Tuding Nasionalis Diam

Grace Berani Gigit Banteng

Klik untuk perbesar
Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie. (Foto: Twitter@PSInomor11)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Baru tapi galak. Tak peduli kawan dan lawan. Semua dia “hajar”. Itulah gaya Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie. Bicara soal kepedulian ke rakyat kecil dan anti diskriminasi, politisi bekas presenter TV itu menyerang kaum nasionalis yang kerjanya cuma diam ketika ada wong cilik diinjak-injak dan hak kebebasan beragama dan berpendapat diabaikan. Politisi PDIP merasa digigit. Kader “banteng” pun balik nyeruduk Grace.

“Bagaimana mungkin disebut partai nasionalis, kalau diam-diam menjadi pendukung terbesar perda syariah?” kata Grace saat berpidato di acara Festival 11 di Medan, Senin (11/3). Dalam pidato yang berapi-api itu, Grace salah satunya menyoroti Perda Syariah yang sangat diskriminatif. Maksudnya, tidak mengakomodir kelompok agama lain selain Islam.

Berita Terkait : Situng KPU Sulit Dijadikan Kecurangan Sistemik

Dia mempertanyakan sikap partai-partai nasionalis yang diam ketika banyak kasus diskriminasi. Mulai dari kasus yang dianggap penistaan agama seperti kasus Ibu Meliana, tiga gereja disegel di Jambi, persekusi atas jemaat GBI Philadelpia, hingga kasus nisan kayu salib dipotong dan prosesi doa kematian seorang warga Katolik ditolak massa di Yogyakarta.


Dia juga mempersoalkan adanya partai nasionalis yang ikut mengambil inisiatif meloloskan RUU Pesantren dan Pendidikan Agama. Dia mempersoalkan rancangan ini karena berpotensi membatasi sekolah minggu, yang selama ini diatur secara otonom oleh gereja.

Berita Terkait : Bos PSI Dinyinyirin “Banteng”

"Lolosnya RUU ini melukai rasa keadilan umat Kristiani. Saya jadi bertanya-tanya: kenapa partai nasionalis dan Islam moderat abai dan tega meloloskan rancangan ini?," tutur Grace. PSI sebenarnya tidak perlu berdiri jika tugas dan peran partai nasionalis dijalankan dengan baik. Karena itu, dalam kondisi kekecewaan inilah PSI harus hadir. Sebab, jika hanya mengandalkan partai nasionalis, persoalan diskriminasi, korupsi hingga fasisme akan terus hadir di Indonesia.
 Selanjutnya 

RM Video