Catatan Dr. Dino Pati Djalal

2 Juta Diaspora Indonesia Mencari Caleg Berkualitas

Mantan Wakil Menlu & Penggagas Kongres Diaspora Indonesia, Dr. Dino Pati Djalal. (Foto: parlementaria.com)
Klik untuk perbesar
Mantan Wakil Menlu & Penggagas Kongres Diaspora Indonesia, Dr. Dino Pati Djalal. (Foto: parlementaria.com)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Dari semua daerah pemilihan (dapil) Pemilu 2019, menurut saya yang paling menarik adalah Dapil DKI Jakarta 2. Mengapa? Karena di Dapil DKI 2 inilah sedang terjadi pertarungan sengit yang melibatkan konstituen yang sangat unik, yaitu: para pemilih diaspora.

Baca Juga : Besok, Kongres Biasa PSSI Akan Digelar di Bali

Apa itu diaspora? Diaspora adalah semua warga Indonesia yang belajar, bekerja dan menetap di luar Indonesia. Mereka mencakup pengusaha, profesional, TKI, mahasiwa, ibu rumah tangga dan sebagainya. Jumlah diaspora yang berstatus WNI diperkirakan sekitar 6 juta orang. Kalau dianggap kota, diaspora adalah kota kedua terbesar setelah Jakarta. 

Baca Juga : Antisipasi Penyebaran Demam Babi Afrika, Kementan Latih Petugas 17 Provinsi

Menurut Komisi Pemilihan Umum (KPU), jumlah suara pemilih diaspora dalam pemilu 2019 adalah 2 juta lebih. Jumlah pemilih diaspora ini lebih besar dari pemilih di Provinsi Bangka Belitung (Babel), Bengkulu, Gorontalo, Kalimantan Tengah Kalimantan Utara, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, Riau, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Nggak menyangka kan ?

Baca Juga : Cegah Virus Corona, Jokowi: Cek Setiap Orang yang Datang dari Luar Negeri

Profil pemilih diaspora Indonesia juga sangat khas. Mereka umumnya kelas menengah, yang tingkat pendidikan dan penghasilannya lebih tinggi dibanding kalau bekerja di tanah air. Misalnya, TKI di luar negeri bisa berpenghasilan Rp 10 juta per bulan, mirip kelas menengah di tanah air. Mereka tidak mempan money politics (tidak bisa dibeli suaranya), dan memilih berdasarkan hati nurani sendiri (tidak mengikuti pilihan tokoh). Berbeda dari pemilih di tanah air, diaspora cenderung tidak “terkavling” oleh parpol-parpol, dan tidak terlibat dalam politik cakar-cakaran di Tanah Air.
 Selanjutnya