Pilih Pemain Lama, Megawati Mimpi Menang Hattrick

Klik untuk perbesar
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri (kanan), saat mengunjungi pameran foto di acara Kongres V PDIP Bali, 8-10 Agustus 2019. Mega terpingkal melihat foto dirinya yang sedang menertawakan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto yang memegangi perut karena kekenyangan usai makan siang di kediamannya, Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, 24 Juli 2019. (Foto: Bambang Trismawan/Rakyat Merdeka)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Setelah menang di 2014 dan 2019, Megawati bermimpi PDIP menang hattrick di Pemilu 2024. Tanpa merombak total para pemainnya, dan nekat memasang muka-muka lama di kabinetnya, apakah mimpi putri Bung Karno itu akan terwujud atau bakal disalip partai lain?

Pengumuman struktur kepengurusan DPP PDIP periode 2019-2024 disampaikan langsung oleh Mega di hadapan peserta kongres jelang penutupan, di Hotel Grand Inna Bali Beach, Sabtu (10/8) siang.

Secara umum, tak ada perubahan signifikan dalam struktur kepengurusan DPP PDIP. Jumlah pengurusnya masih 27 orang. 1 Ketua Umum, 19 ketua DPP, 4 kesekjenan, dan tiga kebendaharaan. Ada 1 yang baru di struktur kepengurusan PDIP yakni bidang politik luar negeri.

Sebagian besar kepengurusan pun masih diisi wajah lama. Dua anak Mega misalnya. Prananda Prabowo dan Puan Maharani, masih menjabat ketua DPP bidang yang sama dengan periode sebelumnya. Begitu juga dengan sekjen. Mega kembali mempercayakan posisi tersebut kepada Hasto Kristiyanto. Ini kali pertama Mega memilih sekjen yang sama dua periode berturut-turut.

Tiga posisi bendahara pun masih ditempati orang yang sama yaitu Olly Dondokambey, Rudiyanto Tjen dan Juliari Batubara. Mega menyebut trio bendahara ini sebagai orang jempolan. Sampai sekarang, tidak ada masalah soal keuangan. Malah, aset partai terus bertambah. Ada juga yang hanya digeser-geser. Dua wasekjen periode lalu, Ahmad Basarah dan Eriko Sotarduga naik menjadi ketua DPP.

Berita Terkait : Bertemu Megawati, Bamsoet Cs Bahas Rekomendasi MPR Periode Lalu tentang Amandemen

Hanya ada 6 nama baru yang masuk kepengurusan. Mereka adalah Tri Rismaharini (Risma), Yasonna Laoly, Said Abdullah, Arif Wibowo, Sadarestuwati, dan Bambang Wuryanto.

Nama-nama tersebut sebenarnya juga bukan anak baru. Mereka adalah kader-kader andalan PDIP. Risma misalnya, saat ini menjabat Walikota Surabaya. Bambang Wuryanto juga tak asing. Pada periode 2010-2015, Bambang pernah menjadi ketua DPP. Namun periode kemarin, ia ditunjuk Mega jadi ketua DPD Jawa Tengah.

Keberhasilan Bambang memenangkan pemilu di Jateng pada pemilu lalu, membuat Mega menunjuknya jadi ketua DPP bidang pemenangan pemilu. Mega mengakui, memang sengaja tidak melakukan perombakan kabinet yang signifikan. Ia khawatir kalau diisi wajah baru, manajemen partai jadi morat-marit. Dari pengalamannya berorganisasi sejak di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) sampai merintis karier politik di PDIP hingga jadi presiden, perombakan besar-besaran bukan sebuah hal yang baik.

Sedangkan, saat ini partai sedang memerlukan tahapan yang tepat agar semua pengurus bisa segera bekerja dengan cepat. Makanya, dia pun memilih orang-orang yang tepat yang bisa beradaptasi dengan cepat.

“Kalau enam bulan saja sudah bisa adaptasi, itu sudah jempolan, karena harus bersinergi dan tahu bidang apa saja yang ditugasi, tidak mudah,” ujarnya.

Berita Terkait : SBY dan Mega Begitu Hangat

Saat membuka kongres, Mega memang menyampaikan keinginannya kepada kader agar menjadikan PDIP sebagai partai pelopor. Artinya, menjadi yang terdepan. Dalam hal pemilu, artinya adalah partai yang menjadi pemenang pemilu tiga kali secara berturut- turut.

“Kalau dibilang hattrick, saya berharap. Saya harap itu benar-benar terjadi,” kata Mega.

PDIP memang sudah dua kali menjadi pemenang pemilu. Pada pemilu 2014 dan 2019. Pada pemilu lalu, PDIP memperoleh suara sebesar 19,33 persen atau 27.053.961 suara. Selain itu, Mega juga ingin PDIP bisa membawa negara fokus dalam menentukan arah. Baik untuk 50, bahkan 100 tahun mendatang. “Bukan ambisius, tapi harus,” ucapnya.

Pengamat Politik Universitas Paramadina Hendri Satrio mengatakan, melihat komposisi DPP saat ini, Mega tengah melakukan regenerasi parsial. Menurut dia, wajar kalau Mega yakin dengan pemain-pemain lama. Pasalnya pemain tersebut adalah tim yang membawa PDIP menang dua kali berturut- turut. Bisakah PDIP memenangkan pemilu berturut-turut?

Hendri bilang, setelah era reformasi sampai sekarang, belum ada partai yang memenangkan pemilu tiga kali berturut-turut. Tentu ini tantangan berat bagi PDIP. Karena mempertahankan kemenangan, lebih sulit dari pada merebut kemenangan.

Baca Juga : Rachel Goddard Sempat Stres Hilangkan Bekas Jerawat

Menurut Hendri, pada 2024, jumlah pemilih muda akan semakin bertambah hingga 60-70 persen. Karena itu, jika ingin menang, PDIP harus mempersiapkan program-program yang kreatif, agar bisa menampung anak milenial. Imej partai wong cilik harus bisa dikemas, agar bisa diterima anak muda yang kekinian.

Selain itu, Hendri menyebut tantangan yang berat adalah merebut suara kalangan muslim. “Jika ingin menang, PDIP harus mulai merespons isu-isu ke-Islam-an,” kata Hendri, kemarin.

Terkait hal ini, Pengamat Politik Burhanudin Muhtadi mengatakan, PDIP punya peluang untuk memenangkan pemilu tiga kali berturut-turut. Dia bilang, ada dua strategi yang mesti dilanjutkan oleh PDIP. Pertama, meneruskan tren mencetak kepala daerah yang populer di masyarakat.

“Kemenangan PDIP di dua pemilu tak lepas dari kehadiran kader terbaik partai, yaitu Jokowi yang jadi capres. Sosok Jokowi adalah kunci kemenangan PDIP di dua pemilu terakhir,” katanya.

Kedua, kata Burhan, PDIP harus merebut hati masyarakat muslim yang merupakan pemilih mayoritas. [BCG]

RM Video