RMco.id  Rakyat Merdeka - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi diprediksi tidak lolos ke DPR. Popularitasnya sebagai menteri, tak mendongkrak elektabilitas. Netizen berkelakar, kalau Imam Nahrawi gagal ke DPR, apa dia lebih pas disebut makmum (pengikut) Nahrawi?

Prediksi gagalnya Nahrawi disampaikan Wakil Sekjen PKB, Ahmad Iman. Tidak hanya Nahrawi, dua menteri lainnya yakni Menteri Desa (Mendes) Eko Putro Sandjojo, dan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhammad Hanif Dhakiri bisa senasib serasa.

"Berdasarkan analisis KPU, mereka (3 menteri PKB) tidak lolos. Tapi, itu data sementara dan masih ada peluang,” kata Ahmad, kepada wartawan, Kamis (2/5). Sementara, Wasekjen PKB, Daniel Johan enggan buru-buru menyimpulkan kalau Nahrawi tidak akan lolos ke Senayan. Pihaknya, kata Daniel, masih menunggu hasil penuh real count Komisi Pemilihan Umum (KPU).

“Memangnya sudah firm? Saya juga belum tahu hasilnya seperti apa,” ujar Daniel kepada Rakyat Merdeka. Berdasarkan situs resmi KPU, www. kpu.go.id, jumlah suara PKB memang tidak masuk lima besar partai pilihan warga daerah pemilihan DKI Jakarta 1: Jakarta Timur.

Baca Juga : Persahabatan : Prancis 7-1 Ukraina, Corona Bikin Merana

Nahrawi terdaftar sebagai kontestan di dapil ini. Hingga semalam, PKB di Jakarta Timur meraih 12.173 ribu suara. Jumlah itu, berada di bawah PDIP (48.897), PKS (44.664), dan Gerindra (33.488). Itu angka real count KPU Dapil Jakarta 1 dengan rekap 12,6 persen.

Masih jauh memang, keajaiban bagi Nahrawi menjadi anggota DPR masih terbuka. Di sini, Nahrawi bertarung dengan sejumlah nama top seperti Habibburokhman (Gerindra), Putra Nababan (PDIP), Bambang Wiyogo (Golkar), hingga Eko Hendro Purnomo (PAN).

Prediksi Nahwari gagal ke Senayan ini bikin geger dunia maya. Ada yang berkelakar, Nahrawi tidak pantas menyematkan kata Imam. Kalau kalah, lebih pasnya disebut Makmum, bukan Imam.

“Menpora kok gagal nyaleg, pasnya disebut Makmum Nahrawi bukan Imam Nahrawi hahahaha..” cuit @saktihapsoro. “Woi Imam Nahrawi, balikin duit rakyat yang lu pakai untuk Umroh, malu-maluinin,” timpal @begukoya Sokooor.

Baca Juga : Merawat Ingatan

Netizen heran, kenapa bisa begitu. “Masya Alloh....kok bisa??? Mendes, menaker dan Menpora,” cuit @AkhmadDimyati13. “Jika cak Imin ga lolos, apa kata DUNIA !” timpal @bachrum_achmadi.

Pengamat Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Adi Prayitno menyebut kekalahan Nahrowi merupakan sejarah baru di dunia politik Tanah Air. Pasalnya, popularitas sebagai menteri tidak membawa kemenangan.

“Kalau Pileg nggak bisa mengandalkan nama besar, harus sentuhan langsung,” ujar Adi kepada Rakyat Merdeka.

Sebagai menteri, kata Adi, Nahrawi memiliki waktu terbatas untuk berkampanye. Para menteri wajib bekerja mendampingi Presiden Jokowi. Di sinilah, caleg bukan menteri punya lebih baik peluang untuk blusukan langsung ke pemilih. Dan pemilih, memilih yang disapa langsung oleh calonnya.

Baca Juga : Menaker: UU Ciptaker Beri Jaminan Sosial Buruh Yang Kena PHK

"Kampanye nggak bisa Sabtu Minggu saja, sekalipun pemilih sudah tahu ada menteri jadi caleg di daerahnya. Tanpa sentuhan langsung, dipastikan kalah,” tegasnya. [BSH]