B 2024 AHY Masuk Istana

Kapal Prabowo Mulai Oleng

Presiden Jokowi bertemu Komandan Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (2/5) sore. (Foto: Humas Setkab)
Klik untuk perbesar
Presiden Jokowi bertemu Komandan Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (2/5) sore. (Foto: Humas Setkab)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Menumpang mobil berpelat B 2024 AHY, Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY masuk Istana, lalu bincang empat mata dengan Presiden Jokowi. Ada yang menilai, pertemuan ini adalah upaya Jokowi merangkul Demokrat. Ada juga yang menilai pertemuan ini sebagai tanda kapal Prabowo mulai oleng.

Kabar pertemuan Jokowi dengan AHY terasa mendadak. Pasalnya, dalam agenda yang disebar oleh Biro Pers Istana diketahui, agenda Jokowi seharian kemarin berada di daerah. Mantan Walikota Solo itu diketahui meresmikan Bendungan Gondang di Karanganyar, Jawa Tengah.

Wartawan di Istana baru mengetahui soal pertemuan, sejam sebelum AHY datang. AHY tiba di Kompleks Istana sekitar pukul 15.45 WIB. Ada yang menarik dari kedatangannya. Putra sulung Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini datang dengan mobil Toyota Land Cruiser warna hitam, bernomor B 2024 AHY.

Mobil berhenti tak jauh dari pintu masuk Istana. Nomor pelat cantik itu jadi bidikan kamera para wartawan. Turun dari mobil, AHY yang mengenakan batik lengan panjang bernuansa hitam putih dan berkacamata hitam, bergegas ke menuju pintu masuk Istana.

Potongan tentaranya masih kentara. Berjalan tegap dengan rambut pendek disisir rapi. Kacamata hitamnya langsung dilepas, begitu didatangi para awak media. Hanya saja, saat ditanya-tanya, AHY enggan berbicara panjang.

Dia hanya mengungkapkan kedatangannya untuk memenuhi undangan Jokowi. “Bahas apa? Koalisi?” tanya wartawan. Ditanya begitu, AHY meminta awak media untuk menunggu. “Nanti saja (setelah pertemuan),” katanya, sambil meninggalkan wartawan menuju pintu masuk.

Baca Juga : TVRI, Buaya, dan Bola

Dari sana, dia diantar menggunakan mobil golf menuju Istana Merdeka. Jokowi yang mengenakan kemeja putih menyambut AHY di depan ruang pertemuan. Keduanya berjabat tangan dan cipika-cipiki. Jokowi mengajak AHY masuk ke ruang pertemuan.

Sebelum melakukan pertemuan tertutup, para juru foto dan kamera diberi kesempatan mengabadikan momen tersebut di dalam ruangan. Sekitar 20 menit kemudian, AHY muncul dari balik pintu diantar Menteri Sekretaris Negara Pratikno. Keduanya lalu memberikan keterangan pers.

Kepada wartawan, AHY menceritakan soal pertemuan itu. Kata dia, tiga hari lalu Pratikno menghubunginya dan menanyakan apakah Kamis ini ada di Jakarta atau tidak. AHY bilang iya, ada di Jakarta. “Alhamdulillah, sore hari ini saya bisa bertemu langsung dengan Bapak Jokowi atas undangan beliau,” ujarnya.

AHY bersyukur bisa betemu langsung dengan Jokowi. Sudah lama tidak silaturahmi. Selama 8 bulan terakhir, keduanya sibuk di lapangan untuk berkampanye. Dalam pertemuan itu, AHY turut menyampaikan salam dari SBY beserta Ibu Ani kepada Jokowi. AHY berharap, silaturahmi dengan Jokowi bisa terus dilakukan.

Menurutnya, silaturahmi dan pertemuan-pertemuan serupa dapat membangun semangat kebangsaan untuk bersama memajukan Indonesia. “Yang jelas, semangatnya adalah kita ingin melihat Indonesia ke depan tentunya semakin baik,” ucapnya.

