Kasihan, Posisi Prabowo Cuma Jadi Bahan Tebakan

Klik untuk perbesar
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri) saat tiba di arena Kongres V PDIP di Hotel Grand Inna Beach, Sanur, Denpasar, Bali, yang berlangsung pada 8-10 Agustus 2019. (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Meski kian akrab dengan kubu Jokowi, Prabowo Subianto hingga kini belum menentukan sikap politiknya. Prabowo seperti masih gamang. Apakah akan gabung ke pemerintah, atau tetap jadi oposisi. Banyak pihak yang mencoba menebak-nebak sikap akhir yang akan diambil eks Danjen Kopassus itu. Akhirnya, Prabowo cuma jadi bahan tebak-tebakan, kasian.

Sinyal-sinyal Gerindra akan bergabung dengan pemerintah se- betulnya sudah kian kuat. Diawali dari pertemuan Prabowo-Jokowi di Stasiun MRT Jakarta dan FX Sudirman pada 13 Juli 2019, jalinan silaturahmi itu kemudian disambung dengan pertemuan antara Prabowo- Megawati 24 Juli lalu. Dan kemudian, dipererat dengan kehadiran Prabowo dalam Kongres V PDIP di Bali, pekan lalu. Tapi hingga kemarin, belum juga ada kepastian sikap Gerindra.

Guru Besar Politik UI Prof Budyatna memprediksi, Prabowo akan membawa Gerindra masuk ke dalam pemerintahan. “Prabowo itu politisi penuh keraguan. Cuma gertak sambal alias show of force saja. Ngapain ke Mahkamah Konstitusi (MK)  buang waktu dan duit, kalau ujung-ujungnya ragu mau ikut pemerintahan atau oposan," ujar Budyatna.

Plusnya ikut koalisi, tentu saja, Gerindra bakal dapat jatah kursi menteri. Tetapi, kata dia, lebih banyak nggak enaknya. “Mereka akan jadi bahan ejekan dan tertawaan masyarakat, karena sikap plin-plannya itu,” imbuhnya.

Suara Gerindra pada Pemilu 2024, bisa nyungsep. Sebaliknya, jika jadi oposisi, kemungkinan Gerindra bakal bisa kembali meraih suara banyak dalam Pemilu 2024. Minimal, kembali jadi runner up.

Prabowo pun masih punya kans untuk kembali maju menjadi capres. Atau setidaknya, mengajukan calon lain yang potensial seperti Sandiaga Uno. Kans untuk menang cukup besar. Apalagi, Jokowi sudah tak bisa maju lagi.

Berita Terkait : Datangi Kediaman Habibie, Prabowo Ucapkan Bela Sungkawa

Pengamat Politik Hendri Satrio juga punya prediksi sama. Ini berdasarkan perlakuan spesial yang diberikan Ketum PDIP Megawati kepada Prabowo dalam Kongres V PDIP.

“Jadi, memang Pak Prabowo mendapat tempat spesial dalam Kongres PDIP. Itu berarti kehadiran Prabowo memastikan akan join ke pemerintahan Pak Jokowi- Maruf,” ujar Pendiri Lembaga Analisis Politik KedaiKOPI ini.

Dia melihat keakraban Mega dengan Prabowo memberikan gambaran, keduanya akan kembali berkoalisi dalam Pemilu 2024, seperti Pemilu 2009 lalu. “Kalau Pak Prabowo bergabung ke pemerintahan, itu hampir pasti Gerindra akan berkoalisi lagi dengan PDIP pada 2024,” jelasnya.

Pengamat Politik Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago menilai, sikap Prabowo dan Gerindra belum jelas hingga kini. Pasalnya, Prabowo belum secara tegas mengambil keputusan, apakah akan bergabung dengan pemerintah atau menjadi oposisi.


Dengan belum adanya keputusan dari Prabowo, kata Pangi akan menimbulkan spekulasi dari banyak pihak, terkait arah koalisi partai berlambang kepala garuda itu ke depannya.

