TKN Jokowi: Politisasi Petugas Pemilu Wafat Sudah Keterlaluan

Abdul Kadir Karding
Klik untuk perbesar
Abdul Kadir Karding

RMco.id  Rakyat Merdeka - Tewasnya petugas pemilu terus bertambah. Kelelahan dan serang jantung menjadi penyebab kematiannya. Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Abdul Kadir Karding menilai, isu petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) meninggal dijadikan dagangan politik oleh pasangan nomor urut 02.

"Saya melihat ada kecenderungan 02 tidak dapat memperlihatkan data dan fakta soal kecurangan-kecurangan. Isu bahkan digeser dan digoreng ke KPPS yang meninggal atau yang sakit. Saya yakin ini Indikasi politisasi," ujar Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma'ruf, Abdul Kadir Karding, kepada wartawan, di Jakarta.

Baca Juga : Airlangga Beri Kuliah Umum di Seskoal

Karding menilai, manuver politik menggunakan isu meninggalnya petugas pemilu sudah keterlaluan. Dia meminta seluruh tokoh politik bisa menahan diri dan memahami kesedihan keluarga korban yang ditinggalkan.

"Jangan meninggalnya KPPS ini dijadikan bahan komoditi politik. Kami prihatin, orang jadi korban tapi dijadikan alat politik,"keluhnya.

Baca Juga : Sejumlah Wilayah Di Indonesia Rentan Rawan Pangan

Selama pelaksanaan Pemilu 2019, total 469 petugas KPPS yang dilaporkan meninggal dunia. Petugas KPPS yang dilaporkan sakit berjumlah 4.602 orang. Jadi total petugas yang sakit dan meninggal sebanyak 5.071 orang.

Namun Karding tak memungkiri banyaknya petugas penyelenggara pemilu yang meninggal perlu diusut. Namun hasil investigasi itu tidak bernuansa politis dan digunakan untuk evaluasi pelaksanaan pemilu ke depan.

Baca Juga : Di Rapat Paripurna Istimewa DPRD, Walkot Tangerang Paparkan Capaian dan Evaluasi Kerja

"Pembentukan pansus kemudian digoreng sana-sinilah, itu justru tidak membantu kepada korban tapi malah akan menyakiti mereka. Karena mereka sudah korban tapi masih 'diekspos' sedemikian rupa dan digunakan untuk kepentingan-kepentingan politik kelompok," ujarnya. (MHS)