Pangarso nyatanya tidak banyak mempengaruhi elektabilitas partai beringin.

Buktinya, pada Pemilu 2019, Partai Golkar masih dipilih rakyat. Bahkan, berdasarkan quick count atau hitung cepat sejumlah lembaga survei, partai yang dinahkodai Airlangga Hartarto ini masih berada di posisi 2 atau 3, bersaing dengan Partai Gerindra.

“Terbukti, hasilnya Golkar tetap dipilih pemilihnya. Artinya, Golkar masih mendapat kepercayaan rakyat untuk menempatkan wakilnya di DPR, DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/ Kota,” terang Direktur Eksekutif Lembaga Emrus Corner, Emrus Sihombing, Selasa (23/4).

Berita Terkait : Partai Golkar Bidik Suara Generasi Milenial

Selain itu, kata Emrus, membuktikan Golkar memiliki pemilih cukup loyal. “Nampaknya pemilih Golkar mengakar kuat, makanya dia tetap menjadi partai besar sampai sekarang,” sebutnya.

Emrus menjelaskan, kasus korupsi dan suap tidak hanya menjerat politikus pada satu partai politik saja, melainkan terjadi di banyak parpol. “Kecuali, perilaku korup hanya terjadi di partai tertentu. Orang kan melihat di banyak partai, bukan Golkar saja,” ujarnya.

Pakar Komunikasi Politik Universitas Pelita Harapan (UPH) ini mengatakan, berulang kali KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap banyak politikus yang akhirnya membuat kasus korupsi menjadi persoalan biasa didengar masyarakat.

Baca Juga : Digugat WTO Soal Hilirisasi, Jokowi Nggak Takut

“Adanya legislator terjerat korupsi akhirnya tidak jadi alasan lagi bagi masyarakat untuk memilih atau tidak memilih partai tertentu. Saya melihatnya seperti itu,” jelasnya.

Masyarakat, lanjut Emrus, lebih melihat dari sosok atau partai yang dinilai masih menyejahterakan atau memperjuangkan nasib mereka meski ada beberapa kadernya terseret korupsi.

Bahkan, Emrus menyangsikan kasus korupsi menjerat politikus di partai besar yang notabene parpol lama itu mampu membuat masyarakat lari ke parpol-parpol baru bermunculan.

Baca Juga : Ini Saran MTI untuk Penyempurnaan Tol Japek II

“Apakah kemudian masyarakat bermigrasi ke partai baru? Belum tentu juga. Publik sepertinya masih meragukan partai-partai baru,” tutup pengajar Pascasarjana UPH itu.

Diketahui, Bowo Sidik, anggota Komisi VI DPR dari Partai Golkar, merupakan tersangka kasus suap pelaksanaan kerja sama pengangkutan bidang pelayaran antara PT Pupuk Indonesia Logistik (PILOG) dengan PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK).

Komisi anti rusuah mengamankan 400 ribu amplop untuk digunakan dalam serangan fajar pada Pemilu 2019. [EDY]