Hati-hati Dompleng Soeharto

Salah Langkah, Elektabilitas Caleg Berkarya Babak Belur

Klik untuk perbesar
Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya. (Foto: IG @yunartowijaya)

RMco.id  Rakyat Merdeka -
Caleg Partai Berkarya harus hati-hati saat mendompleng figur Soeharto untuk memenangkan Pileg 2019. Salah langkah, elektabilitas caleg partai besutan Tommy Soeharto ini justru bisa babak belur.

Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya mengatakan, caleg Partai Berkarya tidak boleh sembarangan mendompleng figur Soeharto un¬tuk kepentingan Pileg 2019. Pasalnya, Presiden ke-2 RI itu punya sisi positif dan negatif di mata masyarakat.

Sisi postifnya, Soeharto dike¬al dengan keberhasilan program-programnya. Sebut saja keluarga berencana, swasembada pangan dan puskesmas. Tapi, di sisi lain, keberhasilan program Soeharto seirama dengan sisi buruknya.

“Seperti terkekangnya kebe¬basan berpendapat, KKN, ABS (Asal Bapak Senang), utang luar negeri dan lain sebagainya,” jelas Yunarto kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta.

Baca Juga : Titiek Soeharto Sampai Fadli Zon Ramaikan Munajat 212

Menurut Yunarto, bila caleg Partai Berkarya ingin meminjam figur Soeharto, maka harus di-angkat adalah keberhasilan pro¬gramnya, bukan figur Soeharto secara umum.

“Kalau ingin meminjam ke¬tokohan Soeharto perlu penegasannya. Kalau keberhasilan program oke. Tapi, kalau hanya figurnya saja, bisa bias karena di sisi lain beliau punya sisi buruk,” jelasnya.

Yunarto menambahkan, Partai Berkarya sebaiknya membuat penegasan kepada para calegnya agar yang dijadikan bahan kampanye adalah keberhasilan program-program Soeharto. Ini penting agar tidak ada salah tafsir dari para caleg di daerah.

“Ini harus ditegaskan. Karena seperti saya katakan tadi, Pak Soeharto itu ada sisi baik dan sisi yang kurang baik. Jangan sampai jadi bias di caleg,” tandasnya.

Baca Juga : Mandalika Diusulkan Jadi Destinasi Wisata Olahraga

Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf juga mengomentari narasi rde Baru yang dijual Partai Berkarya.

Wakil Sekretaris TKN Jokowi-Ma’ruf, Arsul Sani mengatakan, narasi tersebut sah-sah saja dibawakan asal dengan kualifikasi.

Kualifikasi dimaksud Arsul adalah tentang batas mana yang baik dan mana yang buruk. “Kalau narasi yang dibawa itu program yang baik-baik, ya silakan saja, “ ujarnya.

Diketahui, untuk memenang¬kan Pileg 2019 Partai Berkarya menginstrusksikan calegnya untuk tidak ragu mendompleng figur Soharto.

Baca Juga : Breakdance Diperjuangkan Lolos Ke Olimpiade Paris 2024

“Caleg Partai Berkarya jangan bimbang dan ragu kampanye Pak Harto, lebih uenak zaman ku toh,” ujar Sekjen Partai Berkarya, Priyo Budi Santoso Rabu (21/11).
Priyo mengingatkan, zaman Soeharto ada istilah Trilogi Pembangunan. Yakni, pembangunan ekonomi, pemerataan pembangunan, dan menjaga stabilitas politik sosial dan keamanan yang mantap. Trilogi ini sama seperti dikampanyekan partai sain¬gan yakni Trisakti Bung Karno.
 Selanjutnya 

RM Video