RMco.id  Rakyat Merdeka - Prabowo memastikan memilih jalur konstitusional menyikapi hasil Pilpres. Prabowo juga menyerukan aksi damai ke pendukungnya. Tapi, kenapa dua hari berturut-turut, aksi massa berakhir rusuh. Rombongan siapa yang bikin jengkel ini?

Capres-cawapres 02 Prabowo-Sandi, yang awalnya akan melakukan pengerahan massa besar-besaran alias people power, telah berubah haluan. Prabowo-Sandi memilih akan menggugat hasil Pemilu 2019 ke Mahkamah Konstitusi (MK). Dari sisi para pendukung 02 juga relatif tertib.

Mereka memulai aksi sejak Selasa (21/5) siang di depan Gedung Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Selepas salat tarawih, massa 02 ini membubarkan diri.

Baca Juga : Tenang, Kunci Pasien Covid-19 Cepat Sembuh

Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Menko Polhukam Wiranto, dan Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko meyakini, yang melakukan kerusuhan itu bukan pihak 02. Ada pihak lain yang bermain. Memancing di air keruh.

Pihak ini melakukan pengrusakan di tengah aksi dengan tujuan agar terjadi chaos. Tito menegaskan, pelaku kerusuhan datang setelah massa 02 pulang.

Perusuh kebanyakan anak muda. Mereka memang disiapkan untuk membuat kekacauan. Mereka melempari petugas yang berjaga dengan batu dan menyerang dengan kembang api.

Baca Juga : Teten Gandeng KPK Kawal Banpres UMKM

“Jangan sampai publik di-framing, seolah-olah ada aksi damai yang dibubarkan secara represif. Itu tidak benar,” tegas Tito, di Kantor Kemenko Polhukam, kemarin.

Tito kemudian memberikan penjelasan lengkap awal mula kericuhan pada Selasa (21/5) malam. Kata dia, aparat keamanan memberikan waktu mulai pukul 14.30 WIB hingga waktu buka puasa dan salat magrib bagi para peserta demo di depan Bawaslu.

Tapi ada permintaan peserta aksi, yang sebanyak 3.500 orang, untuk melanjutkan salat isya dan tarawih. Aparat memberikan toleransi. Setelah selesai, massa membubarkan diri. “Selesai jam 9 malam. Jam setengah 10 sebenarnya sudah clear, " ungkap Tito.

Baca Juga : Hati-hati, Virus Corona Bisa Nyebar Sampai 1,8 M

Sekitar pukul 22.30- 23.00, datang sekelompok masyarakat ke Bawaslu. Jumlahnya sekitar 300 hingga 400 orang. Kelompok yang datang dari arah Tanah Abang ini langsung melempari anggota yang ada di sana dengan alat yang membahayakan. Di antaranya, batu besar, konblok, molotov, dan petasan.
 Selanjutnya