Wiranto Nantang Prabowo Taruhan Rumah

Prabowo Ngigau, Sebut Indonesia Bakal Punah Kalau Dia Kalah

Klik untuk perbesar
Suasana acara Konfernas Partai Gerindra di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Senin (17/12). (Foto: IG @Prabowo)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Gara-gara menyebut Indonesia punah jika dirinya kalah pilpres, Prabowo Subianto dihujani kritik. Ada yang menyebut Prabowo ngigau. Ada juga yang menyebut capres nomor urut 2 ini asbun alias asal bunyi. Pendukungnya jadi sibuk meluruskan. Pidato Prabowo yang heboh itu disampaikan pada Senin (17/12) lalu. Di hadapan ribuan kadernya, Prabowo mengaku bisa merasakan keinginan rakyat yang ingin memiliki presiden baru. Kata dia, apabila keinginan rakyat tak dapat direalisasikan, negara bisa punah. Karena itu, kita tidak boleh kalah. Kalau kita kalah, negara ini bisa punah. Karena elite Indonesia selalu mengecewakan, selalu gagal menjalankan amanah dari rakyat Indonesia," kata Prabowo.

Tak butuh waktu lama, seharian kemarin, omongan Prabowo itu menuai banyak respon. Cawapres Maruf Amin tak mau percaya dengan omongan Prabowo. Indonesia tidak akan punah, memang hewan purba," kata Ma'ruf di kediamannya, Selasa (18/12). Menurut dia, Indonesia ke depan justru akan semakin kuat jika Jokowi terpilih kembali. Sebab di periode pertama, Jokowi sudah meletakkan tonggak pembangunan. Jadi para periode kedua, Jokowi bisa memperbesar, menambah, dan melakukan penyesuaian-penyesuaian. Indonesia bisa tinggal landas menuju kemandirian," ujarnya.

Menkopolhukam Wiranto juga tak percaya dengan omongan Prabowo. Sambil berseloroh, Wiranto mengajak Prabowo bertaruh. Taruhannya adalah rumah masing-masing. Jika kalah, Prabowo ditantang menyerahkan rumahnya di Hambalang. "Sebaliknya kalau Indonesia punah maka rumah saya di Bambu Apus diserahkan ke Prabowo. Tapi, kalau semua punah, buat apa lagi rumah," kata Wiranto sambil tertawa, Selasa (18/12).

Berita Terkait : Program Dokter Keliling Prabowo Sandi Disambut Antusias Masyarakat

Wiranto mengatakan, belum ada dalam sejarah modern dalam pemilu yang demokratis, seorang tokoh kalah lantas negara itu bubar atau punah. Punahnya negara mesti didahului gejala, indikasi atau peningkatan eskalasi serius yang mengancam eksistensi negara. "Nah saya jamin saat ini Indonesia baik-baik saja. Buktinya, semua event nasional dan internasional yang digelar di sini dapat dikawal dengan baik, " tegas Wiranto.

Ketum PPP Romy Romahurmuziy menyebut, apa yang disampaikan Prabowo meniru strategi kampanye Donald Trump. Salah satu cirinya, pernyataannya tak berpijak pada realita. Persis seperti apa yang disampaikan Prabowo sebelumnya soal Indonesia akan bubar di 2030. Menurut Romy, strategi ini adalah melakukan kebohongan untuk menarik perhatian masyarakat.

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengingatkan, jika terus menggunakan cara seperti ini, Prabowo bisa tenggelam di Pilpres 2019. Politik itu mendidik, politik itu memberdayakan, politik itu berpihak. Bukan mengancam, bukan menakut-nakuti, kata Hasto.

Berita Terkait : Sambut Kedatangan Prabowo, Ribuan Emak-emak Pontianak Senam Dua Jari

Politikus PDIP Eva Kusuma Sundari menilai, pernyataan Prabowo terucap dikarenakan takut kalah. Menurutnya, yang bikin punah adalah runtuhnya Pancasila, korupsi, dan hilangnya akal sehat, serta penyesatan-penyesatan pikir yang bertujuan menimbulkan apatisme, pesimisme rakyat seperti yang sering dilakukan Gerindra. "Jadi, stop asbun dan mengekor Trump, be sensible (waras) supaya NKRI tetap jaya, kata Eva.

Warga Twitter pun ramai menanggapi. Ada yang bilang bahwa negara terancam karam kalau dinakhodai Prabowo. "Jangan ngigau lagi," kata @penguntaikata. Wasekjen Gerindra Andre Rosiade mengatakan, mereka yang mengkritik Prabowo itu tak mendengarkannya secara utuh. Alias sepotong-sepotong. Andre menjelaskan, pernyataan eks Danjen Kopassus itu bertujuan memotivasi para kader untuk berjuang memenangkannya di Pilpres 2019. "Kalau Pak Prabowo bersama Bang Sandi dibilang harus menang ya wajar. Kan untuk memotivasi para kader dan relawan," kata Andre.

Pengamat Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Prof. Nanat F Natsir, menganggap wajar apa yang disampaikan Prabowo. Pasalnya, Prabowo menyampaikannya di hadapan para kader Gerindra dan relawan. Tentu sebagai ketua partai, Prabowo harus memotivasi kadernya bahwa partainya yang terbaik, sehingga menumbuhkan optimisme. Agak aneh, kalau sebagai partai oposisi justru adem ayem. Tenang saja. Misalnya dengan mengatakan, kalau partai ini kalah bangsa tidak apa-apa. "Bahasa oposisi memang harus vulgar. Tanpa kalimat vulgar, tidak bisa menjadi perhatian publik. Tidak menarik bagi publik. Padahal mereka ingin memberi alternatif," kata Nanat, saat dikontak Rakyat Merdeka, tadi malam.

Berita Terkait : Prabowo Janji Naikkan Gaji Polisi, TNI, dan PNS

Menurut Nanat, apa yang disampaikan Prabowo adalah agitasi politik. Memberi tekanan. Karena dia sedang berdiri di depan para kader yang akan menghadapi pertarungan. Oposisi harus membuat kalimat menarik. Sebagai alternatif. "Kalau melihat pidato politik dari sudut pandang ilmiah, tentu akan sulit menerjemahkannya. Mungkin tidak akan masuk," ucapnya. Nanat menyampaikan, dalam politik, mengagitasi massa adalah hal biasa. Harapannya tentu agar massa mau beralih. Dari petahana ke opisisi. "Sah-sah saja. Ini adalah cara mengecoh. Rasional atau tidak, tergantung massa," uarnya.

Pengamat Politik Hendri Satrio menilai, di masa kampanye ini kedua kubu terlalu sering mengomentari rumah tangga orang lain. Kebanyakan drama. "Sebaiknya rakyat pemilik suara tidak terpancing dan ikut-ikutan buang-buang waktu komentar hal-hal seperti ini. Prabowo kan bicara kepada internal Gerindra, ya biarlah itu jadi urusan rumah tangga Gerindra. Kalau memang itu cara memberi semangat kepada kader Gerindra," katanya.

Ketika pernyataan Prabowo ini jadi kontroversi, menurut Hendri, malah memberikan efek elektoral ke Prabowo. "Nah orang di luar Gerindra termasuk Presiden Jokowi tak perlu ikut komentar, hanya akan menambah elektoral Prabowo," sarannya. [BCG]

RM Video