Kepada Media, Jokowi Bersahabat Prabowo Musuhan

Presiden Jokowi (ketiga kiri, belakang) berfoto dengan para wartawan di sela acara bincang santai bersama jurnalis di Restoran Grand Garden, Kebun Raya Bogor, Sabtu (8/12). (Foto: IG @jokowi)
Klik untuk perbesar
Presiden Jokowi (ketiga kiri, belakang) berfoto dengan para wartawan di sela acara bincang santai bersama jurnalis di Restoran Grand Garden, Kebun Raya Bogor, Sabtu (8/12). (Foto: IG @jokowi)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Beda Jokowi dan Prabowo dalam memperlakukan media. Jokowi menganggapnya sebagai sahabat, sedangkan Prabowo justru memilih memusuhinya. Melalui akun Instagram dan Twitter miliknya, kemarin, Jokowi mendeklir sebagai sahabat media. Di akun Instagram, Jokowi mengunggah foto bersama jurnalis.

Foto ini diambil pada Sabtu (8/12), usai Jokowi berbincang santai dengan puluhan media di Restoran Grand Garden, Kebun Raya Bogor. Menurut Jokowi, media adalah sahabatnya. Dia bercerita, pada 2004, belum ada yang mengenalnya. Begitu juga saat menjabat walikota Solo. "Siapa yang mengenal saya? Tidak banyak," tulis Jokowi.

Menurut dia, media berperan mengenalkan dirinya kepada khalayak. "Semua dimulai dari situ. Dari liputan tentang saya, tentang pekerjaan saya," ujarnya. "Bagi saya, media adalah sahabat: dari yang memberitakan apa adanya tentang pribadi dan pekerjaan saya, yang memberi masukan, sampai kritik pedas untuk saya, keluarga, dan jabatan saya. Terima kasih untuk teman-teman media," imbuhnya.

Berita Terkait : Perkuat Diplomasi Pertahanan, Prabowo Kunjungan Kerja Ke Abu Dhabi

Sehari sebelumnya, saat berbincang dengan media, Jokowi dan putra sulungnya Gibran Rakabuming Raka antara lain bercerita tentang peran media. Menurut Gibran, media telah berjasa besar bagi kehidupan mereka saat ini. Ia mencontohkan bagaimana usaha martabaknya makin populer, berkat peran media. Ia yakin keberhasilan usaha martabaknya, tak lepas dari jasa para wartawan, yang ikut serta membesarkan usaha yang dirintisnya.

"Media itu termasuk teman-teman yang membesarkan saya, dari mulai nol sampai sekarang. Jadi, ketika ada berita positif saya terbantu. Ketika ada berita negatif pun, saya terbantu. Karena berita negatif itu juga menguntungkan untuk saya. Jadi terima kasih untuk teman-teman media yang hadir di sini," ujar Gibran. Jokowi sepakat dengan apa yang disampaikan anaknya itu. Menurut dia, berkat media, ia yang awalnya tak dikenal publik, akhirnya bisa dikenal.

"Pas pilkada pertama Walikota siapa sih yang kenal saya? Nggak ada. Nggak ada. Nggak ada," kata Jokowi. Ia mengingat saat pertama kali namanya mulai terangkat, adalah ketika media-media mulai memberitakan tentang dirinya. "Saya ingat, dikenal itu saat media lokal mulai mengangkat, media nasional mulai mengangkat. Dari situ dimulai," kata Jokowi.

Baca Juga : Airlangga Beri Kuliah Umum di Seskoal

Sikap Jokowi seperti berbanding terbalik dengan Prabowo. Akhir-akhir ini, Prabowo justru bermusuhan dengan media. Seperti diketahui, capres nomor urut 02 itu sempat mencak-mencak kepada wartawan. Kekesalan Prabowo terhadap wartawan dan media itu disampaikan saat peringatan Hari Disabilitas Internasional di Jakarta. Awalnya, eks Danjen Kopassus itu kesal karena tidak semua media meliput dan menulis Reuni 212, yang menurutnya dihadiri 11 juta orang lebih.

Lebih jauh Prabowo menyebut, para jurnalis yang tak meliput acara itu sudah tak berhak menyandang predikat jurnalis. Terakhir, ia menyatakan para jurnalis yang meliputnya, sebagai antek yang ingin menghancurkan Indonesia. Melihat gaya dua capres memperlakukan media, Direktur Eksekutif Lembaga Riset Populi Center Usep Saiful Ahyar menilai, Jokowi tampaknya lebih memahami menggunakan media dari pada Prabowo. Karena itu, sikap Jokowi terhadap media terasa lebih bersahabat. Dibandingkan Prabowo, yang beberapa kali mengeluarkan pernyataan tak bersahabat. Menurut Usep, sikap Prabowo itu berpotensi merugikan Prabowo sebagai capres. Karena bisa menjadi senjata makan tuan. Kenapa? Sebab Prabowo membuat distrust terhadap media mainstream di tengah masyarakat," kata Usep. 

Usep menjelaskan, ketika terjadi distrust, maka masyarakat yang tergiring opini Prabowo akan beralih kepada media sosial. Padahal, seluruh berita yang disebarkan media sosial, tidak memiliki penyaring bahkan lebih liar dan tidak terkontrol. Pada titik ini, bukan tak mungkin akan ada berita-berita yang menyerang Prabowo, lalu diamini pengguna media sosial. Menurut Usep, sikap yang ditunjukkan Prabowo, serupa dengan sikap yang ditunjukkan Presiden AS Donald Trump kepada seluruh media mainstream di AS.

Baca Juga : Sejumlah Wilayah Di Indonesia Rentan Rawan Pangan

Trump, kata dia, sengaja memusuhi media massa agar masyarakat tak lagi percaya. "Seharusnya, kalau Pak Prabowo merasa ada yang salah, ya dituntut saja. Sudah ada mekanismenya, jika mau menuntut media mainstream," katanya. Bagaimanapun juga, kata dia, Prabowo sebagai penantang Jokowi membutuhkan peran media untuk mengangkat elektabilitasnya. Sebagai capres, Prabowo tidak bisa memaksakan kehendak agar semua pemberitaan media berpihak kepadanya.

Sebelumnya, Jubir Pemenangan Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak menuturkan, kemarahan Prabowo ke media itu dalam posisi melakukan kritik terhadap fungsi sejumlah media, yang dinilai kehilangan objektivitas. Termasuk, kaitannya dengan peristiwa Reuni 212 Ahad lalu.

Kata Dahnil, media memiliki peran penting sebagai pilar demokrasi. Bila perilaku media sangat afiliatatif, dikhawatirkan akan jadi ancaman serius bagi demokrasi. Dahnil pun menyebut, sikap Prabowo bukan sekadar mencari efek elektoral di kalangan pendukungnya, namun lebih kepada peran kualitatif media. [BCG]