Merasa Kekuatan Koalisi Cukup, Jokowi Sudah Perkasa

Klik untuk perbesar
Presiden Jokowi melambaikan tangan sebelum membubarkan Tim Kampanye Nasional (TKN), di kawasan Menteng, kemarin. Hadir juga antara lain Pramono Anung dan Hasto Kristiyanto. (Foto: Antara)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kekuatan pendukung pemerintah di parlemen saat ini sebenarnya sudah mayoritas, 62 persen. Tanpa dukungan tambahan dari kubu Prabowo pun, Jokowi sudah perkasa. Parlemen tak bisa merecoki semua kebijakan yang akan diambilnya.

Hal ini diakui sendiri oleh Jokowi. "Kekuatan kita sudah cukup," katanya. Pernyataan tegas dan lugas itu disampaikan Jokowi saat menghadiri rapat pembubaran Tim Kampanye Nasional (TKN) di Restoran Seribu Rasa, Menteng, Jakarta, kemarin. 

Jokowi yang mengenakan kemeja andalannya: putih, tiba di lokasi sekitar pukul 4.50 sore. Ketua TKN Erick Thohir ikut mendampingi. Sejam sebelumnya, anggota TKN sudah lebih dulu datang ke lokasi. Wapres terpilih Ma’ruf Amin dan para sekjen parpol seperti Hasto Kristiyanto dan sebagainya, juga hadir lebih dulu. Semuanya kompak mengenakan kemeja putih. 

Kepada para wartawan yang menunggu, Jokowi menceritakan perihal pembubaran TKN dan isu penambahan parpol dalam koalisi. Terkait penambahan partai koalisi, Jokowi belum mau bicara banyak. Kata dia belum ada pembahasan dengan partai-partai koalisi. “Sampai saat ini kita belum berbicara mengenai penambahan koalisi. Kita partai-partai pendukung belum pernah berbicara,” katanya. 

Berita Terkait : Pesawat Jokowi Mendarat Mulus Di Tengah Pekatnya Kabut Asap Riau

Menurut Jokowi, kekuatan koalisi pendukung sudah lebih dari cukup. Akan tetapi, ada atau tidaknya penambahan koalisi masih perlu didiskusikan lagi dengan partai koalisi. “Kalau tanya kekuatan yang sekarang ya sudah cukup,” ungkapnya.

Dia juga memastikan, koalisi tetap solid. Jokowi menepis isu yang menyebut ada keretakan dalam tubuh koalisi. ‎”‎Koalisi tetap rukun-rukun saja, lebih solid dari yang sebelumnya,” kata Jokowi. 

Terkait hubungan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketum Nasdem Surya Paloh, Jokowi juga bilang baik-baik saja. Menurutnya, pertemuan Mega dengan Prabowo di Teuku Umar dan Paloh dengan Anies di Gondangdia, adalah hal yang baik. Pertemuan itu untuk menjalin silaturahmi antar tokoh. ‎


”Ya beliau kan sahabat baik. Berhubungan baik sejak lama. Kalau Pak Prabowo ketemu Ibu Megawati ya biasa. Sama seperti Pak Surya Paloh ketemu Pak Anies ya biasa saja,” ungkapnya.

Berita Terkait : Jokowi: KPK Harus Diperkuat

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan hal serupa. Dia menyebut, ada pihak yang membangun opini seolah koalisi mengalami keretakan. "Ada pihak yang mencoba melakukan framing seolah koalisi tidak kompak," kata Hasto, di lokasi yang sama.

Soal komposisi koalisi ke depan, Hasto menyebut, akan diputuskan lewat dialog antara Jokowi dengan pimpinan parpol. "Kami kompak kompak semua," ujarnya.

Pengamat Politik dari CSIS, Arya Fernandes menilai tidak ada urgensi bagi Jokowi untuk menambah partai politik koalisi. Menurut dia, kekuatan koalisi Jokowi sebesar 62 persen di parlemen sudah lebih dari cukup untuk mengawal kebijakan pemerintah. 

Menurut Arya, kalau ada penambahan partai, koalisi bisa gemuk. Dan itu rentan dengan berbagai risiko. Salah satunya, ketidakstabilan internal parpol koalisi. “Kalau ada guncangan di internal, tidak mudah mengelolanya,” kata Arya, kemarin.  

Berita Terkait : Jokowi: Sadap Telepon, KPK Tak Perlu Izin Pengadilan

Dia mengatakan, ada sejumlah alasan mengapa koalisi gemuk di parlemen tidak terlalu penting. Sebagai contoh, prestasi legislasi pemerintah dalam lima tahun terakhir dinilai tidak maksimal. 

Menurut dia, agar pemerintahan sehat, selain eksekutif yang kuat, dibutuhkan legislatif yang kuat dengan hadirnya oposisi sebagai penyeimbang. “Kita gembira karena PKS sudah menyatakan sebagai oposisi. Parpol lainnya belum jelas,” ucapnya. 

Dengan kondisi saat ini, menurut dia, tidak ada keharusan bagi Jokowi untuk menambah parpol koalisi.  “Dengan mempertahankan 60 persen lebih koalisi parpol di parlemen saja situasinya relatif aman,” urainya. [BCG]