"Kasian, Prabowo jadi bahan tebak-tebakan,” ujar Pangi. Sebetulnya, kata Pangi sinyal kedekatan Prabowo dengan pemerintah sudah mulai terjalin, sejak pertemuan dengan Presiden Jokowi dan Ketum PDIP Megawati. Namun ternyata, sinyal-sinyal kedekatan tersebut belum juga memantapkan hati Prabowo untuk mengambil keputusan.

Berita Terkait : Rekernas Gerindra Diundur, Keputusan Arah Partai di Tangan Prabowo

Bagi Gerindra, kata Pangi, koalisi dengan pemerintah menjadi amat penting dilakukan karena telah ‘berpuasa’ lebih dari 10 tahun. “Kalau kembali beroposisi, maka puasa akan kembali berlanjut untuk lima tahun mendatang,” bebernya.

Akan tetapi, masuknya Gerindra ke koalisi pemerintah tidak akan berjalan mulus. Sebab, partai-partai pendukung pemerintah kata dia, akan sekuat tenaga menggagalkan keputusan tersebut. “Soalnya, akan mengurangi jatah kue kekuasaan, terutama di kursi menteri yang hanya berjumlah 34,” kata dia.

Solusinya, kata Pangi, Presiden Jokowi bisa memberi jabatan di luar kementerian yang sudah menjadi jatah partai pendukung. Bisa jabatan Ketua MPR, atau jabatan penting lainnya. Kendati demikian, dia lebih sepakat Partai Gerindra berdiri di luar pemerintah. Alasannya, untuk kebaikan sistem demokrasi ke depan, karena fungsi kontrol akan berjalan maksimal.

“Kalau semua kekuatan partai bergabung ke pemerintah, bisa berbahaya karena akan menjurus ke otoriter,” pungkasnya.

Pengamat Politik Lingkar Madani Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti menyebut, sejak pertemuan MRT yang ditanggapi positif oleh Dewan Pembina Gerindra, bisa dibaca kecenderungan partai itu untuk ikut serta dalam koalisi pemerintahan Jokowi-Ma’ruf.

“Saya kira, keinginan bergabung dengan pihak 01 mencapai lebih dari 60 persen. Tentu saja, sisanya tergantung pada negosiasi berikutnya. Masih ada waktu untuk saling menjajaki, apakah akan bergabung atau jadi oposisi,” tuturnya.

Berita Terkait : Setelah Esemka Diproduksi, Oposisi Minim Amunisi

Waketum Gerindra Fadli Zon mengatakan, sikap politik baru akan ditentukan Prabowo setelah mendengarkan masukan-masukan dari DPD Gerindra se-Indonesia. Masukan-masukan itu akan disampaikan dalam rakernas partai yang akan digelar September mendatang. “Nanti Pak Prabowo akan mempertimbangkan itu dengan matang,” ujar Fadli di Gedung DPR, kemarin.

Menurut Fadli, keputusan berada di tangan Prabowo. Anggota Dewan Pembina Gerindra sudah mengamanahkan kepada eks Danjen Kopassus itu. “Karena itu keputusan itu kita serahkan ke Pak Prabowo,” imbuhnya.

Di jagat Twitter, netizen juga ramai tebak-tebakan soal sikap Gerindra ini. “Gerindra mau oposisi apa koalisi nih? Mau kejelasannya dong,” pinta @ Miasm131.


Akun @zaenalkase memprediksi Gerindra bakal gabung demi 2024. “Bila gerindra mau mulus pada pilpres 2024 mereka gabung ke kubu koalisi jokowi karena besar kemungkinan partai koalisi pengusung Prabowo bakal pecah bila Demokrat mengusung AHY. Ada kemungkinan besar PKS, PAN pasti gabung ke Demokrat mengingat pada pilpres 2004-2009 mereka bersama,” analisisnya. [OKT/TIF]