Lantas, apa saja yang dibahas? AHY mengaku, salah satu hal yang dibahas dalam pertemuan itu adalah mengenai hasil Pilpres 2019. Dia berharap, semua pihak dapat bersabar dan menghormati hasil rekapitulasi suara Pilpres 2019, yang akan diumumkan KPU 22 Mei nanti.

Baca Juga : Bahasa Tunjukkan Harga

“Mari sama-sama kita menjadi masyarakat yang dewasa, dalam alam demokrasi yang sehat,” ujarnya. Menurutnya, sikap terbaik kita saat ini adalah menunggu sampai dengan penghitungan terakhir yang nanti diumumkan resmi KPU.

“Mudah-mudahan, paling akhir nanti tanggal 22 Mei, kita sudah bisa menerima apa pun hasil yang telah diputuskan KPU,” paparnya.

Apakah juga membahas soal koalisi Demokrat? Ditanya begitu, AHY enggan berkomentar. Dia menyudahi tanya jawab  dan langsung pamit pulang. Tak butuh waktu lama, foto-foto pertemuan tersebut langsung beredar di dunia maya dan dengan cepat jadi bahan omongan dari rakyat biasa hingga para elite.

Sejumlah netizen menyebut, pertemuan itu upaya Jokowi merangkul Demokrat. Artinya tak lama lagi, koalisi partai pendukung Prabowo-Sandi bakal bubar. “Kapal sudah oleng jenderal,” cuit Soelist. “Kapal Prabowo 02 mulai oleng. Satu per satu tamu kehormatan mulai putar haluan,” kicau @fajarbrandals.

Analisa tersebut makin berkibar lantaran diamini Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. Eks Panglima TNI ini mengatakan, pemerintahan yang efektif itu perlu sebanyak mungkin teman. Semakin banyak teman koalisi, akan semakin kuat. Dan menurut dia, politik itu sangat dinamis. “Dalam 5 menit terakhir, bisa berubah sangat cepat. Bisa saja yang berada di sana berada di sini. Sangat dinamis,” kata Moeldoko di Kompleks Istana, Kamis (2/5).

Sebenarnya, dari hasil hitung cepat koalisi partai pendukung pemerintah sudah mendapat 60 persen di parlemen. Namun, kata dia, kalau bisa 80 kenapa harus 60 persen. Semakin banyak dukungan di parlemen, kebijakan pemerintah akan lebih mudah direalisasikan.

Baca Juga : Balitbangtan Tentukan Flagship Penelitian Pangan

Terpisah, Ketua Divisi Hukum dan Advokasi Demokrat Ferdinand Hutahaean mengatakan, pertemuan itu silaturahmi biasa. Dia menepis pertemuan AHY dengan Jokowi itu sebagai upaya menjalin koalisi. “Pertemuan itu tidak menandakan koalisi retak. Tidak sama sekali,” kata Ferdinand, Kamis (2/5).

Soal nomor pelat mobil yang ditumpangi AHY, Ketua DPP Demokrat Jansen Sitindaon menyebut mobil tersebut memang biasa dipakai AHY. Soal nomor B 2024 AHY, menurut Jansen, biasa saja. Tapi bagi kader Demokrat, nomor pelat itu harapan Demokrat bisa rebound di Pemilu 2024. Bisa juara lagi.

“Tahun 2024 adalah tahun harapan bagi banyak partai, dan orang yang bergelut di politik,” kata Jansen, Kamis (2/5).

Kubu Prabowo-Sandi enggan berkomentar panjang terkait pertemuan itu. Cawapres Sandiaga Uno tak ingin berprasangka buruk. Dia optimis, partai politik koalisi yang mengusungnya tetap solid. Setidaknya, hingga penghitungan suara selesai dilaksanakan KPU.

“Tugas kita sekarang mengawal agar proses pemilu berjalan baik sesuai harapan masyarakat,” katanya. [BCG]