Warning Untuk Caleg

Hentikan Politik Uang, Rakyat Bukan Barang!

Klik untuk perbesar
Politisi senior PPP Akhmad Muqowam. (Foto: parlementaria.com)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pileg dan pilpres harus menjunjung tinggi etika politik. Ini penting agar kualitas Pemilu 2019 bisa lebih baik. Terpenting, rakyat atau pemilih jangan dijadikan barang, yang bisa dibeli. Demikian politisi senior PPP, Akhmad Muqowam kepada Rakyat Merdeka.

Di tahun politik, jelas Muqowam, tatanan moral berpolitik idealnya harus dikedepankan semua pihak yang terlibat di Pemilu 2019. “Jangan sampai karena ambisi mengejar kekuasaan, segala cara dilakukan dan menganggap rakyat atau pemilih seperti materi atau barang semata,” tegas Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) ini. 

Berita Terkait : Tukang Cilok Rasa Pengamat Politik

Selama perjalanan 73 tahun Indonesia merdeka, terang caleg DPR dari Dapil I Jateng ini, masih ada rakyat Indonesia belum beruntung kehidupannya. Sehingga, bila semua kandidat, baik caleg maupun capres-cawapres terus mengesampingkan moral untuk mengejar kekuasaan semata, maka sama artinya tidak paham dengan kondisi rakyat. “Dalam pandangan saya, aspek moralitas kita itu harus dikedepankan. Jangan politik hanya diidentikan pada spek kekuasaan dan materi semata.

Karena, perjalanan 73 tahun merdeka, faktanya masih ada rakyat kita belum beruntung dalam kehidupannya,” ujarnya.  Menurutnya, apabila seluruh pihak yang terlibat di Pemilu 2019 mengedepankan etika politik, maka banyak manfaat akan diterima masyarakat. Paling tidak, masyarakat selaku pemilih bisa mendapatkan edukasi politik serta proses pemilu berkualitas.

Berita Terkait : MK Hentikan 58 Gugatan Hasil Pemilu

“Tidak kalah penting adalah proses pemilu yang well educated gitu. Jangan pemilu itu bagian dari pross pendidikan politik, berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.  Edukasi itu menjadi penting hari ini. Jangan melihat rakyat sebgaai objek,” pungkasnya.


Dosen Universitas Islam Kediri, Jawa Timur, Rahmat Mahmudi mengakui, esensi pilpres dan pileg  hingga saat ini hanya dipandang secara sempit sebagai proses politik untuk menghasilkan ouput berupa pemimpin politik. Padahal, memilih pemimpin hanya sasaran antara dari target yang lebih besar. Yakni tercapainya tujuan nasional dalam mewujudkan kesejahteraan sosial. Menurut Rahmat, sukses pemilu tidak datang dengan sendirinya. Butuh partisipasi semua stakeholders untuk berkomitmen dan berupaya kuat mewujudkannya. 
 Selanjutnya